Showing posts with label Lagi Mood. Show all posts
Showing posts with label Lagi Mood. Show all posts
Di depan ada film Ayat Ayat Cinta 2 yang sejak satu setengah jam lalu membuat mata tak beranjak kemana mana, sementara jarum jam yang memainkan takdirnya enggan berputar berlawanan kehendak pembuatnya. Sudah beberapa hari hujan tidak turun, sementara terik selalu setia menyapa seperti kemarin, saat ruas jalanan Jakarta dipenuhi kendaraan yang berusaha saling mendahuli namun tak kuasa mencari celah diantara himpitan kendaraan lainnya. Sementara beranjak malam, ada kumpulan mata yang tak kuasa melawan, berusaha untuk tak mengutuk kantuk di gerbong kereta. Menunggu dengan sabar hingga tubuh mereka terhempas hangatnya kasur dan selimut dibawah langit langit rumah.
Ada bayang bayang ingatan hinggap, memompa nalar berpikir jauh. Menggelitik pikiran yang entah kenapa enggan melempar senyum, bahkan berpura pura sekalipun ia enggan. Sedang merenung barangkali, menyambut Ramadhan yang akan datang untuk kesekian kalinya. Apakah akan menjadi bulan bulan biasa yang berlalu begitu saja? atau dia punya sesuatu untuk membuat syahdu dan rindu sama sama membuncah?
Belasan tahun lalu, menikmati heningnya malam malam Ramadhan, bercengkrama dengan mereka teman teman sembari membicarakan serunya puasa kala itu. Menjelang larut, belasan tubuh beradu dengan sarung diantara tiang masjid dan lantainya yang belum sempurna betul. Lalu kita sama sama terjaga saat aroma makanan sahur menggoda, membangunkan yang lelah, memaksa yang berpura pura tak suka untuk sekali lagi jujur dan menikmati lezatnya.
Saya rindu hari hari itu, saat langkah ke masjid di 10 hari terakhi Ramadhan adalah rutinitas kami. Saat tilawah hingga larut dan terbangun saat orang orang tua berbaris menikmati shalat malam mereka. Ada yang bercucuran air matanya, teramat rindu dan haru akan cinta Rabbnya, menikmati setiap sujud yang mereka sengajakan lebih lama.
Saya rindu hari itu, saat langkah ke masjid di 10 hari terakhir Ramadhan adalah hal yang selalu menyenangkan. Menyelami gurat asa orang orang tua, dengan nasehat dan hangatnya senyum mereka. Sama sama curhat tentang bacaan imam shalat subuh yang itu itu saja, tapi karenanya kami semua hafal diluar kepala. Tentang polosnya usia kami kala itu, yang hidup mengikuti dimana takdir akan berlabuh. Menurunkan jangkar, menutup layar dan bersiap beranjak esok harinya, mengulang rutinitas. Membuang waktu, atau mengisinya dengan jejak yang hari ini ingin kita ulang, andai saja bisa.
Saya rindu hari itu.
Barangkali kamu juga.
Ada bayang bayang ingatan hinggap, memompa nalar berpikir jauh. Menggelitik pikiran yang entah kenapa enggan melempar senyum, bahkan berpura pura sekalipun ia enggan. Sedang merenung barangkali, menyambut Ramadhan yang akan datang untuk kesekian kalinya. Apakah akan menjadi bulan bulan biasa yang berlalu begitu saja? atau dia punya sesuatu untuk membuat syahdu dan rindu sama sama membuncah?
Belasan tahun lalu, menikmati heningnya malam malam Ramadhan, bercengkrama dengan mereka teman teman sembari membicarakan serunya puasa kala itu. Menjelang larut, belasan tubuh beradu dengan sarung diantara tiang masjid dan lantainya yang belum sempurna betul. Lalu kita sama sama terjaga saat aroma makanan sahur menggoda, membangunkan yang lelah, memaksa yang berpura pura tak suka untuk sekali lagi jujur dan menikmati lezatnya.
Saya rindu hari hari itu, saat langkah ke masjid di 10 hari terakhi Ramadhan adalah rutinitas kami. Saat tilawah hingga larut dan terbangun saat orang orang tua berbaris menikmati shalat malam mereka. Ada yang bercucuran air matanya, teramat rindu dan haru akan cinta Rabbnya, menikmati setiap sujud yang mereka sengajakan lebih lama.
Saya rindu hari itu, saat langkah ke masjid di 10 hari terakhir Ramadhan adalah hal yang selalu menyenangkan. Menyelami gurat asa orang orang tua, dengan nasehat dan hangatnya senyum mereka. Sama sama curhat tentang bacaan imam shalat subuh yang itu itu saja, tapi karenanya kami semua hafal diluar kepala. Tentang polosnya usia kami kala itu, yang hidup mengikuti dimana takdir akan berlabuh. Menurunkan jangkar, menutup layar dan bersiap beranjak esok harinya, mengulang rutinitas. Membuang waktu, atau mengisinya dengan jejak yang hari ini ingin kita ulang, andai saja bisa.
Saya rindu hari itu.
Barangkali kamu juga.
Belakangan kita kehilangan kata kata, sekedar untuk berbagi isi hati dan menyampaikan laju naluri juga perasaaan. Sama sama kelu dan pilu, menyulam seutas benang yang membawa butir butir cerita. Katanya gelap akan mengalah pada langit yang terus menerus diteriaki bujangan jalanan di malam minggu. Mereka menengadah, diantaranya bergumam do'a dan harap agar hujan turun lebih deras saja.
Kadang kadang kita memang tidak rela, sekedar berbagi harap dan ceria pada yang tak jua menyeka air matanya, menangis meraung meraung seolah yang luka hanya dirinya dan yang terluka akan selalu dirinya.
Nun Jauh disana, ada yang mencabik takdirnya. Berharap mendapat takdirmu.
Ataukah hilang sudah gurat syukur itu?
Kadang kadang kita memang tidak rela, sekedar berbagi harap dan ceria pada yang tak jua menyeka air matanya, menangis meraung meraung seolah yang luka hanya dirinya dan yang terluka akan selalu dirinya.
Nun Jauh disana, ada yang mencabik takdirnya. Berharap mendapat takdirmu.
Ataukah hilang sudah gurat syukur itu?
Bukankah pada akhirnya kita sama sama harus memutuskan, apakah akan lari jauh meninggalkan senja yang mulai jenuh menunggu matahari. Ataukan kita memilih diam menunggu hujan bergelut dengan langit, menciptakan keheningan baru diatas drama bisunya keramaian. Barangkali memilih beranjak sejenak sambil merlupakan lara adalah pilihan, menarik simpul kehidupan baru sembari menebak nebak siapa yang pada akhirnya menyambut diujung jalan.
Katanya melupakan itu begitu beratnya, benarkah?
Dua anak itu terus berlari, diiringi senyuman dan nafas yang terengah engah. Mereka tak peduli meski berkali kali tukang becak yang kebetulan lewat mengingatkan untuk berhati hati, sambil tertawa dan membiarkan mata tuanya menikmati derap kaki anak anak itu menghilang di seberang jalan.
Langit cerah, tak ada tanda hujan akan menyapa sore itu. layang layang menukik lalu berbelok kesana kemari, memamerkan sedikit keberanian dan menantang yang siap bertanding. Sementara beberapa anak asyik menunggu, kapan kiranya layang layang itu akan membiarkan angin menyelimutinya, membawanya terbang jauh tanpa sedikitpun berontak. Mereka menunggu dengan sabar, dibawah pohon bambu beralaskan tanah yang sudah lama tak disapa hujan.
Saya suka layang layang, Aa pernah mengajari membuatnya dari kertas khusus, lem kertas, benang dan bambu yang diserut halus. ketika berhasil menerbangkannya ada rasa bangga dan senang tak terhingga. hanya karena sebuah layang layang, kita rela tertawa dan berlari lari mengejarnya.
Tiap siang dan sorenya selalu ada anak anak yang setia menunggu angin, meski kadang ceria mereka luntur saat hujan tiba tiba datang. Namun mereka begitu setia, esok atau lusa akan datang untuk menyapa angin lagi, menghiasi birunya langit dengan warna warna lagi.
Percaya atau tidak, kadang ada tangis ketika kalah beradu layang layang. Kelelahan yang tak terbayar saat harus menarik narik benang layang layang dengan kuat, kertas kertas di langit itu seolah menjadi bagian dirinya, tak rela ketika akhirnya harus membiarkan angin membawanya jauh lalu jatuh entah dimana. Layang layang, apa ia pernah meminta orang orang mencintainya?
Langit cerah, tak ada tanda hujan akan menyapa sore itu. layang layang menukik lalu berbelok kesana kemari, memamerkan sedikit keberanian dan menantang yang siap bertanding. Sementara beberapa anak asyik menunggu, kapan kiranya layang layang itu akan membiarkan angin menyelimutinya, membawanya terbang jauh tanpa sedikitpun berontak. Mereka menunggu dengan sabar, dibawah pohon bambu beralaskan tanah yang sudah lama tak disapa hujan.
Saya suka layang layang, Aa pernah mengajari membuatnya dari kertas khusus, lem kertas, benang dan bambu yang diserut halus. ketika berhasil menerbangkannya ada rasa bangga dan senang tak terhingga. hanya karena sebuah layang layang, kita rela tertawa dan berlari lari mengejarnya.
Tiap siang dan sorenya selalu ada anak anak yang setia menunggu angin, meski kadang ceria mereka luntur saat hujan tiba tiba datang. Namun mereka begitu setia, esok atau lusa akan datang untuk menyapa angin lagi, menghiasi birunya langit dengan warna warna lagi.
Percaya atau tidak, kadang ada tangis ketika kalah beradu layang layang. Kelelahan yang tak terbayar saat harus menarik narik benang layang layang dengan kuat, kertas kertas di langit itu seolah menjadi bagian dirinya, tak rela ketika akhirnya harus membiarkan angin membawanya jauh lalu jatuh entah dimana. Layang layang, apa ia pernah meminta orang orang mencintainya?
Tentang sebuah akar pohon, yang kuat dan menguatkan. yang menghujam bumi dengan teguh dan tak mudah bergeming. akar yang menopang ikatan, menguatkan pohon dan mengumpulkan kebaikan yang berserakan.
andai kita membaca kisah para sahabat Rasulullah SAW, diantara sekian banyak tokoh dan kisah yang kita baca ada satu kesimpulan yang bisa kita ambil;
keteguhan hati. keteguhan hati yang membawa Abu Bakar menemani Rasulullah SAW dalam hijrah ke madinah, lalu menjadi khalifah pertama pengganti Rasulullah SAW. keteguhan hati yang membuat Sa'ad bin Abi Waqash menjadi tameng Rasulullah SAW dalam perang uhud saat kebanyakan muslim tercerai berai.
keteguhan hati, yang membuat banyak orang berpacu dalam kebajikan.
Seringkali kita sengaja duduk di tengah malam, hanya untuk menatap keluar jendela. apakah bulan masih disana? rela begadang bersama bintang tanpa mau terusik kantuk atau malas.
lantas setelahnya, mata jadi terlalu riang meski bantal dan guling sudah lama terbuai dengkuran jangkrik di seberang jalan. kita kadang punya kisah yang hampir sama, rupanya hanya angkuh dan rasa tak rela yang membuat kita berbeda.
selamat pagi malam.
lantas setelahnya, mata jadi terlalu riang meski bantal dan guling sudah lama terbuai dengkuran jangkrik di seberang jalan. kita kadang punya kisah yang hampir sama, rupanya hanya angkuh dan rasa tak rela yang membuat kita berbeda.
selamat pagi malam.
Alhamdulillah...
cuma satu kata itu memang yang mesra meluncur setelah 3 tahun. saya insyaAllah akan wisuda bulan depan. buat saya, ummi dan bapak, juga Aa dan Teteh di rumah. ini luar biasa spesial.
luar biasanya lagi sudah 1 tahun saya mencoba berbeda, dan berubah itu memang susah. kadang kita terjebak dalam ego dan idealisme yang menyesatkan. saya kadang terlalu bangga menjadi pribadi yang menyebalkan. menjadi cermin yang berbeda.
saya melihat rumput, ia berdansa bersama butiran air, sisa hujan sore tadi.
saya cuma bisa bersyukur, bersyukur dan bersyukur...
hujan tak pernah meminta bumi menjadi basah
ketika ia terjun bebas dan menghempaskan ketakutannya
sungguh ia takut,
tapi...
hujan tak mau kering kesepian
mendengar keluhan dan peluh orang-orang
hujan kini semakin deras
sudah enggan berhenti, semakin suka ikuti irama malam
hujan jatuh cinta,
pada bintang yang berbisik di langit
pada angin yang membuat malu hatinya
dan kini hujan jatuh cinta,
pada gersang yang mulai tersenyum.
cuma satu kata itu memang yang mesra meluncur setelah 3 tahun. saya insyaAllah akan wisuda bulan depan. buat saya, ummi dan bapak, juga Aa dan Teteh di rumah. ini luar biasa spesial.
luar biasanya lagi sudah 1 tahun saya mencoba berbeda, dan berubah itu memang susah. kadang kita terjebak dalam ego dan idealisme yang menyesatkan. saya kadang terlalu bangga menjadi pribadi yang menyebalkan. menjadi cermin yang berbeda.
saya melihat rumput, ia berdansa bersama butiran air, sisa hujan sore tadi.
saya cuma bisa bersyukur, bersyukur dan bersyukur...
hujan tak pernah meminta bumi menjadi basah
ketika ia terjun bebas dan menghempaskan ketakutannya
sungguh ia takut,
tapi...
hujan tak mau kering kesepian
mendengar keluhan dan peluh orang-orang
hujan kini semakin deras
sudah enggan berhenti, semakin suka ikuti irama malam
hujan jatuh cinta,
pada bintang yang berbisik di langit
pada angin yang membuat malu hatinya
dan kini hujan jatuh cinta,
pada gersang yang mulai tersenyum.
kalau langit yang kadang berubah saja tak pernah teriak kenapa kita harus?
ada banyak awan hitam yang datang setiap saat, lagi lagi tak pernah teriak tanda tak setuju dengan jalan kisahnya.
hidup, kita bicara tentang hidup yang sudah lama membuat daun takdir jatuh, menyapa hari dan dasawarsa. kita seolah sedang dimainkan dalam dunia yang kadang kita sendiri tidak mengenalnya. dunia yang seolah asing dan membuat kita juga terasing. dunia yang menjadi idaman untuk sebagian, dan menjadi titik hina untuk yang lain. dunia ini, begitu kita menyapanya dengan senyuman, ia pun akan merangkulmu dengan tangan dan kehangatan yang bersahabat. dunia idaman, adalah duniamu sendiri.
kenapa kita harus kecewa jika hidup tidak lagi indah?
bukankah keindahan itu ada ketika kita percaya keindahan itu ada?
adakah secangkir kopi
esok pagi?
Pagi
Sepertinya engkau tak pernah membiarkan huruf berhenti bicara, lewat ayunan jemari di atas kertas putih. kau juga tak pernah biarkan lengan bisu, ia terus menari diatas kisah yang baru saja dimulai. meski tiap episode telah lalu, ternyata ia terus datang. tak bosan meski kadang senyum begitu mahal ditemukan.
Siang
Jika hari ini masih ada panasnya surya yang begitu angkuh tapi ramah, mungkin baiknya kita ulangi nyanyian hidup yang dulu pernah mengalun. lagu yang tidak indah memang, tapi cukup membuat rindu.
Sore
Bangku taman yang kosong sejak kemarin, masih menunggu lalu lalang mimpi yang sempat berhenti. tanpa alasan, ia tetap menunggu. begitu bijak dan ramah. kenapa lantas malah banyak terluka?. begitu hidup katanya, memberi kasih pada yang tak pantas. kadang kadang.
Senja
Gurat tenggelamnya surya, melukis langit. dua mata yang mengikuti masih terjaga tanpa lelah. masih menunggu saat esok menyapa rumput yang terinjak dan bangun kembali. ini akhir dari sebuah perjalanan panjang dan melelahkan.
Malam
Tak pernah lelah temani bintang, tak pernah jengah membalut rembulan. tak akan pernah berpaling meski di bagian lain ia sudah dilupakan. ia temani tidur dengan syukur dan do'a rahasiannya.
Ini tentang kertas putih yang tenggelam, menyelami sebagian perjanalan panjang. hidup membangunkannya dari mimpi, dari imajinasi penuh harap dan ke syahduan. ia membuka mata lalu tersenyum. ia kini hidup diantara dua jurang dan tebing. berotasi dengan hidupnya.
Bismillahi tawakkaltu ‘alallahi, walaa haula wala quwwata illa billah
kalau bukan karena hujan, mungkin separuh dari dunia adalah cerita tentang kekeringan.
tentang gersang yang memanaskan hidup. kita, bukan sedang bermain dalam dongeng atau sandiwara.
kita nyata dengan segala rintik dan tetesannya. hujan yang mengusik gersang kemarin, ia datang lagi didepanmu.
lalu kenapa dawai yang dimainkan sejak tadi tak pernah mau mengusik wajah?
ia bukan tak ingin, ia bergetar tapi diam. ia ingin, engkau memetiknya dengan riang. seperti hujan pada angin yang tulus berputar. menusuk dan berpaling dari gersang.
aku mencintai bersama gersang dan hujan. aku dawai yang dimainkan takdir.
senandung maaf dari white shoes and couple company masih riang mengalun.
sudah terlalu pagi untuk berteriak dengan hingar bingar pasar, naiknya BBM dan tensi tinggi pada hidup yang berdiri di depan. dengan dua tangan pada pinggangnya, menantang siapa saja yang angkuh .
hampir akhir bulan juni, ketika semalam hujan membuat romantisme langit nampak malu dengan rintik yang memang datang tiba tiba, melirik mesra pada pelangi yang tak pernah muncul lagi, entah sejak kapan mereka malu untuk mulai berbicara. bercerita tentang merah yang ingin berlari sendirian, tentang jingga yang enggan beranjak padahal ia ingin mulai berjalan juga, atau biru yang lebih nyaman bersama ombak dilautan.
orang itu memainkan curhatnya dengan nada rendah, mengulang tentang kesepiannya di dunia yang semakin ramai. andai jauh ia ingin didekatkan. itu cerita cinta pelangi pada hujan, kasmaran tiada tara, sebuah kerinduan yang memang selalu begitu. memintamu banyak memberi dan semakin banyak mengerti. tentang hidup dan dunia yang menghidupinya.
tentang keseimbangan pada keindahan...
entah sejak kapan, sajak yang berkisah tentang keabadian berputar
ia enggan beranjak begitu saja dari dunia yang temaramnya selalu membuat syahdu kita
tentang langkah yang berpaling dari perjalanan tanpa batas
tentang hidup yang sengaja menciptakan kesendirian
bahkan ketika mimpi memang selalu menghampiri
kejam, menyayat setiap denyut yang terkasih
adakah gerangan rasa rindu membalutnya?
sebuah lorong yang mengisi kehidupan dengan caranya
bermain pada rel yang mulai usang
takdir yang karenanya ia jatuh cinta
begitu mesranya mereka melambai
padamu
lalu, kembali pada kesendirian
temaran.
tak ada lagi pertanyaan saat pernyataan terlalu jelas
melukis langit dengan sejuta bintang
ia mungkin telah pergi, terlalu jauh.
untukmu mengejarnya. telalu jauh.
adalah gerangan tau pada siapa?
bahkan saat berlabuh begitu cepat
rona rona mimpi tak lagi bersautan
ia, lagi lagi temaram.
menggapai sedikit saja cinta.
ia, temaram dalam gelap.
ia enggan beranjak begitu saja dari dunia yang temaramnya selalu membuat syahdu kita
tentang langkah yang berpaling dari perjalanan tanpa batas
tentang hidup yang sengaja menciptakan kesendirian
bahkan ketika mimpi memang selalu menghampiri
kejam, menyayat setiap denyut yang terkasih
adakah gerangan rasa rindu membalutnya?
sebuah lorong yang mengisi kehidupan dengan caranya
bermain pada rel yang mulai usang
takdir yang karenanya ia jatuh cinta
begitu mesranya mereka melambai
padamu
lalu, kembali pada kesendirian
temaran.
tak ada lagi pertanyaan saat pernyataan terlalu jelas
melukis langit dengan sejuta bintang
ia mungkin telah pergi, terlalu jauh.
untukmu mengejarnya. telalu jauh.
adalah gerangan tau pada siapa?
bahkan saat berlabuh begitu cepat
rona rona mimpi tak lagi bersautan
ia, lagi lagi temaram.
menggapai sedikit saja cinta.
ia, temaram dalam gelap.
ada berapa banyak pilihan dalam hidup?
menjadi biasa, menjadi baik, menjadi sangat baik
kita hidup dalam cengkraman zaman yang gila, roda roda yang lebih cepat dari pemutarnya
jalanan yang semakin sempit, gunung yang tak lagi hijau, juga laut yang terlalu menyeramkan. ada satu titik pemberhentian di zaman ini, titik yang membuatmu menjadi manusia seutuhnya. titik yang tak mau berganti baris.
kalau hari ini mendung, bukankah esok cerah mungkin datang?
dan lusa mungkin mendung lagi bukan?
meraih kemulian dari manusia, menggenggam banyak tangan. lantas jatuh dan tersungkur.
mulia itu terlalu indah memang jika mahkotanya dimanusiakan.
"kita tak berdaya kerap kali bukan karena hilangnya kekuatan, melainkan karena kita tak tahu menghargai ketulusan. mereka yang dengan tulus menemani kita berjuang, mendo'akan dari kejauhaan, menyediakan tangannya untuk memupus letih dan kesedihan kita, terkadang kita lupakan justru di saat kita hampir menuai keberhasilan...
kita terperdaya oleh tepuk tangan yang datang dengan bergemuruh dan bergelombang sehingga kita menyangka disanalah terletak kekuatan, kita larut di dalamnya sehingga meninggalkan sahabat - sahabat yang ikhlas hatinya mengawal perjuangan kita. kita tak lagi menyukai kehadirannya karena mereka memberi nasihat di saat orang lain memberikan tepuk tangan...
sekali lagi kita salah sangka, kita mengira orang orang yang menyambut dengan wajah yang gembira adalah para kekasih yang tulus dan pendukung perjuangan yang ikhlas. kita menyangka mereka mencintai dengan sepenuh jiwa sehingga kita tak meganggap ada mereka yang dulu menjadi penolong kita. kita baru tersadar ketika mereka tak menyambut seruan kita, sebab mereka hanyalah orang orang yang sedang menikmati tontonan. tetapi di saat tersadar, tak setiap sahabat dapat kita rengkuh kembali untuk berjuang. bukan karena hilangnya kesetiaan... Bukan."
saya masih percaya bahwa setiap kita adalah yang terbaik untuk menghuni jasad ini. jasad yang sudah lebih dari belasan tahun atau puluhan tahun menjalani setiap persimpangan hidup. jasad yang bersamanya kita bermain, tertawa, dan menangis.
jasad ini, yang membesarkan kita atau kita yang membesarkannya?
jasad yang begitu setia ini tidak pernah mengeluh kan?
apa dia sudah kita perlakukan dengan baik hari ini dan kemarin?
dan hari esok yang mungkin akan jauh lebih panjang, sudahkan kita kuatkan jasad ini, agar ia tidak kelelahan?
jika jasad ini adalah diri kita yang lain, diri kita yang bisa melawan, apakah ia akan setia dengan ego kita?
pernah melihat bintang?
apa pernah dia meminta balasan untuk cahaya indah yang ia pancarkan?
apa pernah dia meminta balasan untuk cahaya indah yang ia pancarkan?
pernah melihat air?
apa pernah ia menggerutu, kala bebatuan menghalangi alurnya, ia malah tersenyum karena bebatuan membuat sungai lebih indah.
apa pernah ia menggerutu, kala bebatuan menghalangi alurnya, ia malah tersenyum karena bebatuan membuat sungai lebih indah.
pernah menyapa angin?
padahal tiap waktu ia membasuh wajah dengan kesejukannya, dan ia tidak pernah sekalipun memintamu menyapanya…
hari ini, saya teringat 2 hari 2 malam dalam sebuah perkemahan pramuka, dulu namanya persami, perkemahan sabtu minggu. setiap malamnya hujan turun deras, di malam yang entah malam keberapa hujan turun lebih deras, tenda kebanjiran karena lapangan tempat kami berkemah tergenang air. tapi tidak ada satupun anak yang mengeluh lebay meski tubuhnya kebasahan dan badan menggigil kedinginan, hanya celotehan biasa yang keluar dari mulut kami yang sejak hari pertama perkemahan makan dengan menu amat sederhana tetapi berkesan dan istimewa. entah kenapa hari itu saya bangga menjadi seorang anak pramuka.
esoknya bagian yang paling seru, mencari jejak menyusuri sungai kecil dan perkampungan. dibagian awal kami harus berenang di sungai, dengan syarat kepala tidak boleh tenggelam. dan lagi lagi semuanya tertawa, meski kami tau perkemahan ini adalah lomba memperebutkan sebuah penghargaan.
di akhir pengumuman, entah bagaimana caranya kami mendapat juara ke 3, padahal saat mencari jejak kami terbagi dua kelompok, satu kelompok sukses sampai akhir, sementara kelompok yang lain yaitu kelompok saya berikut ketua kelompoknya tersasar dan kembali ke titik awal, penyebab kelompok kami terpecah menurut saya karena3 hal; ‘egois, leadership tanpa ilmu, dan sombong’, akibatnya rafia merah yang menjadi tanda jalan malah membuat kami tersesat. Esoknya sebuah piala besar nampak angkuh berdiri di ruangan kepala sekolah. hingga hari itu hanya ada 2 piala yang pernah sekolah kami dapatkan. ya, cuma 2 sepanjang sejarah sekolah itu.
saat itu mungkin yang namanya prestise tidak begitu penting untuk kami yang masih anak anak. saat lomba baris berbaris kami datang dengan keterbatasan, penampilan yang acak acakan, kalah, malu, tapi tetap tertawa. tetap ingin tampil lagi, meski memang penampilan yang acak acakan membuat kami saling menyalahkan.
hari ini saya menemukan sesuatu yang lain, pada diri saya, pada orang orang sekitar, pada setiap jalan jalan yang saya lewati. hampir semuanya mengharapkan imbalan, ada yang mengaku ikhlas, tetapi ketika tersakiti ia enggan untuk kembali, ada yang punya fasilitas tapi enggan untuk memulai jejaknya di jalan yang dulu membesarkannya. tetapi yang banyak memiliki keterbatasan malah tetap istiqomah, meski kadang berjuang sendiri, meski kadang ia yang paling sering tersakiti. ia mengajarkan saya keikhlasan bukan dengan ucapan atau obrolan teoritis.
ketika yang lain pergi dan kembali, ia tidak pernah bertanya mengapa, tidak pernah memarahi, tidak pernah menyindir. ia dengan sabarnya memandang kami dengan sejuk, merangkul dengan hangat, membisikan syair semangat masih dengan wajah dan tatapan yang sama, masih dengan senyuman dan segenggam cinta yang sejak dulu ia jaga.
cinta itu ia jaga bukan dengan amarah saat yang lain menghina jalan yang ia jejaki, bukan dengan kata kata kasar saat yang lain bermain main di lingkaran yang simpulnya ia kuatkan, bukan dengan pukulan telak saat yang lain berpaling dan enggan kembali meski ia merasa dikhianati.
dia itu kawan, dirimu, diri kalian, diri yang dalam jiwanya tertanam kuat ke ikhlasan, yang dalam tangannya garis garis takdir kokoh berdiri, yang dalam jejaknya bingkai kehidupan dimulai. dia itu, kamu, kalian, dan mereka.
Ramadhan ini, mungkin banyak jamaah
di masjid dekat rumah yang merindukan sosok itu. Sosok yang pernah terjatuh
kala shalat tarawih masih berlangsung di suatu malam. Hari itu saya persis ada
di belakangannya atau mungkin berdiri di
sampingnya. Ketika ia jatuh, ia tidak lantas membatalkan shalat tapi
memperbaiki duduknya agar nyaman dan melanjutkan shalat tarawih berjamaah. Bukan
satu atau dua kali itu terjadi, di malam yang lain hal serupa masih terjadi, Allahu
Akbar, sosok itu masih setia tarawih berjamaah di masjid meski bacaan surahnya
1 juz per malam, atau 1-2 lembar Al-Qur’an tiap 2 rakaat yang bagi saya lumayan membuat kaki pegal. Sosok itu tetap
begitu, melemparkan senyum pada jamaah lainnya dan tetap berusaha khusyu’ dalam
shalatnya meski ia sedang sakit parah.
Dari cerita yang saya dengar,
sosok itu begitu mencintai keluarganya. Jika ia mendapat masalah di kantornya
ia akan segera menelepon istrinya, dan sang istri akan menasehati dengan bahasa
dan tutur kata yang sangat indah. Begitu juga sebaliknya ketika sang istri
mulai jengkel dengan polah anak anak dan tetangganya, ia akan segera menelepon
sang suami, lalu meminta nasehat dan wejangan. Sang suami dalam kondisi apapun
dengan sabar menerima keluh dan kesah istrinya hingga sang istri mula tenang
dan kembali tersenyum sabar.
Bukan satu atau dua kali, saya
melihat sosok itu dibonceng istrinya.
Keduanya selalu tampil dengan senyum yang
khas, raut kesabaran yang selalu mencul meski sang suami sedang sakit parah. Saat
sang suami bekerja, sang istri mengaji di rumah, ia ingin menjadi ibu yang
dicintai anak anaknya. Sang istri yang masih terbata bata kala membaca Al-Qur’an
mulai rutin belajar, dan sejak ia menikah Jilbab itu tak pernah terlihat memendek,
jilbab itu menjadi ciri khas baginya dan bagi muslimah lainnya. Suatu ketika
sosok itu diamanahi menjadi ketua RT, sang istri tekun dengan amanah ibu RTnya,
saat sang suami sibuk ia tidak canggung memutari lingkungan RT untuk bertemu
dengan warganya yang membutuhkan, meski sebenarnya ia pun harus mengurusi anak
anaknya yang masih kecil.
Sosok itu, meninggal dunia dengan
ribuan kisah yang tak pernah sama, ribuan jejak yang menyeret tanya dan
kekaguman pada sesosok hamba Allah yang dicintai banyak orang. Sosok yang
begitu sabar.
Sang istri tidak berubah, meski
kini ia ditinggal separuh jiwanya ia tetap berlalu lalang dengan motornya,
mengantar anak anaknya sekolah, tetap mengaji, dan tetap menjadi pribadi yang
baik dan dicintai teman temannya.
Sosok itu tidak muncul di FTV,
sinetron atau dalam novel best seller karya novelis ternama, ia muncul disini
di layar dunia yang nyata.
Begitulah Allah menggambarkan
kesabaran dalan hidup yang kadang tidak saya hadapi dengan sabar.
Bismillah
00:37
saya masih terjaga...
laptop ini masih sabar menemani saya mengerjakan beberapa tugas kecil yang jika dilewatkan akan menjadi masalah yang besar.
beberapa hari terakhir saya hanya bisa tidur 2-2,5 jam tiap malam. meski kadang ditambah tidur siang yang juga gak terlalu lama.
malam ini saya sedang memimpikan sesuatu yang besar, tentang perubahan yang sebentar lagi mendatangi siapa saja yang mendekatinya.
dulu, ada seorang yang temperamental, seorang yang labil tapi keras kepala, lalu ada seorang yang polos tanpa warna. ketiganya lelaki. banyak yang menjadi saksi bagaimana mereka berubah dalam kungkungan mentoring dan rohis sekolah. tanpa paksaan, tanpa embel embel kekerasan, semuanya berjalan sangat alami. ketika mereka lulus, mereka pergi dan meninggalkan 'apa yang membuat mereka seperti sekarang', tanpa pernah kembali, sekalipun tak pernah kembali.
si polos, hanya si polos yang tersisa sendirian. setiap pekan kembali ke sekolah bertemu dengan dunia yang dulu membesarkan otot otot perubahan, meluaskan pandangan keilmuannya, menyegarkan semangat yang beberapa kali bertarung sengit dengan rasa malas yang kadang lebih hebat. namun ia terkejut, saat yang dia hadapi adalah dunia yang baru, bukan dunia yang dulu mendampinginya selama 3 tahun. dunia itu kini diisi problematika yang lebih berat, sikap dan sifat yang lebih kompleks, perubahan yang cepat dan rasa menghargai yang tak lebih besar dibanding ketika ia dulu begitu menghormati orang orang yang membesarkannya.
hari ini ia dibilang kolot,
meski kata kata itu muncul hanya di sela obrolan adik adiknya
hari ini ia dibilang harus gaul, harus mengerti karakter remaja masa kini
tiap kali ia mendengar itu semua ia hanya tersenyum, tak pernah marah karena ia tidak seperti saya, tak pernah berontak karena ia tidak seperti teman saya, tak pernah mengklarifikasi kehebatannya pada dunia yang mengejeknya.
ketika ditanya mengapa...
jawabnya,
"mereka itu kan sebentar lagi menjadi saya, dan saya pada akhirnya hanya bisa mengajari mereka dengan ini, kalau hujan itu membuat bumi menjadi basah, maka saya ingin membuat kesabaran dan kerja keras saya selama ini membuat mereka lebih sabar dan lebih bekerja keras dari saya, agar mereka siap ketika menghadapi jelmaan diri mereka sendiri yang tentunya lebih merepotkan.kalau hari itu tiba semoga saya bisa mereka mengerti"
dan hari ini ia masih memandangi saya dengan cara yang sama seperti dulu, meski ia tidak lagi disini.
Abu Bakar
ash-Shidiq, menasehati;
“kegelapa itu ada
lima, masing masing ada penerangnya. Dosa adalah kegelapan, penerangnya adalah
tobat. Kuburan itu kegelapan, lenteranya adalah shalat. Timbangan mizan di hari
akhir itu kegelapan, lenteranya adalah Laa
Ilaaha Illallaah. Shirath, jembatan di hari akhir itu kegelapan, penerangnya
adalah keyakinan dan iman. Akhirat itu sendiri gelap, penerangnya adalah amal
shaleh.”
“Tugas kita adalah menyalakan lilin, bukan mencela
kegelapan”
-Anis Matta-
Gelap?
Hidup manusia,
siapapun dimanapun mungkin akan mengalami sisi gelap, kelam, dalam hidupnya. Hidup
yang rumit dengan kerumitannya. Meski saya sendiri masih yakin gelap itu tidak
ada, karena gelap itu muncul ketika tidak ada cahaya yang terpancar. Lantas
jika cahaya selalu ada, maka gelap tidak ada. Jadi seperti kata Anis Matta,
nyalakanlah lilin, kalau perlu bawa dan nyalakan juga lampu emergency yang
biasa digunakan saat mati listrik agar lebih terang, dan jangan sekali kali
mencela kegelapan. Ya memang argumen saya ini bukan penggambaran kehidupan yang
mendalam.
Kadang kala gelap
itu membuat potensi yang kita miliki seolah tak berarti, minder tingkat tinggi
hingga depresi yang menjadi jadi.
Beberapa tahun
lalu,kang Zein el Fuad pernah membedah bukunya di SMA 6. Kalo dipikir pikir,
saya masih gak ngerti bagaimana cara koordinator syiar kala itu bisa punya link
ke kang Zein. Itu kesekian kalinya acara rohis yang sifatnya general dihadiri
banyak orang, bedah buku yang bikin saya sumringah karena yang datang mengikuti
kegiatan hari itu pulang dengan aneka wajah ceria, lengkap dengan keyakinannya
masing masing tentang cara menginterpretasikan apa yang mereka dapat hari itu.
Merotasi hidup,karena hidup memang terus berotasi. Gelap kala itu membuat saya
tidak yakin kang Zein mau datang ke SMA 6, begitulah cara gelap menutupi
potensi. potensi tentang kepercayaan, potensi untuk memahami setiap jengkal
takdir. potensi yang kerkubur gelap,
sudah waktunya kembali pulang.
Rotasi hidup.
Membuat gelap dipandang dengan cara berbeda, dulu ketika banyak teman punya
sepeda saya mengeluh lantang pada ummi dan bapak. Saya ingin sepeda. Suatu hari
ketika akhirnya saya bisa memilikinya,sepeda itu malah hilang dicuri orang
tidak lebih dari 3 hari setelah saya miliki. Rasa sesalnya luar biasa, punya
sepeda meski bukan baru dan hilang begitu cepat bikin semangat naik turun.
Ketika pulang ke rumah, hanya ada tangisan khas anak kecil yang disambut amarah
luar biasa dalam sidang di hadapan majelis orangtua dan kaka.
Mendewasakan
pikiran sangat bermanfaat untuk belajar mengerti Rotasi hidup dalam kegelapan,
membuat cara berpikir menjadi berbeda. Kalau sepeda hilang mungkin belum
waktunya saya punya sepeda, Allah belum yakin untuk memberikan saya sepeda.
Ketika gak punya laptop padahal sangat membutuhkannya, lagi lagi saya mencoba
berpikir positif, Allah belum yakin laptop itu akan saya gunakan dengan baik.
Memang selalu demikian, banyak tulisan maupun wejangan dari banyak orang; Allah
akan memberi apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan.
Sudah waktunya
mengenal dan memahami kegelapan, karena ia tidak selamanya buruk, tidak
selamanya menyusahkan, tidak selamanya seram, dan pasti tidak selamanya akan
gelap.
Kadang gelap itu memang menakutkan. Tapi rasanya pada kondisi tertentu terang pun tak
kalah seram.
Yang jelas jangan
pernah jadikan gelap sebagai penghambat potensi, karena jika demikian kita
tidak akan punya prestasi.
“Prestasi membuat kita lebih percaya diri”
-Solikhin Abu Izzuddin-
Masih takut gelap?
Geser
sedikit aja, disebelah sepertinya lebih terang
kalau enggan bergeser,
nyalakan lilin atau lenteranya
nyalakan lilin atau lenteranya
















