Showing posts with label jari jari berkata. Show all posts
Showing posts with label jari jari berkata. Show all posts
kita memang gak harus hidup dalam kemewahan untuk tau rasanya jadi orang kaya. cukup berkata seperlunya, berjuang semaksimalnya, berpikir semestinya dan bersyukur tiap detiknya. orang kaya itu yang punya harga diri untuk bersyukur.
hidup lagi-lagi berubah cepat, diantara kita ada yang masih diam dan termenung sejak musim hujan ini datang.
bahkan di kota hujan ini, badai dan kilat yang begitu besar membuat penghuninya ketakutan.
adakah kita benilai di hadapan ketakutan itu?
kalau bukan karena hujan, mungkin separuh dari dunia adalah cerita tentang kekeringan.
tentang gersang yang memanaskan hidup. kita, bukan sedang bermain dalam dongeng atau sandiwara.
kita nyata dengan segala rintik dan tetesannya. hujan yang mengusik gersang kemarin, ia datang lagi didepanmu.
lalu kenapa dawai yang dimainkan sejak tadi tak pernah mau mengusik wajah?
ia bukan tak ingin, ia bergetar tapi diam. ia ingin, engkau memetiknya dengan riang. seperti hujan pada angin yang tulus berputar. menusuk dan berpaling dari gersang.
aku mencintai bersama gersang dan hujan. aku dawai yang dimainkan takdir.
ada berapa banyak pilihan dalam hidup?
menjadi biasa, menjadi baik, menjadi sangat baik
kita hidup dalam cengkraman zaman yang gila, roda roda yang lebih cepat dari pemutarnya
jalanan yang semakin sempit, gunung yang tak lagi hijau, juga laut yang terlalu menyeramkan. ada satu titik pemberhentian di zaman ini, titik yang membuatmu menjadi manusia seutuhnya. titik yang tak mau berganti baris.
kalau hari ini mendung, bukankah esok cerah mungkin datang?
dan lusa mungkin mendung lagi bukan?
meraih kemulian dari manusia, menggenggam banyak tangan. lantas jatuh dan tersungkur.
mulia itu terlalu indah memang jika mahkotanya dimanusiakan.
"kita tak berdaya kerap kali bukan karena hilangnya kekuatan, melainkan karena kita tak tahu menghargai ketulusan. mereka yang dengan tulus menemani kita berjuang, mendo'akan dari kejauhaan, menyediakan tangannya untuk memupus letih dan kesedihan kita, terkadang kita lupakan justru di saat kita hampir menuai keberhasilan...
kita terperdaya oleh tepuk tangan yang datang dengan bergemuruh dan bergelombang sehingga kita menyangka disanalah terletak kekuatan, kita larut di dalamnya sehingga meninggalkan sahabat - sahabat yang ikhlas hatinya mengawal perjuangan kita. kita tak lagi menyukai kehadirannya karena mereka memberi nasihat di saat orang lain memberikan tepuk tangan...
sekali lagi kita salah sangka, kita mengira orang orang yang menyambut dengan wajah yang gembira adalah para kekasih yang tulus dan pendukung perjuangan yang ikhlas. kita menyangka mereka mencintai dengan sepenuh jiwa sehingga kita tak meganggap ada mereka yang dulu menjadi penolong kita. kita baru tersadar ketika mereka tak menyambut seruan kita, sebab mereka hanyalah orang orang yang sedang menikmati tontonan. tetapi di saat tersadar, tak setiap sahabat dapat kita rengkuh kembali untuk berjuang. bukan karena hilangnya kesetiaan... Bukan."
apa yang bisa kita hasilkan dari sebuah pena?
tulisan...
apa yang bisa muncul dari sebuah tulisan?
...
ada banyak tetesan embun yang jatuh setiap pagi, embun yang lantas jatuh dan malu malu saat matahari tersenyum ceria. bangganya matahari pada sinar yang tak pernah padam, hanya rotasi bumi yang sebentar saja sembunyikan hangat dan teriknya sebelum senja datang.
tiada langkah yang berhenti meski begitu perkasa, barisan jejak dan irama teratur memainkan simphony, nyanyian hidup. lagu yang tak pernah terdengar.
pernah membuka jendela saat bintang berkelip?
coba lihat dan temukan bintang mana punyamu.
tunjuk dan genggam andai bisa.
seperti kupu kupu yang hinggap di jemarimu.
dia kan terbang, dan kau pun juga.
meski kita bukan dilahirkan menjadi orang besar,
rasanya kita bisa menjadi manusia dengan manfaat yang besar,
andai kita mau...
Ada beberapa penumpang yang raut
wajahnya mulai jengah, pada sopir
angkot yang sejak tadi enggan
memacu kemudinya. Masih menunggu dan menunggu berharap ada tambahan penumpang.
Padahal diantara penumpang itu
ada yang sedang tergesa gesa, yang punya urusan penting dan tidak bisa di undur
lagi.
Ah, betapa menyebalkannya sopir
angkot ini, kalau boleh memaki mungkin sudah banyak yang memaki.
Tapi, bisa jadi ini ujian
kesabaran?
Minimal sabar untuk tidak bicara
kasar, sabar untuk ber husnuzdan. Barangkali sang sopir sedang butuh uang lebih
karena banyak keperluan, anaknya besok harus bayar uang sekolah, tagihan kredit
perabotan, listrik dan air yang harus dibayar belum lagi setoran pada si
empunya angkot, padahal pendapatan hari ini belum seberapa. Karenanya kali ini
ia ngetem lebih lama dari biasanya.
Aneh memang saya sendiri kadang
menyalahkan orang lain atas hal yang saya alami, telat kekampus gara gara sopir
angkotnya doyan ngetem atau jalanan macet gara gara perbaikan jaringan kabel
telkom atau lainnya.
Padahal mestinya saya belajar
banyak hal, berangkat ke kampus lebih awal untuk jaga jaga kalau sopirnya hobi
ngetem atau ada galian kabel dari telkom atau lainnya.
Padahal Rasulullah mencontohkan
kesabaran, beliau tidak pernah menyalahkan orang lain atas begitu banyak cobaan
yang ia hadapi. Ketika perang uhud yang mengancam dirinya karena sebagian kaum
muslimin tidak patuh pada perintah, ia sama sekali tidak menyalahkan mereka.
Jangan jangan saya telah
dikalahkan kerbau atau sapi yang selalu setia membajak sawah, padahal mungkin
bisa saja menolak.
Sabar itu memang harus sabar.
kemarin, hari ini atau esok
hitung saja berapa banyak orang yang mundur kebelakang
berapa banyak yang menggantikan dan mengisi barisan depan
mundur sejenak ingin segarkan pikiran katanya, agar ketika kembali membawa energi baru
yang bisa diinfus pada yang lain.
Rihlah (jalan-jalan) sejenak untuk mengisi kekosongan, untuk menyegarkan pikiran.
saat seorang shahabat meminta izin untuk rihlah agar ketika ia kembali dapat membawa semangat baru, jawaban Rasulullah SAW kala itu begitu indah;
"Sesungguhnya perjalanan (merantau) umatku adalah jihad di jalan Allah Azza Wa Jalla"
untuk siapa saja yang membaca tulisan saya ini, yang sudah berbulan bulan berbalut predikat ROHIS namun masih malu malu beraksi nyata, yang mentoringnya kabur-kaburan, atau ketika mentoring masih senang ngerumpi berjam-jam, atau yang belum mencari binaan, yang liqonya malas-malasan atau yang dunianya akan berganti dari putih abu menuju dunia kampus, atau untuk yang siang dan malamnya memikirkan adik adiknya, yang dalam do'anya berisi tangisan mohon petunjuk, ribuan semangat, dan dimudahkan segala urusan. siapa saja. mungkin juga anda yang telah lama tak bertatap muka menjenguk kami disini. atau juga bagi saya yang 'hanya' bisa berteriak dalam hati. apa kejenuhan itu sudah mencabik cabik semangat yang dulu pernah ditularkan? terjerumus dalam kesibukan. apakah kebanggaan akan datang saat predikat terbaik melekat namun meninggalkan barisan lemah dibelakang.
apa bangganya mundur ketika lelah, sibuk, dan hal sepele lainnya menjadi penyemangat untuk berganti barisan? dari yang terdepan menyusur bangga menjadi yang terbelakang.
”Kalau saja aku adalah Muhammad,
aku takkan turun kembali ke bumi
setelah sampai di Sidratul Muntaha”
bukankah puncak langit ketujuh begitu menggoda untuk ditinggalkan?
sang Manusia pilihan lantas turun untuk sebuah kehidupan yang penuh perjuangan, darah dan air mata.
demi sebuah impian besar, Mekkah pusat dunia, Madinah yang indah, Jazirah Arab yang damai, Persia, Romawi, dan dunia yang berselimut dzikir pagi dan petang, alunan khusyu' ayat-ayat cinta , hingga hadirnya barisan - barisan kokoh yang bersahaja di tiap sudut bumi.
jangan pernah tinggalkan, jalan cinta para pejuang. yang setiap langkahnya adalah perbaikan diri, ucapannya tak mudah diluntur hujan meski kadang pedas, tegas dan menyayat pikiran. bukankah cinta dan sayang itu tak harus selalu indah di ucapkan?
Padaku malaikat menawarkan,
”Tinggallah di langit ini, bersama syahdu sujud-sujud kami
Bersama kenikmatan-kenikmatan suci”
”Tidak!”, kataku, ”Di bumi masih ada angkara aniaya
Di sanalah aku mengabdi, berkarya, berkorban
Hingga batas waktu yang telah ditentukan.”
kalau Rasulullah meninggalkan romansa lagit ketujuh, syahdunya bertemu para nabi, kenikmatan yang teramat nikmat demi jalan panjang bernama dakwah. lantas harus malulah kita yang berniat pergi hanya karena kesepelean acara ekskul, les dan tugas dari guru, kerjaan kampus, dunia yang baru, mentor yang berganti, hingga milyaran alasan lainnya.
malulah, dengan kekosongam yang mengosongkan semangat
malulah, pada diam yang mematikan
disini, kehausan itu menjelma selebar angkasa
menunggu seseorang merangkulnya
berjajar diantara hunusan pedang
dan
busur yang beterbangan di medan laga
-----------
Ya, Ekstase. Kenikmatan ruhani. Kekhusyu’an
Jangan kau kejar rasa itu. Dia bukan Tuhanmu.
berbaktilah pada Allah dalam kerja-kerja besar da’wah dan jihad.
Menebar kebajikan, menghentikan kebiadaban,
menyeru pada iman. Larilah hanya menujuNya.
Meloncatlah hanya ke haribaanNya.
Walau duri merantas kaki. Walau kerikil mencacah telapak.
Sampai engkau lelah. Sampai kau payah.
Sampai keringat dan darah tumpah.
Maka Ekstase akan datang padamu,
ketika engkau beristirahat dalam shalat.
Saat kau rasakan puncak kelemahan diri
di hadapan Yang Maha Kuat.
Lalu kaupun pasrah, berserah..
Saat itulah, engkau mungkin melihatNya,
dan Dia pasti melihatmu..
dunia kecil bernama dakwah ini
tidak kah begitu dirindukan?
meski bukan hak saya memaksa untuk merindukan
jangan mundur sedikitpun karena barisan depan lebih menyenangkan.
hingga bosan mendengar biarlah terdengar
bergeraklah! karena tidak bergerak berarti mati.
(beberapa bait puisi diambil dari karya Muhammad Iqbal seperti yang di kutip oleh Salim A. Fillah)
aku tau guratan pena hitam ini mirip anak jaman dulu
malu malu ungkapkan perasaan yang membuncah naik ke ubun ubun
mirip bianglala yang terus berputar pelan
dalam tempo indah, mainkan simponi halus khas musik kebebasan
aku tau keningmu berkerut
ketika amplop bergaris merah muda
tiba tiba terselip di bawah buku yang sering kau bawa
ya, buku itu...
buku khas aktivis dakwah yang sejak dalam kandungan sudah kubenci
buku yang minggu lalu kulihat tergeletak di lorong kelas
tak bertuan,
ingin rasanya kucabik sampai kau lontarkan ancaman dari kutipan ayat atau hadist
buatku itu semua hanya retorika yang kalian buat
mencari kesempatan pada jalan yang sedang tren saat ini
buatku jenggot panjang teman lelaki yang kau panggil akhi itu hanya hiasan biasa
bukan aku sombong, tapi aku pun bisa punya jenggot seperti itu. apa susahnya?
apa lagi yang kalian harapkan ketika berkumpul membacakan syair yang kalian sebut firman Tuhan,
jangan buat aku tertawa, aku bisa membeli ratusan bahkan ribuan buku syair seperti itu
untuk apa lingkaran yang kalian buat seminggu sekali itu?
untuk apa berlelah lelah diskusi panjang, padahal melihat surga saja belum pernah
untuk apa kau pikirkan orang orang palestina yang setiap detik terancam hidupnya
juga untuk apa kau rela sisakan rupiah dengan iming iming pahala
buatku kau GILA!
ingin rasanya ku bakar kain yang kau sebut jilbab itu,
kain lebar yang membuatku muak,
kenapa tidak seperti perempuan lainnya?
buatku mereka lebih cantik dan menarik
hey, kenapa diam saja?
apa kau tuli seperti pemimpin bangsa ini?
atau kau merasa sudah tersesat terlalu jauh
dan mulai percaya padaku
..................................................................................
..................................................................................
..............................................................................................
.........................................................................................................
......................................................................
............................................
......................
.....
hey, gadis berjilbab
kenapa hanya kalimat itu yang kau tulis di surat balasanmu?
apa kau tak cukup pandai bermain kata
atau kau anggap aku kafir
itu sebutan untuk orang yang tak kau suka bukan?
hey, bicaralah
kenapa diam saja
apa pisau yang ku tusukkan itu terasa menyakitkan?
bangunlah
aku lupa mengatakan
aku jatuh cinta pada aturan yang kau bilang islam
lingkaran yang kau bilang halaqah
sabar dan peluh yang kau bilang jalan dakwah
syair syair yang kau bilang surat cinta dari Allah
aku memang membenci kalian
seperti aku membenci diriku
lantas
untuk apa kalian mengikuti terus
bahkan sampai disini
jangan ajari aku lagi
ritual yang kalian bilang shalat itu sudah lama aku tinggalkan
huruf hijaiyah sudah tak bisa kuhafal
berhentilah,
kenapa pria itu rela memanggulku hingga kesini
bukankah ia tak kenal padaku
jangan taburi bunga lagi di kuburanku
aku sudah tak bisa berterimakasih
malu malu ungkapkan perasaan yang membuncah naik ke ubun ubun
mirip bianglala yang terus berputar pelan
dalam tempo indah, mainkan simponi halus khas musik kebebasan
aku tau keningmu berkerut
ketika amplop bergaris merah muda
tiba tiba terselip di bawah buku yang sering kau bawa
ya, buku itu...
buku khas aktivis dakwah yang sejak dalam kandungan sudah kubenci
buku yang minggu lalu kulihat tergeletak di lorong kelas
tak bertuan,
ingin rasanya kucabik sampai kau lontarkan ancaman dari kutipan ayat atau hadist
buatku itu semua hanya retorika yang kalian buat
mencari kesempatan pada jalan yang sedang tren saat ini
buatku jenggot panjang teman lelaki yang kau panggil akhi itu hanya hiasan biasa
bukan aku sombong, tapi aku pun bisa punya jenggot seperti itu. apa susahnya?
apa lagi yang kalian harapkan ketika berkumpul membacakan syair yang kalian sebut firman Tuhan,
jangan buat aku tertawa, aku bisa membeli ratusan bahkan ribuan buku syair seperti itu
untuk apa lingkaran yang kalian buat seminggu sekali itu?
untuk apa berlelah lelah diskusi panjang, padahal melihat surga saja belum pernah
untuk apa kau pikirkan orang orang palestina yang setiap detik terancam hidupnya
juga untuk apa kau rela sisakan rupiah dengan iming iming pahala
buatku kau GILA!
ingin rasanya ku bakar kain yang kau sebut jilbab itu,
kain lebar yang membuatku muak,
kenapa tidak seperti perempuan lainnya?
buatku mereka lebih cantik dan menarik
hey, kenapa diam saja?
apa kau tuli seperti pemimpin bangsa ini?
atau kau merasa sudah tersesat terlalu jauh
dan mulai percaya padaku
..................................................................................
..................................................................................
..............................................................................................
.........................................................................................................
......................................................................
............................................
......................
.....
hey, gadis berjilbab
kenapa hanya kalimat itu yang kau tulis di surat balasanmu?
apa kau tak cukup pandai bermain kata
atau kau anggap aku kafir
itu sebutan untuk orang yang tak kau suka bukan?
hey, bicaralah
kenapa diam saja
apa pisau yang ku tusukkan itu terasa menyakitkan?
bangunlah
aku lupa mengatakan
aku jatuh cinta pada aturan yang kau bilang islam
lingkaran yang kau bilang halaqah
sabar dan peluh yang kau bilang jalan dakwah
syair syair yang kau bilang surat cinta dari Allah
aku memang membenci kalian
seperti aku membenci diriku
lantas
untuk apa kalian mengikuti terus
bahkan sampai disini
jangan ajari aku lagi
ritual yang kalian bilang shalat itu sudah lama aku tinggalkan
huruf hijaiyah sudah tak bisa kuhafal
berhentilah,
kenapa pria itu rela memanggulku hingga kesini
bukankah ia tak kenal padaku
jangan taburi bunga lagi di kuburanku
aku sudah tak bisa berterimakasih
Kau lihat Ayah...
Embun pagi hari ini
Tak sebening kemarin
Kau rasakan Ayah...
Mentari pagi ini
Tak sehangat kemarin
Kau dengarkan Ayah...
Kicau burung pagi ini
Tak seindah kemarin
Ayah...
Mau kemana kita pagi ini?
Taman bunga telah kita datangi
Lautan luas telah kita arungi
Ayah...
Tangan kekarmu
Kini tak mampu lagi
Memanjat tebing-tebing dunia
Lemah
Ayah...
Teriakanmu
Kini tak mampu lagi
Menggetarkan cakrawala
Bisu
Lihat aku ayah
Lihat!
Kemana sorot matamu
Kemana!?
Berikan tamparan kedalam nuraniku lagi
Berikan hinaan kedalam jiwaku lagi
Berikan kasih sayang kedalam hatiku lagi
Berikan!
Ayah...
Mau kemana kita pagi ini?
Tunggu aku ayah
Tunggu aku..
Di surga-Nya
Embun pagi hari ini
Tak sebening kemarin
Kau rasakan Ayah...
Mentari pagi ini
Tak sehangat kemarin
Kau dengarkan Ayah...
Kicau burung pagi ini
Tak seindah kemarin
Ayah...
Mau kemana kita pagi ini?
Taman bunga telah kita datangi
Lautan luas telah kita arungi
Ayah...
Tangan kekarmu
Kini tak mampu lagi
Memanjat tebing-tebing dunia
Lemah
Ayah...
Teriakanmu
Kini tak mampu lagi
Menggetarkan cakrawala
Bisu
Lihat aku ayah
Lihat!
Kemana sorot matamu
Kemana!?
Berikan tamparan kedalam nuraniku lagi
Berikan hinaan kedalam jiwaku lagi
Berikan kasih sayang kedalam hatiku lagi
Berikan!
Ayah...
Mau kemana kita pagi ini?
Tunggu aku ayah
Tunggu aku..
Di surga-Nya
gak kerasa sob, udah staun lulus sma, ya walaupun gw masih aja ngangur ampe sekarang,hehehe
artinya udah lama juga d'lawaks gak ngumpul bareng, maklumlah kami kan nyebar ke jogja, surabaya dan jember jadinya jarang banget bisa ngumpul. Dan sekalinya ada momen yang pas buat ngumpul bakal kita jalanin se asik mungkin. Itulah yang kita lakuin di minggu ketiga bulan Juli 2010 ini.
artinya udah lama juga d'lawaks gak ngumpul bareng, maklumlah kami kan nyebar ke jogja, surabaya dan jember jadinya jarang banget bisa ngumpul. Dan sekalinya ada momen yang pas buat ngumpul bakal kita jalanin se asik mungkin. Itulah yang kita lakuin di minggu ketiga bulan Juli 2010 ini.
berhubung sohib kita yang kuliah di jogja lagi ngambil SP jadi dia gak bisa balik ke bogor, dan akhirnya gw dan 4 orang d'lawaks yg laen memutuskan kita berangkat ke jogja buat nemuin Azhari yang lagi SP, jadi kita berangkat ke jogja ala backpacker.
dimulailah semuanya, persiapan udah mantap meskipun dengan budget yang sangat minim, gw cuma bawa duit Rp 200.000! buat 4 hari di jogja, dan belum dikurangi biaya tiket Jakarta-Jogja PP. perlu kalian tau harga tiket KA ekonomi Jakarta - Jogja Rp 35.000 ( PP Rp 70.000 ). Jadi buat hidup di jogja tinggal ada Rp. 130.000.
dari stasiun bogor gw turun di stasiun cikini, terus dilanjutin naik metromini no 17 ke stasiun Pasar Senen dan harus menunggu 3,5 jam sbelum KA ekonomi Progo berangkat ke stasiun Lempuyangan Jogjakarta. Dijadwalkan KA progo berangkat pukul 21.00 dari stasiun Pasar Senen dan tiba pukul 07.oo di stasiun lempuyangan, tapi faktanya baru nyampe jam 09.00,hha jam karet banget nih.
naek kereta ekonomi itu bner-bner harus ekonomis, jiwanya hatinya sampe duduknya juga harus ekonomis XD, padatnya itu lohh wuuhhhh...
tapi yah itu semua jadi pengalaman yg luar biasa, toh kga ada pengalaman yg bisa dibeli.
mana metromininya???
3 jam sbelum kereta berangkat
lempuyangan XD
tar disambung... lagi males ngetik hehehe
boleh aku berkata?
tolong biarkan jari-jari yang kehausan menari lagi
biarkan jiwa ini mengalir lagi disini
bolehkah?
huhh...begitu hampanya dunia
tiap aku nyalakan kotak setan itu dirumah
saraf ini berontak, tangan ini mengepal
darah ini terbakar
panas!
kamuflase dan fatamorgana
hanya itu yang menghiasinya
ghibah dan fitnah mengumbar rating terpercaya
aib orang dibukanya
lihat saja
mereka ceritakan semua
semua yang dibenci-NYA
apa jas hitam yang mereka pakai
sudah benar-benar kotor?
bisu pekat, sungguh memalukan
tolong biarkan jari-jari yang kehausan menari lagi
biarkan jiwa ini mengalir lagi disini
bolehkah?
huhh...begitu hampanya dunia
tiap aku nyalakan kotak setan itu dirumah
saraf ini berontak, tangan ini mengepal
darah ini terbakar
panas!
kamuflase dan fatamorgana
hanya itu yang menghiasinya
ghibah dan fitnah mengumbar rating terpercaya
aib orang dibukanya
lihat saja
mereka ceritakan semua
semua yang dibenci-NYA
apa jas hitam yang mereka pakai
sudah benar-benar kotor?
bisu pekat, sungguh memalukan
Hari sudah senja ketika matahari merona dan awan hitam mulai menyibakan selimutnya, bersiap turunkan hujan. Deras. Daun-daun bergoyang perlahan, mengikuti irama tetesan hujan, alunan nyanyian angin yang menerpanya tak kuasa menolak untuk ikut gembira. Gemericik hujan ini, senja ini adalah sebuah harapan untuk jiwa-jiwa yang lelah. Rindu akan seteguk air kehangatan, belaian penghilang dahaga. Menangis. Seorang kakek tersenyum sinis saat hujan mulai turun, sekali lagi ia tersenyum menantang langit. Dalam hatinya ia berteriak "mengapa tak kau bunuh saja aku Tuhan!?".
Dia masih berdiri di depan gubuknya yang paling indah, surganya. Sementara gedung-gedung tinggi menjulang dengan cakarnya yang merobek langit, menatap dengan ribuan mata angkuhnya. Menantang. Membuat sang kakek semakin kerdil dalam tubuhnya yang lusuh. kasihan.
Perlahan ia melangkah menyusuri bongkahan besi tua yang tersusun rapi. Satu, dua, tiga... entah berapa banyaknya. Banyak sekali. Besi yang menjadi saksi bisu perisitiwa kelam dalam hidupnya, ah tidak bukan hanya hidupnya tapi juga hidup ratusan orang disini, di pinggir rel kereta.
Dia masih berdiri di depan gubuknya yang paling indah, surganya. Sementara gedung-gedung tinggi menjulang dengan cakarnya yang merobek langit, menatap dengan ribuan mata angkuhnya. Menantang. Membuat sang kakek semakin kerdil dalam tubuhnya yang lusuh. kasihan.
Perlahan ia melangkah menyusuri bongkahan besi tua yang tersusun rapi. Satu, dua, tiga... entah berapa banyaknya. Banyak sekali. Besi yang menjadi saksi bisu perisitiwa kelam dalam hidupnya, ah tidak bukan hanya hidupnya tapi juga hidup ratusan orang disini, di pinggir rel kereta.
sebuah tragedi pilu, cerita tentang bintaro...
susahnya untuk terus istiqomah agar menjadi umat Rasulullah yang dirindukan,
ketika otot-otok berkontraksi batin pun terasa jengah dengan semua kebisingan dalam pikiran yang terus mengiang semakin membunuh hidupku saja, menelanjangi diriku yang berbalut dosa, hina.
jiwa terbakar kegalauan duniawi.
aku tahu ini semua hanyalah fatamorgana dunia, namun tetap saja sulit rasanya untuk tetap istiqomah. walaupun aku tahu hal yang sulit itu bukan mustahil untuk dikerjakan,,,
jari-jariku akan terus berbicara dalam bisu gerakannya, merangkai metafora, ironi dan hiperbola dalam setiap kata-katanya,
aku tak akan lelah walau jasad ini mungkin ingin menyerah,
ada sesuatu yang ingin aku gapai,
Ya Allah,,,
hamba miskin cintaMU
haus hidayahMU
lapar ampunanMU
ya Allah hati ini punya duri,
duri itu adalah nafsu,
nafsu itu penawarnya iman dan taqwa,
iman hamba rapuh, taqwa hamba semu,
duhai penguasa hati harus hamba apakan hati hamba,,,
ya Rabb, jangan KAU tambah duri lagi, satu duri saja hamba tak mampu,,,
duhai hati kau tahu aku tak hati hati dengan hatiku,,,
Astaghfirullahal'adzim,,,
ku ucapkan lagi permohonan maaf ini,
bagai manusia munafik terus saja ku berbuat dosa,
KekasihMU katakan kamilah kaum yang ia rindukan!
benarkah? pantaskah? tanya pada hatiku
saat jalan-jalan hidayah kau lebarkan dengan kasihMU,
ketika malam-malam kau sucikan dengan RahmatMU,
masih ada saja, kami, tidur pulas dan berkata dalam jiwa yg tertidur
"hari esok masih ada, nanti saja ibadahnya kita masih muda,,,"
ketika otot-otok berkontraksi batin pun terasa jengah dengan semua kebisingan dalam pikiran yang terus mengiang semakin membunuh hidupku saja, menelanjangi diriku yang berbalut dosa, hina.
jiwa terbakar kegalauan duniawi.
aku tahu ini semua hanyalah fatamorgana dunia, namun tetap saja sulit rasanya untuk tetap istiqomah. walaupun aku tahu hal yang sulit itu bukan mustahil untuk dikerjakan,,,
jari-jariku akan terus berbicara dalam bisu gerakannya, merangkai metafora, ironi dan hiperbola dalam setiap kata-katanya,
aku tak akan lelah walau jasad ini mungkin ingin menyerah,
ada sesuatu yang ingin aku gapai,
Ya Allah,,,
hamba miskin cintaMU
haus hidayahMU
lapar ampunanMU
ya Allah hati ini punya duri,
duri itu adalah nafsu,
nafsu itu penawarnya iman dan taqwa,
iman hamba rapuh, taqwa hamba semu,
duhai penguasa hati harus hamba apakan hati hamba,,,
ya Rabb, jangan KAU tambah duri lagi, satu duri saja hamba tak mampu,,,
duhai hati kau tahu aku tak hati hati dengan hatiku,,,
Astaghfirullahal'adzim,,,
ku ucapkan lagi permohonan maaf ini,
bagai manusia munafik terus saja ku berbuat dosa,
KekasihMU katakan kamilah kaum yang ia rindukan!
benarkah? pantaskah? tanya pada hatiku
saat jalan-jalan hidayah kau lebarkan dengan kasihMU,
ketika malam-malam kau sucikan dengan RahmatMU,
masih ada saja, kami, tidur pulas dan berkata dalam jiwa yg tertidur
"hari esok masih ada, nanti saja ibadahnya kita masih muda,,,"
Ya Allah aku jatuh hati,
namun aku takut jatuh pada hati yg salah,
Ya Allah aku takut hati ini,
akan membuatku lupa Cinta-MU lah yang hakiki,
Ya Allah aku mencoba tuk melupakannya,
tapi KAU hadirkan dia dalam mimpi-mimpiku,
Ya Allah, kalau ini bukanlah cinta karena-MU,
buat aku melupakannya,
aku takut kehilangan cintanya,
tapi aku lebih takut kehilangan cinta-MU
duhai penguasa hati,
berikan hamba keteguhan hati,
agar hamba tak salah memilih hati,,,
namun aku takut jatuh pada hati yg salah,
Ya Allah aku takut hati ini,
akan membuatku lupa Cinta-MU lah yang hakiki,
Ya Allah aku mencoba tuk melupakannya,
tapi KAU hadirkan dia dalam mimpi-mimpiku,
Ya Allah, kalau ini bukanlah cinta karena-MU,
buat aku melupakannya,
aku takut kehilangan cintanya,
tapi aku lebih takut kehilangan cinta-MU
duhai penguasa hati,
berikan hamba keteguhan hati,
agar hamba tak salah memilih hati,,,
"saudaraku, berikan untaian kata untukku sore ini". gadis itu menangis didepan kami,
ya, tentu saja gadis itu, memang siapa lagi
gadis yang setiap hari, menari-nari di stasiun tv, itu kata ibu kami, yang terkadang kesal dengan tingkah gadis ini.
teman kami memberikan sebuah kertas,
dan mempersilahkan dia membacanya,
lalu berkata, "maaf ukhti, kami sedang berdiskusi disini, dan jujur saja kami malu melihat pakaian ukhti ini, bisakah ukhti membacanya di rumah saja?"
sang gadis lalu berkata
"baiklah, terimakasih"
dirumah, gadis itu membuka lipatan kertas yg diberikan teman kami,
dan dia mulai membacanya
"kalian bagai permata,
sekali retak, nilainya pasti turun,
kalian bagai lentera,
bayangkan gelapnya dunia lelaki tanpa kaliand,
kalian itu indah
silahkan kalau kalian ingin terseyum,
tapi
kadang keindahan kalian semu,
silahkan kalau mau mengerutkan kening,
seyum kalian begitu manis
hmmm mungkin semanis gula,
ah tidak-tidak,
bahkan semanis madu,
manis yg menyejukan bagi kami kamu adam,
tersanjung kah kalian?
silahkan saja,
tapi
banyak dari seyuman kalian yg menggoda,
menghancurkan iman juga taqwa yg kami punya,
ya,ya,ya
tentu saja,
harta,
tahta,
dan wanita,
itulah gangguan terbesar bagi kami,
duhaiwanita
penjahatkah kalian?
pasti kalian katakan,
"TIDAK!!! AKU BUKAN PENJAHAT,"
atau mungkin kalian berkata,
"YA, TERKADANG AKU MEMANG BEGITU,
tapi aku tetap baik, tentu saja!."
duhai bidadari dunia
banggakah kalian?
dengan wajah cantik,
tapi lupa ibadah,
dengan mata sebening embun
tapi malah mengotori,
dengan jari-jari indah,
tapi lupa berdo'a,
dengan langka gemulai,
tapi tidak menapaki jejak kepada sang Illahi?
dengan tubuh sempurna,
tapi lupa bersyukur,
dengan orangtua dan saudara yg baik,
tapi sering lupa untuk berbuat baik?
jawablah
duhai kekasih,
berbahagialah,
ada kalian yg terseyum ikhlas,
saat pujian menghampiri,
walau ada dr kalian,
yg tertawa penuh dengki,
terseyumlah,
ada kalian yg bertaubat hari ini,
walau ada diantara kalian yg berkata "ah, aku tak perduli"
tapakilah jalan rabbani
walau ada diantara kalian yg
menjauhi nikmat yg abadi
duhai saudariku
wanita baik untuk lelaki baik
gapailah akhwat sejati
ya, Insya Allah"
hmmm
kami akan berbincang lagi
sore nanti
ya, Insya Allah,
kami pun ingin menjadi ikhwan sejati,
tentu saja kami ingin sekali,
agar kami layak untuk kalian, duhai akhwat sejati,
Palestine,,,,
saudara-saudara kita sedang berduka,
airmata sudahlah biasa,
bahagia?
langka!
tak ada tawa,
hanya duka,
namun tak pernah mereka berkata;
"ALLAH tak adil"
mereka selalu berkata
"ALLAH maha adil"
jiwa mereka telah penuh dengan murka,
namun,
mereka hanya bisa bedo'a
memohon keselamatan dan perlindungan dari yang kuasa,
Illahi Rabbi
mereka yakin,
janji-NYA pasti kan ditepati
suatu hari nanti,
saat nafas2 kebiadaban berakhir
saat manusia2 sabar dapat tersenyum
mereka yakin hari itu kan datang
untuk hamba ALLAH yang rabbani,,,
lihatlah klita di belahan dunia berbeda,,,
tertawa,,,
ceria,,,
kadang kita lupa,,,
besok atau lusa kita bisa saja tiada,
berpulang pada yg esa!
PASTI!
kadang klita lalai,
ibadah hanya perhiasan,
bukan sebuah kebutuhan,
MALU!!!
jutaan masjid berdiri tegak
namun tiang2nya telah rapuh,
jutaan masjid sedang dibangun,
namun tak dapat berdiri,
karena umat ini, sering lupa diri!
berkacalah kawan,
lihat dan renungkan,
masihkah kita mau begini,
lalai dan lupa pada sang khalik,
untuk apa lagi kita mengluh,
jika untuk makan tak usah bermandi peluh?
jadi mengapa kita malas?
padahal ibadah adalah nafas,
apakah kita lupa?
"Kalian adalah umat terbaik,
yang dilahirkan ke tengah-tengah manusia
untuk menyeru kepada yang ma'ruf
dan mencegah dari yang munkar,
dan beriman kepada Allah"
memang ironis,,,
karena,,,
nyatanya kita memang lupa,,,:(
saudara-saudara kita sedang berduka,
airmata sudahlah biasa,
bahagia?
langka!
tak ada tawa,
hanya duka,
namun tak pernah mereka berkata;
"ALLAH tak adil"
mereka selalu berkata
"ALLAH maha adil"
jiwa mereka telah penuh dengan murka,
namun,
mereka hanya bisa bedo'a
memohon keselamatan dan perlindungan dari yang kuasa,
Illahi Rabbi
mereka yakin,
janji-NYA pasti kan ditepati
suatu hari nanti,
saat nafas2 kebiadaban berakhir
saat manusia2 sabar dapat tersenyum
mereka yakin hari itu kan datang
untuk hamba ALLAH yang rabbani,,,
lihatlah klita di belahan dunia berbeda,,,
tertawa,,,
ceria,,,
kadang kita lupa,,,
besok atau lusa kita bisa saja tiada,
berpulang pada yg esa!
PASTI!
kadang klita lalai,
ibadah hanya perhiasan,
bukan sebuah kebutuhan,
MALU!!!
jutaan masjid berdiri tegak
namun tiang2nya telah rapuh,
jutaan masjid sedang dibangun,
namun tak dapat berdiri,
karena umat ini, sering lupa diri!
berkacalah kawan,
lihat dan renungkan,
masihkah kita mau begini,
lalai dan lupa pada sang khalik,
untuk apa lagi kita mengluh,
jika untuk makan tak usah bermandi peluh?
jadi mengapa kita malas?
padahal ibadah adalah nafas,
apakah kita lupa?
"Kalian adalah umat terbaik,
yang dilahirkan ke tengah-tengah manusia
untuk menyeru kepada yang ma'ruf
dan mencegah dari yang munkar,
dan beriman kepada Allah"
memang ironis,,,
karena,,,
nyatanya kita memang lupa,,,:(

pantaskah kita dicintai?
tentu pantas, karena smua manusia berhak mencintai dan dicintai
tapi lihat pada diri kita!
dosa berlumuran menutupi sekujur tubuh
ah, tetap saja pantas dicintai,
jika tidak pantas, lalu untuk apa kita punya hati yg setiap saat mengalunkan kata2 cinta pada hati yg kita cintai?
tidak, tetap tidak pantas,
untuk apa mencintai,
jika cinta yg kita miliki kemudian menjadi benci
Benci?, benci bagaimana?
bagaiman mungkin cinta yang suci bisa menjadi benci,
kalaupun ada yg saling membenci bukan cinta yg salah tapi orang2 yang saling mencintai itu yg salah!
tidak, tentu keduanya salah,
cintanya salah, dan orangnya juga salah,
mengapa cinta itu diberikan kepada orang yang salah dan kenapa orang yg saling mencintai tidak saling menjaga cintanya?
kenapa manusia bisa lupa kalau cinta yang hakiki itu hanya cinta Illahi Rabbi?
ALLAH SWT
kenapa begitu banyak manusia yg menyia-nyiakan cintanya,
untuk menangisi kekasihnya yg pergi,
untuk apa air mata itu jatuh,
padahal air mata itu lebih beguna jika menangisi orangtua kita yg sering kita sakiti!
tentunya tangisan kita itu adalah permohonan ampunan kepada ALLAH atas segala dosa kita pada kedua orangtua,
untuk apa rela tidak makan,
saat depresi patah hati?
padahal banyak saudara2 kita yg kelaparan,
jangankan untuk makan,
benafaspun susah,
oh Illahi
betapa bersalahnya kami ini
maafkanlah kami, jika selama ini kami lupa untuk mencintaiMU
gini klo kita berdo'a,,,
"Ya ALLAH aku pgn ini,,,
pgn itu,,,pgn ini lagi,,pgn itu lagi,,,"
"Ya ALLAH kabulkan do'a hamba ia
amien,,,"
begitu tulus dan indah dikala kita berdo'a, meminta, berharap,
pada sang khalik, khusyu' bgt dech,
Tapi kita sering lupa,,,
Seringkali kita,,,,
malas shalat,
malas mengaji,
malas beramal,
malas bersyukur,
malas mencari ilmu,
malas segala-galanya,
terkadang kita hanya meminta hak kita,
dan lupa apa kewajiban kita kepada sang pencipta yg selalu memperhatikan kita,
yg selalu melindungi kita, yang selalu menyayangi hambanya,,,,
tanpa pernah melihat
kaya atau miskinnya kita,
pintar atau bodohnya kita,
apa pernah ALLAH MALAS memberikan kita nikmat, karunia,
dan hidayahnya yg tak terhingga?
SAMA SEKALI TIDAK PERNAH!!!
KESEHATAN,
KESELAMATAN,
IBU DAN AYAH YG BAIK,
TEMAN DAN SAHABAT YG SETIA,
tak perlu kita mintapun, ALLAH memberikannya kepada kita,,,,
tapi mengapa,
sering kita lupa untuk berterim kasih, bersyukur dengan ikhlas,,,padaNYA
bukan mulutmu yg harus menjawab,,,
jawablah dengan hatimu,,,
karena hati kecilmu tak pernah berdusta,,,
kecuali jika ALLAH telah membutakan mata hatimu,,,,
"Ya ALLAH aku pgn ini,,,
pgn itu,,,pgn ini lagi,,pgn itu lagi,,,"
"Ya ALLAH kabulkan do'a hamba ia
amien,,,"
begitu tulus dan indah dikala kita berdo'a, meminta, berharap,
pada sang khalik, khusyu' bgt dech,
Tapi kita sering lupa,,,
Seringkali kita,,,,
malas shalat,
malas mengaji,
malas beramal,
malas bersyukur,
malas mencari ilmu,
malas segala-galanya,
terkadang kita hanya meminta hak kita,
dan lupa apa kewajiban kita kepada sang pencipta yg selalu memperhatikan kita,
yg selalu melindungi kita, yang selalu menyayangi hambanya,,,,
tanpa pernah melihat
kaya atau miskinnya kita,
pintar atau bodohnya kita,
apa pernah ALLAH MALAS memberikan kita nikmat, karunia,
dan hidayahnya yg tak terhingga?
SAMA SEKALI TIDAK PERNAH!!!
KESEHATAN,
KESELAMATAN,
IBU DAN AYAH YG BAIK,
TEMAN DAN SAHABAT YG SETIA,
tak perlu kita mintapun, ALLAH memberikannya kepada kita,,,,
tapi mengapa,
sering kita lupa untuk berterim kasih, bersyukur dengan ikhlas,,,padaNYA
bukan mulutmu yg harus menjawab,,,
jawablah dengan hatimu,,,
karena hati kecilmu tak pernah berdusta,,,
kecuali jika ALLAH telah membutakan mata hatimu,,,,
Popular Posts
-
minggu 28 agustus 2011 12.18 am kalo dipiki pikir gue gak ngerti kenapa jam segini gue masih bangun, rela relain ngeinstall ulang laptop sod...
-
Surat Cinta, saya memulai ini dari rasa cemas, gelisah dan gundah pada sesuatu. pada yang belum mau mengerti betapa berat dan lelahnya A...
-
niatnya cuma mw bersihin kotak doang, ehhh ternyata malah ngebuka yang gak seharusnya dibuka, kisah, ummi selalu bilang pingin punya satu aj...
-
SENANDUNG SENJA waktu tergelincir sudah tak hilang bayangan lembut jemarinya menyeka deras air mata, redakan isak tangisku. canda ...
-
Belakangan kita kehilangan kata kata, sekedar untuk berbagi isi hati dan menyampaikan laju naluri juga perasaaan. Sama sama kelu dan pilu, ...
-
Untuk Dodi 20 Tahun Lalu, Dear Dodi, apa kabar? Masih takut kalau hujan dan petir datang bergantian? Cobalah untuk menikmatinya, meski ha...
-
Ada tanda tanya besar dalam hidup, yang menjawabnya tak cukup dengan menuliskan paragraf dan alunan kata kata. Kita sedang sama sama me...







