Andai Saja

Di depan ada film Ayat Ayat Cinta 2 yang sejak satu setengah jam lalu membuat mata tak beranjak kemana mana, sementara jarum jam yang memainkan takdirnya enggan berputar berlawanan kehendak pembuatnya. Sudah beberapa hari hujan tidak turun, sementara terik selalu setia menyapa seperti kemarin, saat ruas jalanan Jakarta dipenuhi kendaraan yang berusaha saling mendahuli namun tak kuasa mencari celah diantara himpitan kendaraan lainnya. Sementara beranjak malam, ada kumpulan mata yang tak kuasa melawan, berusaha untuk tak mengutuk kantuk di gerbong kereta. Menunggu dengan sabar hingga tubuh mereka terhempas hangatnya kasur dan selimut dibawah langit langit rumah.

Ada bayang bayang ingatan hinggap, memompa nalar berpikir jauh. Menggelitik pikiran yang entah kenapa enggan melempar senyum, bahkan berpura pura sekalipun ia enggan. Sedang merenung barangkali, menyambut Ramadhan yang akan datang untuk kesekian kalinya. Apakah akan menjadi bulan bulan biasa yang berlalu begitu saja? atau dia punya sesuatu untuk membuat syahdu dan rindu sama sama membuncah?

Belasan tahun lalu, menikmati heningnya malam malam Ramadhan, bercengkrama dengan mereka teman teman sembari membicarakan serunya puasa kala itu. Menjelang larut, belasan tubuh beradu dengan sarung diantara tiang masjid dan lantainya yang belum sempurna betul. Lalu kita sama sama terjaga saat aroma makanan sahur menggoda, membangunkan yang lelah, memaksa yang berpura pura tak suka untuk sekali lagi jujur dan menikmati lezatnya. 



Saya rindu hari hari itu, saat langkah ke masjid di 10 hari terakhi Ramadhan adalah rutinitas kami. Saat tilawah hingga larut dan terbangun saat orang orang tua berbaris menikmati shalat malam mereka. Ada yang bercucuran air matanya, teramat rindu dan haru akan cinta Rabbnya, menikmati setiap sujud yang mereka sengajakan lebih lama. 

Saya rindu hari itu, saat langkah ke masjid di 10 hari terakhir Ramadhan adalah hal yang selalu menyenangkan. Menyelami gurat asa orang orang tua, dengan nasehat dan hangatnya senyum mereka. Sama sama curhat tentang bacaan imam shalat subuh yang itu itu saja, tapi karenanya kami semua hafal diluar kepala. Tentang polosnya usia kami kala itu, yang hidup mengikuti dimana takdir akan berlabuh. Menurunkan jangkar, menutup layar dan bersiap beranjak esok harinya, mengulang rutinitas. Membuang waktu, atau mengisinya dengan jejak yang hari ini ingin kita ulang, andai saja bisa.

Saya rindu hari itu.
Barangkali kamu juga.

No comments:

Post a Comment