Gurat Asa

Kadang kadang, membuncah rasa adalah kekejaman yang paling menyakitkan. Menderu deru menyusuri aliran darah, membayangi hari hari meski lelah, menghujani malam malam meski sudah kuyup seharian. Yang tak nampak dihadapan jadi tanda tanya, yang nampak jadi cara mengucap dan bicara.

Apakah reda sore ini adalah pertanda hujan telah berjanji tak akan datang lagi?
Meski gersang mengalun mendayu berharap hujan bertahan lebih lama, ia jatuh dari atas puncak rasa rindu, tersungkur merasuk rasuk bergumam, hujan mulai tak setia.

Ada malam yang mengusir terik tadi siang, menghadirkan sunyi yang rupanya lebih banyak dicintai, kadang kadang. Ia kini tau dan mengerti terusik itu ternyata tak selamanya menjemukan. 

Gurat asa, menggurat diantara rasa, berlarian menghampiri ranting dan daun yang turun bersamaan, menghempaskan diri sambil membisiki angin yang lebih dulu menyambutnya penuh mesra. Jauh disana, kejora mengintip iri saat tak mampu membersamai angin dan dedaunan, andai bisa ingin ia melompat dari takdirnya sendiri. Ia tau, yang menyakitkan mestilah tak pernah dilakukan. 






No comments:

Post a Comment