Hudan, berdiri disamping pintu dan kereta yang ditumpanginya melaju perlahan. Sementara saya mematung kebingungan sembari menunggu kereta Ekonomi AC di jalur ini berangkat. Terlambat beberapa detik saja, padahal Aa sudah mengatar ke Stasiun Bogor dengan motor Suzuki Thundernya.
Beberapa jam kemudian, saya setengah berlari setelah turun dari metro mini sambil sesekali menatap kertas yang berisi nomor meja yang akan saya duduki. Duduk di barisan terdepan, persis di depan para pengawas yang berdiri di setiap baris dan shaf, tentu saya menebak nebak siapa kiranya yang begitu berani mencontek hari itu. Rasanya tidak ada.
Bersama Hudan dan Dio, kami mengiringi asa untuk mengikuti ujian masuk Sekolah Tinggi Akuntansi Negara yang kini berganti nama menjadi Politeknik Keuangan Negara STAN. Lalu takdir Allah pun memberi kami kesempatan untuk melanjutkan hidup di tempat lain. Maka hari itu saya belajar bahwa jodoh memang demikian adanya, tak melulu yang kita tunggu, tak selalu yang kita hadirkan dalam doa' - do'a dan impian.
Allah, dengan rahasianya juga membuat saya mengikuti ujian masuk Universitas Indonesia dan lagi lagi saya belajar bersyukur atas apapun yang saya dapatkan dari usaha-usaha yang lalu. Belajar dan mengingat kembali, tentang jodoh yang hadirnya dalam banyak bentuk dan rupa. Apakah ia tentang tempat dimana kita harus duduk sembari mendengarkan dosen, atau tempat dimana kita menunaikan ikhtiar dalam menggapai rezeki untuk mencukupi kebutuhan sehari hari. Lebih jauh, apakah jodoh itu adalah sosok yang kita harapkan saat usia tak sungkan mengingatkan bahwa mungkin waktunya sudah tiba, mempersiapkan dan mengikhtiarkan mencari kembaran rasa. Dikala gagal dalam menggapainya, bolehlah sedikit kecewa tapi jangan larut dan merana.
Andai dalam proses mencarinya, ada jalan berliku nan terjal. Menanjak, membuat tubuh rasanya tak mampu hingga ribuan kali berpikir untuk mundur saja. Tidak kah kita sedikit berpikir jangan jangan inilah jalan menuju jodoh yang ikatannya menggetarkan Arsy itu?
Tidak pula kah kita berpikir kalau inilah jalan yang diridhai-NYA itu.
Saat undangan pernikahannya datang, tak ada ungkapan rasa yang bisa saya utarakan pada Jono. Teman SMA dalam perjalan Bogor - Yogyakarta tahun lalu, persis setelah Ramadhan. Lebih dari 8 jam perjalanan itulah kami berbagi kisah dan cerita tentang betapa banyaknya pilihan, ujian dan pertanyaan pertanyaan yang hinggapnya bertubi tubi.
Kalau kita mengira, beratnya beban hidup hanya kita yang merasa. Jangan-jangan ada syukur yang sudah lama kita lupakan, atau boleh mungkin kita sekedar mengira ngira ada bahagia yang datangnya sudah tak akan lama lagi.
Berat rupanya, sekedar mempersiapkan diri dan hati, lalu jujur bukan hanya pada lisan tapi jua dalam perbuatan. Jangan jangan, ada yang merindukan kita duduk lebih lama saat bermunajat memohon jawaban atas segala risau dan pertanyaan. Mungkin DIA rindu juga melihat kita lebih bersemangat memperbaiki diri untuk kini dan nanti.
Barangkali, jawaban atas do'a mu itu, yang hadirnya tak begitu kamu inginkan namun ialah takdir terbaik untukmu dan untuknya.

No comments:
Post a Comment