Senja

Bulan Ramadhan sudah berjalan hampir setengahnya, dan Ramadhan kali ini memang jauh berbeda dari Ramadhan sebelumnya. Beberapa hari di Ramadhan ini saya habiskan menemani Bapak di Rumah Sakit. Saya, dengan segala bentuk kedekatan dengan Bapak di hari hari itu toh masih merasa belum menjadi anak yang berbakti. Saya selalu suka cara Allah memberikan kejutan kejutan dalam kehidupan, hal hal yang tidak disangka apapun itu tentu harus kita syukuri, andai kejutan itu adalah musibah yang menimpa mungkin kita memang diberikan kesempatan untuk memperbanyak istighfar dan memohon ampunan. Kalau bentuk kejutan itu adalah kebahagiaan, semoga ia tidak menjadikan kita sombong, angkuh lalu lupa untuk bersyukur.

Malam pertama pasca operasi, suster meminta saya menemani Bapak, memeriksa kantung infus yang setiap 3 jam harus diganti dengan yang baru. Malam malam berikutnya setelah Ummi datang, saya memilih menikmati malam di teras Masjid, mencoba terlelap diantara deru kendaraan yang melaju, lalu lalang nyamuk dan sunyi yang lebih banyak mengalah pada bisingnya obrolan di seberang pagar Masjid.   



Barangkali, malam malam itulah yang membuat saya semakin yakin. Saya belum siap kehilangan siapapun dari keluarga ini. Meski jarangnya bertatap wajah, tak membuat hati kita berjauhan, selalu ada mesra yang dititipkan diantara tangan yang menengadah memohon ampunan dan kebaikan. Ya Allah, surga itu luas kan? Kami ingin bertemu kembali disana.

Disela canda dan obrolan saat suster berlalu setelah menyapa dan memeriksa kondisi Bapak,

"nah, itu tuh calon mantu Bapak" Celotehnya.
"Yang mana?"
"itu yang barusan"
"Suster? ah engga mau"
"kenapa emang?"
"ya engga mau aja" Tutup saya.

Itu barangkali sentilan dalam canda, mengingatkan bahwa saya adalah yang terakhir.
Kadang kadang saya lupa kalau usia sudah seperempat abad dan terus bertambah, terlalu sering berkumpul dengan adik adik di SMA memang seringnya membuat lupa kalau hidup sudah dekat dengan senja. Bukankah kematian tidak menunggu tua? tidak memandang usia.

Malam ini, sekali lagi saya memohon maaf pada yang sudah terlalu sering tersakiti. Senja.

No comments:

Post a Comment