Saya percaya saat saya berhenti menulis adalah pertanda ada yang salah dengan diri saya sendiri. Entah karena gagal membagi waktu atau terlalu sibuk dengan banyak hal tanpa menyempatkan waktu untuk rela menulis meski sedikit.
Aa dan Teteh adalah orang yang paling berjasa mengenalkan saya pada tanda baca dan barisan alfabet, dulu saya suka berulang membaca kamus Bahasa Inggris meski saya tak mengerti artinya, saya juga setia berulang kali membeli koran yang lewat di depan rumah saat belum bisa membaca. Hingga Aa mengajari mengeja huruf demi huruf dengan caranya, kadang kadang dibentak, kadang kadang ditampar meski pelan. Tapi kini tak ada rasa sakit hati pada caranya mengajarkan.
Dua Teteh dan dua Aa yang Allah hadirkan dalam hidup saya adalah malaikat yang mengiringi kasih sayang Ummi dan Bapak, maka saya tak pernah punya alasan untuk berhenti mencintai mereka dan anak anaknya. Warisan keluarga yang Allah takdirkan membumi bersama kami.
Teteh adalah wanita yang tak pernah bosan memberi kecupan mesra sebelum saya tertidur pulas. Sambil pura pura terpejam, saya selalu menunggu ciuman lembutnya yang hinggap di kening setiap berganti malam, lalu tersenyum saat teteh menghilang kala menutup pintu kamarnya. Barangkali saat itulah saya berjanji tak akan pernah berhenti mencintainya seperti ia membagi ketulusan dalam dekap dan kasih sayangnya.
Teteh yang lain, teman setia berebutan remote TV, saling menjambak rambut dan mencubit demi menonton sesuatu yang disukainya, tapi pernahkah ia berhenti menanyakan kabar si kecil ini kala wajah kami terpaut jarak dan waktu?
Lalu, Aa adalah yang meninggalkan saya diatas setumpuk tanah ditengah danau buatan, danau yang muncul saat tambang pasir ditinggal dan menjadi hamparan air yang luas. Ia mengancam akan pergi meninggalkan jika saya tak mampu berenang sendiri ke tepian. Sekuat tenaga, menggerak gerakkan kaki dan tangan beriring degup jantung dan darah yang terpompa semakin cepat, saya sampai ke tepian. Bertahun tahun kemudian pernah kah saya mendapat nilai jelek dalam tes renang? sepertinya tidak pernah.
Siapakah lelaki yang pada masa remajanya setia membonceng adik kecilnya menyusuri perkampungan, gang demi gang, jalan demi jalan, dengan sepeda jingganya? Sementara Aa satunya adalah yang membelikan sepatu bola saat saya teramat senang bermain bola dibawah guyuran hujan ditengah sawah yang berganti menjadi lapangan di penghujung musim panen, juga yang menemani merangkai kertas menjadi robot dan mengenalkan majalah bobo dan fantasy.
Siapakah lelaki yang pada masa remajanya setia membonceng adik kecilnya menyusuri perkampungan, gang demi gang, jalan demi jalan, dengan sepeda jingganya? Sementara Aa satunya adalah yang membelikan sepatu bola saat saya teramat senang bermain bola dibawah guyuran hujan ditengah sawah yang berganti menjadi lapangan di penghujung musim panen, juga yang menemani merangkai kertas menjadi robot dan mengenalkan majalah bobo dan fantasy.
Jika masa kecil bisa terulang, bersama mereka akan menyenangkan.

No comments:
Post a Comment