Keterpaksaan...

semuanya bermula dari keterpaksaan,

ketika nyaman di jakarta lalu diseret ke kota hujan ini.
dunia yang berbeda hiruk pikuk yang sangat berbeda.
biasanya setiap sore memandang besi tua terbang melintas batas dari atap pabrik yang mulai akrab pada si anak kampung yang kesepian. hanya berteman lelaki kurus dan pintalan benang di tiap rungan.

terpaksa,
mengikuti langkah lelaki itu dari ciluar ke ciomas, masuk ke sebuah madrasah kecil padahal teman yang lain sekolah di SD negeri yang besar. Berteman batu landai di pinggir kuburan, pohon dukuh, jambu dan kemang yang rindang di musim hujan memberi harapan pada anak kecil celana panjang merah, kemeja putih dengan sorot mata harap harap cemas, berharap ada buah yang jatuh atau kesempatan memanjat pohon. sedih tapi menyenangkan.

keterpakasaan itu juga yang mendidik menjadi anak alam,
mengayun lengan dan kaki di danau buatan, melaju dari satu sisi ke sisi yang lain tanpa takut tenggelam. Jari jari ini menjadi mata, meski air keruh dan lintah merayap. bukan waktunya untuk takut.

lagi-lagi terpaksa, mengubur impian masuk SMPN 4, ingin satu sekolah dengan panji si jenius, gamer yang mengagumkan (walkthrough suikoden 2 masih aku ingat :D ).
terjerumus di SMPN 1 ciomas, sekolah asri yang luar biasa, mempertemukan dengan 5 orang inspiratif pembuka semangat murid muridnya, kebaikan yang tak telihat. hanya bisa bercucuran air mata di bahu pelatih basket ketika perpisahan.
basket? ya tentu saja, sebuah bola jingga yang banyak mengubah pola pikir, mengganti impian dari Kubo ke Fujima. meski hanya sampai tahap "bisa" dengan cross over pas-pasan.

terpaksa, memilih SMAN 6, karena cerita menggebu gebu seorang teman tentang hebatnya sekolah ini ketika tim Basketnya banyak yang di rekrut Kota Bogor, dan kamu tahu? cerita memang tak seindah kenyataan, mendaftar basketpun aku tak pernah. karena di SMA itu bukan duniaku.

duniaku berpaling lagi, nostalgia Cantona, Thierry Henry sampai Nakamura menjerumuskan kaki ini dalam lumpur Futsal, menggeluti turnament yang tak pernah sekalipun sempat berdiri di podium impian, juara walikota cup apalagi super liga.

sebelum itu lagi-lagi kutemukan keterpaksaan ketika ikut mentoring, di ajak Ramdhan yang dulu begitu religius sampai di seret kata-kata halus buaya darat. Hey sob syukran banget :)

gonta ganti mentor, dari a Sindu, a Dena, a Ikhsan, a Syam, a Sindu lagi sampai a Fillah.

Dan pada waktunya meski jengah pada awalnya duduk menatap kekosongan dalam rapat yang mereka bilang syuro. kaki ini lelah juga beranjak dari rohis yang ketika itu kupikir membosankan...

kebosanan yang berubah jadi rasa cinta, mengkristal.

bukan ombak yang berdebur
tapi jiwa yang kehausan
bukan raga yang enggan terkubur
tapi hati yang kesepian

impian itu menggelitik langit
bercengkrama mengukir dalam jari yang lelah
teriak mengusik sepi, bertarung sengit
lalu tertunduk, bukan menangis hanya terjatuh

bangkit sekali lagi
jangan ulurkan lengan putus asa
meski senyum itu mulai lelah
karena kini kutemukan cinta...
-Rasailul Asywaq-

sampai pada titik tertentu rasa cinta ini membuat darah berdesir tiap kali menyebut kata Rohis...

dan...
sejujurnya aku ketakutan berada disini, berbaris dengan alumni pesantren dan ahli organisasi di masanya

tapi keterpaksaan membuat mereka bertanya dengan pertanyaan menjebak
dua mata pisau yang enggan ku asah, hanya akan membuatku terluka. aku bukan orang yang tepat bukan?
meski mereka meyakinkan ada barisan ukhuwah di belakang, aku tetap saja ketakutan pada mata-mata curiga yang berbicara "bisa, tidak bisa" "mampu, tidak mampu" "layak, tidak layak" "sanggup, tidak sanggup"

huhhhhh
taukah kamu? senyum dalam serah terima jabatan itu adalah senyum menyeramkan, membuat hati menangis ketika hari ini kuingat kebodohan. bukan, bukan, kau bahkan tidak tau betapa sulitnya aku waktu itu...

tapi kenapa dua mata hitam dan coklat itu menatapku lekat dalam kecurigaan, bukankah aku sudah bilang "aku memang salah, tolong jangan hakimi aku lagi" aku lelah...

terpaksa bermain dalam opera mini yang sengaja kuciptakan, manajemen konflik yang gagal. ahhh bukan penyesalan, jangan berargumen dulu. bagiku kau cuma anak kecil yang pintar, meski pintar tetap saja anak kecil. hanya kau beruntung tumbuh di sangkar yang megah penuh impian. Tentu jelas berbeda denganku yang tidur di atas jerami kusut dibawah atap dunia. langit penuh bintang. kau tidak mengerti bukan beratnya hidup yang kujalani, membentuk karakter menyebalkan yang pasti kau benci.

hey, jangan marah dulu. bukan menyalahkanmu aku justru berterima kasih
(bukankah itu yang ingin kau dengar?)

tapi jujur saja kau bahkan tak mengenal sejengkal pun dari langkahku, oh bukan maksudku langkah kami.

club of leaders

tempat jagoan pada masanya berkumpul, dan meski kami berbeda kamu tau apa yang sering kami bicarakan?
Rohis! tentu saja sering kami bicarakan karena kami sering berpikir
"apa yang akan kami wariskan?"

padahal generasi berikutnya tergantung generasi di atasnya, ini bukan kata-kataku tapi ucapan si jagoan kateda, jadi kau boleh saja tidak setuju.

aku tau sejak tadi matamu itu terus mengawasi, tenang saja aku pikir kamu orang baik jadi tak perlu khawatir, santai saja.

kami sangat beruntung memiliki adik-adik seperti kalian yang kritis, yahhh aku gak bohong deh kadang kalian memang berlebihan kritisnya. tapi tidak masalah selama itu baik.

hey kamu yang disitu, aku tidak pernah mengatakan berada di organisasi yang kau pilih itu mudah. aku bilang itu hanya argumen orang yang tidak mengerti bahwa kami ini orang yang ingin berubah, berjuang dalam proses panjang. ingat, proses panjang. Bukan instan seperti yang mereka pikirkan.
***************

mungkin memang masih ada keterpaksaan...
ketika kumpulan jagoan pada masanya itu memaksa untuk kembali dari dunia antah berantah yang tak ku kenal, tekad itu mengintip dalam perjalanan di atas kereta progo dari Jakarta ke Jogja juga ketika kembali dari Jogja ke Jakarta. sampai aku menemukan tulisan indah di milis yang aku baca. itulah tangisan pertama dalam pengasingan, membuatku semangat untuk melangkah mengingat kebaikan murabbi yang mengabarkan sebuah beasiswa harapan. mengajakku melangkah setelah enggan kembali menjadi pelayan restoran di batutulis, aku lelah.

jagoan jagoan itu hanya berkata

"lebih baik diam saja, biarkan mereka berargumen tentangmu, kamu tau kan kami disini orang-orang yang selalu percaya, pada liciknya pikiranmu itu. tenang dan yakinlah, bukahkah kau sudah belajar bersikap. tak perlu klarifikasi lagi, biarkan pesawat kertas itu terbang. kamu akan mengingatnya tapi percuma saja sudah tak utuh lagi, mana kamu yang dulu? bukankah kamu sudah melangkah sejauh ini?"

yahhh tentu, aku harusnya malu pada anak kecil itu, punya prinsip.
sungguh itu semua membuatku tak peduli lagi pada sesuatu yang bernama "imej", jadi silahkan menilaiku dengan kacamata merk apa saja. tentunya kacamata para jagoan itu tak bisa kamu pakai karena mereka adalah sayap yang Allah berikan untukku. bukan untuk kalian.


keterpaksaan ini membuatku jatuh cinta pada indahnya salam pertemuan,
dan kini aku tak perlu takut lagi untuk mengucapkan salam perpisahan pada peran yang telah lama ku mainkan.
kini ada peran baru yang benar-benar berbeda.
tak perlu menebak karena kau tak akan pernah tau peran apa yang ku mainkan.
ini terlalu berbahaya untuk anak kecil, biar aku dan "dia" yang berdiri di panggung opera mini "sekali lagi" dalam peran baru yang menegangkan.
konspirasi yang tak kau duga.
duduk manis saja dan jadilah penonton, atau mungkin kau sepertinya bisa kujadikan piguran agar kau sedikit tahu cara "berperan", rupanya sekarang kau bukan lagi anak kecil. ya, ku akui kau nampak lebih dewasa dari beberapa bulan lalu. sepertinya aku sedikit yakin kau akan mampu berada di jalur ini. jalur menyebalkan yang kucintai. tapi kau harus membuatku benar benar yakin.
dan sebelum itu terjadi mari kita buka opera mini kedua ini.


nanti aku tambah lagi postingannya, sudah larut...

4 comments: