Abu Bakar
ash-Shidiq, menasehati;
“kegelapa itu ada
lima, masing masing ada penerangnya. Dosa adalah kegelapan, penerangnya adalah
tobat. Kuburan itu kegelapan, lenteranya adalah shalat. Timbangan mizan di hari
akhir itu kegelapan, lenteranya adalah Laa
Ilaaha Illallaah. Shirath, jembatan di hari akhir itu kegelapan, penerangnya
adalah keyakinan dan iman. Akhirat itu sendiri gelap, penerangnya adalah amal
shaleh.”
“Tugas kita adalah menyalakan lilin, bukan mencela
kegelapan”
-Anis Matta-
Gelap?
Hidup manusia,
siapapun dimanapun mungkin akan mengalami sisi gelap, kelam, dalam hidupnya. Hidup
yang rumit dengan kerumitannya. Meski saya sendiri masih yakin gelap itu tidak
ada, karena gelap itu muncul ketika tidak ada cahaya yang terpancar. Lantas
jika cahaya selalu ada, maka gelap tidak ada. Jadi seperti kata Anis Matta,
nyalakanlah lilin, kalau perlu bawa dan nyalakan juga lampu emergency yang
biasa digunakan saat mati listrik agar lebih terang, dan jangan sekali kali
mencela kegelapan. Ya memang argumen saya ini bukan penggambaran kehidupan yang
mendalam.
Kadang kala gelap
itu membuat potensi yang kita miliki seolah tak berarti, minder tingkat tinggi
hingga depresi yang menjadi jadi.
Beberapa tahun
lalu,kang Zein el Fuad pernah membedah bukunya di SMA 6. Kalo dipikir pikir,
saya masih gak ngerti bagaimana cara koordinator syiar kala itu bisa punya link
ke kang Zein. Itu kesekian kalinya acara rohis yang sifatnya general dihadiri
banyak orang, bedah buku yang bikin saya sumringah karena yang datang mengikuti
kegiatan hari itu pulang dengan aneka wajah ceria, lengkap dengan keyakinannya
masing masing tentang cara menginterpretasikan apa yang mereka dapat hari itu.
Merotasi hidup,karena hidup memang terus berotasi. Gelap kala itu membuat saya
tidak yakin kang Zein mau datang ke SMA 6, begitulah cara gelap menutupi
potensi. potensi tentang kepercayaan, potensi untuk memahami setiap jengkal
takdir. potensi yang kerkubur gelap,
sudah waktunya kembali pulang.
Rotasi hidup.
Membuat gelap dipandang dengan cara berbeda, dulu ketika banyak teman punya
sepeda saya mengeluh lantang pada ummi dan bapak. Saya ingin sepeda. Suatu hari
ketika akhirnya saya bisa memilikinya,sepeda itu malah hilang dicuri orang
tidak lebih dari 3 hari setelah saya miliki. Rasa sesalnya luar biasa, punya
sepeda meski bukan baru dan hilang begitu cepat bikin semangat naik turun.
Ketika pulang ke rumah, hanya ada tangisan khas anak kecil yang disambut amarah
luar biasa dalam sidang di hadapan majelis orangtua dan kaka.
Mendewasakan
pikiran sangat bermanfaat untuk belajar mengerti Rotasi hidup dalam kegelapan,
membuat cara berpikir menjadi berbeda. Kalau sepeda hilang mungkin belum
waktunya saya punya sepeda, Allah belum yakin untuk memberikan saya sepeda.
Ketika gak punya laptop padahal sangat membutuhkannya, lagi lagi saya mencoba
berpikir positif, Allah belum yakin laptop itu akan saya gunakan dengan baik.
Memang selalu demikian, banyak tulisan maupun wejangan dari banyak orang; Allah
akan memberi apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan.
Sudah waktunya
mengenal dan memahami kegelapan, karena ia tidak selamanya buruk, tidak
selamanya menyusahkan, tidak selamanya seram, dan pasti tidak selamanya akan
gelap.
Kadang gelap itu memang menakutkan. Tapi rasanya pada kondisi tertentu terang pun tak
kalah seram.
Yang jelas jangan
pernah jadikan gelap sebagai penghambat potensi, karena jika demikian kita
tidak akan punya prestasi.
“Prestasi membuat kita lebih percaya diri”
-Solikhin Abu Izzuddin-
Masih takut gelap?
Geser
sedikit aja, disebelah sepertinya lebih terang
kalau enggan bergeser,
nyalakan lilin atau lenteranya
nyalakan lilin atau lenteranya

No comments:
Post a Comment