"Kalau ga push ourself to the limit, malah akan gitu-gitu aja"
Sejak kedua Research Manager ini resign dari kantor, saya tetap menjaga komunikasi dengan mereka termasuk ketika membutuhkan masukan soal karir atau rencana bekerja kedepan. Dari mereka berdua ini saya belajar banyak hal, terutama soal untuk siapa kita berjuang, bekerja ber-lelah lelah. Keluarga.
Ketika niat untuk resign dari kantor datang, saya hanya berdo'a dan berdo'a agar diberikan pekerjaan yang lebih dari yang saya jalani saat ini. Beberapa kali apply tentu saja lewat situs pencari perkerjaan, tetapi sejauh ini belum dapat panggilan interview atau lainnya, lucunya saya malah beberapa kali mendapat mesej via Linkedin dari HRD beberapa perusahaan ataupun tawaran dari para Head Hunter. Maka saya merasa Allah SWT punya banyak cara untuk menjawab do'a-do'a kita. Untuk hal apapun, untuk urusan apapun. Sebagai manusia rasanya mensyukuri setiap jawaban atas do'a yang hadirnya dengan beragam cara itulah barangkali wujud keberpihakan hati pada iman, ia tidak goyah kala jawaban atas do'a datangnya bukan disaat ingin, tapi saat kita benar benar membutuhkan.
Beberapa undangan pekerjaan itu memang lebih banyak saya tolak, tidak percara diri dengan posisi yang ditawarkan, jarak pekerjaan yang jauh karena Ummi di rumah juga keberatan jika saya tinggal terlalu jauh dari rumah, hingga memang pekerjaan yang ditawarkan amat berbeda dengan passion saya saat ini. Pernah ditawari menjadi head of research, assitant marketing director hingga manager yang disaat bersamaan bikin saya bergumam dalam hati, duh tinggi banget ini tawarannya, engga pede.
Salah satu hal yang membuat saya memutuskan untuk resign adalah nasehat dari motivasi dari mantan manager diatas;
"Kalau ga push ourself to the limit, malah akan gitu-gitu aja"
berstatus karyawan tetap yang tidak terlalu takut akan diberhentikan sepihak, dengan kemungkinan mendapat bonus kuartal atau tahunan sesuai dengan performa barangkali sudah membuat saya terlalu nyaman. Saya kadang kadang merenung diatas kereta pada perjalan pulang menuju rumah, memikirkan sekali lagi tentang hidup yang hanya satu kali dan menyusun kembali rencana agar hidup terasa lebih seru dari yang biasanya. Mengumpulkan semangat yang berserakan, lalu seperti nasehat ust. Fauzil Adhim;
Jika kesunyian tak mampu menghadirkan ketenangan, jika sujud dan ruku’ kita tak lagi mendatangkan ketenteraman dan kesejukan jiwa, ada yang perlu kita tengok dalam diri kita.
Jika bertambahnya rezeki tak menambah kebahagiaan, ketenangan dan kekhusyukan, ada yang perlu kita periksa sejenak.
Kita perlu mengambil jarak dan melakukan hentian sejenak dari kesibukan-kesibukan yang terus memacu kita untuk berlari.
Kita perlu mencari kejernihan di tengah hiruk pikuk kehidupan maupun mimpi-mimpi kita...
Ambillah jarak, luangkan waktu dan lakukan hentian sejenak..
Semoga kita dapat menemukan ketenangan di tengah kesibukan..
Maka, memutuskan resign adalah cara saya berhenti sejenak, sembari mengagumi setiap rahasia yang Allah SWT takdirkan. Sembari lebih berbakti kepada kedua orangtua.
Sejak kedua Research Manager ini resign dari kantor, saya tetap menjaga komunikasi dengan mereka termasuk ketika membutuhkan masukan soal karir atau rencana bekerja kedepan. Dari mereka berdua ini saya belajar banyak hal, terutama soal untuk siapa kita berjuang, bekerja ber-lelah lelah. Keluarga.
Ketika niat untuk resign dari kantor datang, saya hanya berdo'a dan berdo'a agar diberikan pekerjaan yang lebih dari yang saya jalani saat ini. Beberapa kali apply tentu saja lewat situs pencari perkerjaan, tetapi sejauh ini belum dapat panggilan interview atau lainnya, lucunya saya malah beberapa kali mendapat mesej via Linkedin dari HRD beberapa perusahaan ataupun tawaran dari para Head Hunter. Maka saya merasa Allah SWT punya banyak cara untuk menjawab do'a-do'a kita. Untuk hal apapun, untuk urusan apapun. Sebagai manusia rasanya mensyukuri setiap jawaban atas do'a yang hadirnya dengan beragam cara itulah barangkali wujud keberpihakan hati pada iman, ia tidak goyah kala jawaban atas do'a datangnya bukan disaat ingin, tapi saat kita benar benar membutuhkan.
Beberapa undangan pekerjaan itu memang lebih banyak saya tolak, tidak percara diri dengan posisi yang ditawarkan, jarak pekerjaan yang jauh karena Ummi di rumah juga keberatan jika saya tinggal terlalu jauh dari rumah, hingga memang pekerjaan yang ditawarkan amat berbeda dengan passion saya saat ini. Pernah ditawari menjadi head of research, assitant marketing director hingga manager yang disaat bersamaan bikin saya bergumam dalam hati, duh tinggi banget ini tawarannya, engga pede.
Salah satu hal yang membuat saya memutuskan untuk resign adalah nasehat dari motivasi dari mantan manager diatas;
"Kalau ga push ourself to the limit, malah akan gitu-gitu aja"
berstatus karyawan tetap yang tidak terlalu takut akan diberhentikan sepihak, dengan kemungkinan mendapat bonus kuartal atau tahunan sesuai dengan performa barangkali sudah membuat saya terlalu nyaman. Saya kadang kadang merenung diatas kereta pada perjalan pulang menuju rumah, memikirkan sekali lagi tentang hidup yang hanya satu kali dan menyusun kembali rencana agar hidup terasa lebih seru dari yang biasanya. Mengumpulkan semangat yang berserakan, lalu seperti nasehat ust. Fauzil Adhim;
Jika kesunyian tak mampu menghadirkan ketenangan, jika sujud dan ruku’ kita tak lagi mendatangkan ketenteraman dan kesejukan jiwa, ada yang perlu kita tengok dalam diri kita.
Jika bertambahnya rezeki tak menambah kebahagiaan, ketenangan dan kekhusyukan, ada yang perlu kita periksa sejenak.
Kita perlu mengambil jarak dan melakukan hentian sejenak dari kesibukan-kesibukan yang terus memacu kita untuk berlari.
Kita perlu mencari kejernihan di tengah hiruk pikuk kehidupan maupun mimpi-mimpi kita...
Ambillah jarak, luangkan waktu dan lakukan hentian sejenak..
Semoga kita dapat menemukan ketenangan di tengah kesibukan..
Maka, memutuskan resign adalah cara saya berhenti sejenak, sembari mengagumi setiap rahasia yang Allah SWT takdirkan. Sembari lebih berbakti kepada kedua orangtua.

No comments:
Post a Comment