Naluri


Fly me to the moon
Let me play among the stars
Let me see what spring is like on
A-Jupiter and Mars

Saya mungkin tidak akan pernah mengenal Frank Sinatra dan petikan lagu Fly me to the moon diatas, jika tidak membaca novel 5cm karya Donny Dhirgantoro. Bagaimanapun kecewanya saya saat novel best seller tersebut dibuat dalam versi filmnya, adakalanya memang ruh novel seringkali tertinggal ketika akhirnya dituangkan dalam karya audio visual, film. Toh, saya tetap menyempatkan waktu menontonnya.

Menemukan novel 5cm di perpustakaan SMA saat saya memulai dunia baru, putih abu abu. Mengakhiri 381 halaman dengan wajah berseri seri dan meniatkan dalam hati, suatu hari saya juga akan naik gunung atau melakukan hal besar apapun bersama sahabat sahabat dekat saya. Akhirnya, delapan tahu berlalu dan saya tetap belum pernah naik gunung sekalipun, hehe.  

5cm, membawa saya menyelami dunia baru, menghadirkan bayangan masa depan yang saya nanti nantikan. Bertanya tanya, seperti apa saya nantinya, dan akan kah sahabat sahabat terdekat ini masih ikhlas membuka lebar tangan tangan mereka sembari menghadirkan guyonan yang seringnya memang candaan lawas yang kita ulang ulang kembali.

Apa yang membuat saya lantas kecewa pada adaptasi film 5cm?
Kegagalan menggambarkan konflik yang dalam versi novelnya berhasil dibangun dengan renyah oleh Donny Dhirgantoro. Sementara dalam filmnya penggambaran utama yang disajikan adalah momen kebersamaan mereka saat menundukkan mahameru. Well, lagi lagi ini hanya pendapat.


Everything I want to say to you
Is wrapped around in my mouth
Come into my door don't be afraid
I'll catch you back around your head

Ada sekitar 30an lagu yang diperkenalkan dalam novel 5cm, Donny Dhirgantoro rajin sekali mengedukasi penikmat 5cm dengan memunculkan judul lagu lagu yang sejujurnya banyak diantaranya baru pertamakali saya dengar. Kutipan lirik diatas misalnya adalah lagu Desire dari Pure Saturday salah satu band Indie Indonesia yang juga beliau kenalkan dalam novel 5cm. Saya kembali mengenal Pure Saturday justru saat berkenalan dengan mas Fikri dan mas Ngayomi di kantor, keduanya adalah penikmat band indie semacam Efek Rumah Kaca, The Sigit, The Adams, white Shoes and The Couples Company, Polka Wars, Sore, The Trees and The Wild, Mocca, Endah N Rhesa, Stars and Rabbit dan banyak lainnya. Mas Ngayomi, barangkali saking sukanya pada Pure Saturday bahkan menjadikan album ke-empat mereka 'Elora' sebagai nama anaknya.

Tanpa disadari saya mengenal lagu indie sudah sejak lama, saat MTV masih rajin menghadirkan musik musik berkualitas di layar kaca. Menurut saya musik indie adalah naluri alami para pemusik yang ingin berkarya, tanpa terlalu peduli pada tanggapan kebanyakan orang. Mereka, akhirnya memang benar benar bermusik dengan ekspresi dan pemahaman paling mendasar dalam bermusik, menyanyikan lagu. Lalu pendengarnya adalah orang orang yang -dalam pendapat saya- benar benar mencari rasa dalam lagu.

Dulu Efek Rumah Kaca dan kawan kawan memang sering diputar berulang di MTV, memberikan suasana baru dalam alunan tangga nada dan petikan bait. Sekarang, saya boleh dibilang paling anti melihat acara acara musik di TV, selain karena lebih banyak menghabiskan waktu di kantor dan sengaja memenuhi jadwal akhir pekan di luar rumah, sejujurnya saya sudah hilang rasa suka pada band atau penyanyi masa kini yang rajin jualan lagu lagu sendu dan kisah cinta melulu. Persis seperti Efek Rumah Kaca bilang dalam lagunya "Lagu Cinta Melulu". 




lonely hearts, lonely hearts
find your parts, find your parts
brace your heart, brace your heart
to take the start, to take the start

the hardest part, the hardest part
when you decide but you can't devide
what was right, what was right
for your heart

Beberapa tahun lalu, saat suntuk dengan tugas akhir di penghujung kuliah, saya entah bagaimana awalnya menemukan Afternoon Talk, The Trees and The Wild dan pemusik indie lainnya. Barangkali menemukan lagu indie juga adalah naluri dari sebagian orang yang semakin jenuh dengan musik musik saat ini. 

Bagi saya, lagu lagu indie adalah alternatif dalam menikmati karya musik.

Lalu kembali soal pesan dalam novel 5cm, persahabatan. Allah akhirnya menakdirkan salah satu sahabat saya untuk segera menggenapkan separuh agamanya. Masih dengan candaan saat saya menimpali kabar bahagia yang ia sampaikan, sesungguhnya jauh dalam tawa yang muncul, kami mendo'akan yang terbaik untuknya, untuk calon pasangannya, dan untuk keluarga yang semoga dalam segala prosesnya Allah memberkahinya. 

Dalam dirinya saya mengenang saat semangatnya saya menjadi tim kampanye pemilihan ketua OSIS, yang dengan takdir Allah amanah itu singgah satu periode, diemban dengan gaya khasnya, yang kadang menyebalkan itu. Iya, dalam diri dan sifatnya saya melihat kami punya kemiripan, suka menyendiri dan menerawang, memandang hidup dengan cara yang menurut kami menyenangkan. Lalu barangkali bagi yang tidak mengenal kami, cara berpikir dan polah yang kami tunjukkan adalah ciri angkuh dan ketidakmengertian. Biarlah.

Saat curhatnya mampir tentang inginnya dia memulai ta'aruf yang sempat berhenti sesaat, dan barangkali jodoh memang tentang seberapa kuat mengejar dan seberapa sungguh sungguh menggapai, tak ada yang lebih baik dari rasa syukur saat melihat wajah bahagianya bertutur kata, merajut cerita tentang jalan panjang mengayuh langkah, menemukan kembaran rasa dan memohon restu dari orangtua calon istrinya. Menterjemahkan naluri menjadi niat agar keberkahan hadir dan memayungi hari harinya kedepan. 

Lalu, mari berharap. Naluri kita sebagai manusia, semoga tidak digelapkan oleh awamnya pikir dan gelapnya ketidaktahuan. 

Bogor, 30 Juli 2017






No comments:

Post a Comment