Menyerah

Kira kira saya masih bisa merekam sebagian kejadian malam itu, saat Bapak setia menggenggam tangan sembari mengawasi langkah pelan saya. Kami berjalan, menyusuri jalan setapak diantara petakan sawah yang mulai menghijau. Tak ada penerang jalan, barangkali hanya senter usang dan langit yang sama sama bergantian berkedip menyaksikan perjalanan singkat kami. Diujung jalan, setelah mendaki anak tanggga, saya duduk diantara teman teman Bapak, menyaksikan Piala Tiger 1998. Malam itu Bapak mengenalkan saya dengan sepakbola. Sejak hari itu, hari hari saya terbayang dengan riangnya bermain bola, mengidolakan sosok Bima Sakti, Kurniawan dan Kurnia Sandy, pemain yang pada masanya pernah berlatih di Italia melalui program Primavera. Anak seusia saya adalah para penggantung mimpi saat menyaksikan tim nasional bermain, membuat riuh dan berteriak kegirangan saat bola menyusur tanah, melewati garis gawang.

Tahun tahun berikutnya, ada turnamen futsal tingkat RW dimana saya dan teman teman luar biasa gembira saat di penghujung kelas 6 kami menjadi juara beruntun untuk ke-3 kalinya, meski hanya sebatas tingkat RW tapi kami sangat bahagia. Kami berjuang dan memperjuangkan apa yang ingin kami menangkan.

Lalu hidup berubah, saya barangkali jenuh saat tak dilirik dalam seleksi tim Futsal SMP dan memilih mengenal basket. Entah bagaimana, saya rela datang di latihan perdana tim basket SMP, meninggalkan futsal dan sepakbola. Suatu hari kami berkunjung ke tempat latihan Tim PORDA Kabupaten Bogor di Ciawi. Hari itu pertama kali saya melihat dunk dari seorang anak SMA, Christian Ronaldo Sitepu yang saat ini bermain untuk timnas basket Indonesia dan Satria Muda. Kala itu juga saya semakin termotivasi untuk bermain basket, berjanji pada diri sendiri, di SMA nanti saya harus ikut tim basket lagi. 

Basket membuat saya mengidolakan sosok anime Soichiro Jin, shooting guard dari Kainan dan menonton NBA dari TV Lokal sebelum berangkat sekolah kala SMP. Teman teman rumah pun sama, mulai sama sama belajar dan mengagumi basket, 3 orang teman dekat saya juga menjalani hal yang serupa, fokus bermain basket, ikut turnamen, satu diantaranya masih menjadi pelatih salah satu tim SMA di Bogor dan kadang menjadi wasit dalam beberapa turnamen.



Tapi saya menyerah, memilih untuk mundur dan kalah. Dulu waktu ingin masuk SMA dan Allah takdirkan masuk di SMA yang memang sangat saya inginkan, tekad saya adalah masuk tim basket, tapi masalah finansial barangkali salah satu alasan kenapa saya mengurungkan niat untuk bergabung. Basket memang lumayan mahal, sepatunya, jersey, dan biaya lainnya tentu serba mahal untuk saya kala itu. Menyerah inilah yang mempertemukan saya kembali dengan futsal di SMA. Saya mungkin gak akan pernah lupa bagaimana respon Ummi saat saya ingin membeli sepatu futsal, gak banyak bicara, mengajak saya membeli sepatu yang kala itu harganya luar biasa mahal. Sampai di rumah berulang kali saya bertanya tanya ini sungguhan atau bagaimana?

Lagi, hidup berputar lagi, mengikuti beberapa turnamen futsal yang diselingi dengan menemukan jawaban dari segala keresahan saya kala itu, Rohis. Rasanya ada rasa yang mendekap, ketenangan yang tidak biasa saat saya berkumpul dengan mereka, yang Allah titipkan, sumber kebaikan dari hijrah yang masih akan dan terus berjalan. Saya mungkin belum baik, belum cukup baik. Tapi saya ingin hijrah menjadi lebih baik. Bersama mereka paling tidak saya menemukan warna, yangg kuat dan menguatkan, yang tenang dan menenangkan.

Saat saya memilih menyerah, berhenti mengejar yang saya anggap sudah tidak mampu saya kejar, saya selalu yakin Allah akan siapkan jalan yang lebih realistis bagi saya melangkah diatasnya, menjejak dan menyejarah. Tapi ada hal hal besar yang saya tak ingin begitu saja mundur, tak mau menyesal dan ditertawakan. Ada hal hal besar yang sudah jauh jauh hari saya ingin mengenggamnya. Hal besar yang kadang saat ingin menyerah, saya malah menemukan alasan untuk mengejar dan menguatkan tekad.
Saya tak ingin menjadi lelaki yang sepengecut itu, yang menyerah pada takdir.

Faidza ‘Azamta Fatawakkal ‘Alallah
Dan apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah...


No comments:

Post a Comment