Hampir 5 tahun sudah saya beranjak keluar dari pintu rumah, menjadi penjaga di sebuah yayasan. Hari itu motivasi saya untuk keluar dari rumah sederhana saja; sekretariat ini dekat dengan kampus dan ada internetnya. Sesederhana itu.
Mulai hari itu saya mulai meraba hidup dan dunia, kadang kadang merasakan perut yang keroncongan dalam tawa dan obrolan tengah malam. Menikmati senandung kendaraan yang lalu lalang, heningnya sepertiga malam dan gongongan Siberian Husky di bangunan belakang. Saya belajar menikmatinya, cerita dari banyak orang, curhatan tentang masa depan hingga kisah klasik tentang mereka yang lama sudah berjuang. Lagi lagi saya belajar tentang berjuang.
Bagi saya Bogor adalah kota paling romantis, sudut sudut kotanya tak hanya melempar senyuman, tapi juga membuai mesra pada setiap jiwa yang kesepian. Kota ini seakan terlalu cemburu jika hujan tak datang berhari hari, ia muram dan kehilangan teman meski diatas sana matahari selalu setia mengajak dan menjaganya dari dingin dan menusuknya malam. Kota ini barangkali menjadi bagian hidup yang sukar untuk dilupakan.
Berubah kah saya?
Dalam sebuah obrolan kecil, seorang teman bilang "Dodi sekarang lebih kalem", apa iya?
Ternyata bertambah usia membuat saya merasakan bahwa hidup penuh dengan beban dan amanah berat yang bertambah setiap waktunya. Dulu saya mudah marah, sangat emosional dan kadang gak mampu mengendalikan kata kata. Sekarang bukan berarti sudah berubah sepenuhnya, hanya kadang saya berpikir "marah gak bisa nyelesein masalah".
Saat keponakan saya bertambah banyak, saat itu juga saya berjanji pada diri saya sendiri. Mereka harus melihat saya sebagai paman yang baik, yang mereka rindukan kehadiran dan celotehannya. Paman yang riang menggendong dan mendengarkan ocehan mereka. Dan kadang kadang begitu, Fathia paling rajin kirim SMS lewat handphone ummi, bertanya kapan pulang dan ingin dibelikan es krim. Hal sederhana itulah barangkali yang membuat saya merasa kehadiran saya berarti bagi orang lain. Setidaknya bagi keponakan keponakan saya.
Dan, masih tentang Bogor.
Tanahnya adalah saksi lelahnya kami berlari lari, bermain kucing kucingan, saat imam di masjid bertakbir dan menutup shalat tarawih dengan salam. Kami yang masih anak anak SD ini tak sanggup menolak godaan sejuknya malam malam di bulan Ramadhan. Dan meninggalkan sebagian rakaat shalat tarawih yang kadang kadang membuat kami terkantuk kantuk. Namun di malam lainnya, kami jua yang mengisi masjid sambil bercengkrama dalam pesantren kilat dan i'tikaf di 10 hari terakhir ramadhan. Iya, sanlat dan i'tikaf ala anak anak tentunya.
Malam ini saya sedang rindu, pada kawan kawan yang dulu berteriak teriak memanggil nama sambil menendang nendang bola, saling menyusul berlarian, memancar ceria meski mereka sama sama tahu bahwa hidup tak selalu tentang keceriaan. Kadang kadang saya tersenyum, mengingat romantisnya saling ejek nama ayah, memanggil yang satu dengan yang lain dari ciri fisiknya, emosi yang seringnya berakhir dengan sama sama berkumpul dilapangan samping masjid, hujan hujanan.
Pada akhirnya sekaya apapun kita, tak mampu membeli waktu untuk kembali.
Lalu biarlah sebentar saja, menerawang ia yang enggan berlalu.
Mulai hari itu saya mulai meraba hidup dan dunia, kadang kadang merasakan perut yang keroncongan dalam tawa dan obrolan tengah malam. Menikmati senandung kendaraan yang lalu lalang, heningnya sepertiga malam dan gongongan Siberian Husky di bangunan belakang. Saya belajar menikmatinya, cerita dari banyak orang, curhatan tentang masa depan hingga kisah klasik tentang mereka yang lama sudah berjuang. Lagi lagi saya belajar tentang berjuang.
Bagi saya Bogor adalah kota paling romantis, sudut sudut kotanya tak hanya melempar senyuman, tapi juga membuai mesra pada setiap jiwa yang kesepian. Kota ini seakan terlalu cemburu jika hujan tak datang berhari hari, ia muram dan kehilangan teman meski diatas sana matahari selalu setia mengajak dan menjaganya dari dingin dan menusuknya malam. Kota ini barangkali menjadi bagian hidup yang sukar untuk dilupakan.
Berubah kah saya?
Dalam sebuah obrolan kecil, seorang teman bilang "Dodi sekarang lebih kalem", apa iya?
Ternyata bertambah usia membuat saya merasakan bahwa hidup penuh dengan beban dan amanah berat yang bertambah setiap waktunya. Dulu saya mudah marah, sangat emosional dan kadang gak mampu mengendalikan kata kata. Sekarang bukan berarti sudah berubah sepenuhnya, hanya kadang saya berpikir "marah gak bisa nyelesein masalah".
Saat keponakan saya bertambah banyak, saat itu juga saya berjanji pada diri saya sendiri. Mereka harus melihat saya sebagai paman yang baik, yang mereka rindukan kehadiran dan celotehannya. Paman yang riang menggendong dan mendengarkan ocehan mereka. Dan kadang kadang begitu, Fathia paling rajin kirim SMS lewat handphone ummi, bertanya kapan pulang dan ingin dibelikan es krim. Hal sederhana itulah barangkali yang membuat saya merasa kehadiran saya berarti bagi orang lain. Setidaknya bagi keponakan keponakan saya.
Dan, masih tentang Bogor.
Tanahnya adalah saksi lelahnya kami berlari lari, bermain kucing kucingan, saat imam di masjid bertakbir dan menutup shalat tarawih dengan salam. Kami yang masih anak anak SD ini tak sanggup menolak godaan sejuknya malam malam di bulan Ramadhan. Dan meninggalkan sebagian rakaat shalat tarawih yang kadang kadang membuat kami terkantuk kantuk. Namun di malam lainnya, kami jua yang mengisi masjid sambil bercengkrama dalam pesantren kilat dan i'tikaf di 10 hari terakhir ramadhan. Iya, sanlat dan i'tikaf ala anak anak tentunya.
Malam ini saya sedang rindu, pada kawan kawan yang dulu berteriak teriak memanggil nama sambil menendang nendang bola, saling menyusul berlarian, memancar ceria meski mereka sama sama tahu bahwa hidup tak selalu tentang keceriaan. Kadang kadang saya tersenyum, mengingat romantisnya saling ejek nama ayah, memanggil yang satu dengan yang lain dari ciri fisiknya, emosi yang seringnya berakhir dengan sama sama berkumpul dilapangan samping masjid, hujan hujanan.
Pada akhirnya sekaya apapun kita, tak mampu membeli waktu untuk kembali.
Lalu biarlah sebentar saja, menerawang ia yang enggan berlalu.

No comments:
Post a Comment