Beberapa waktu lalu saya ingin banget punya sarung, sederhana ya. Saking sederhananya selalu lupa untuk mampir dan membeli sarung baru. Tiba tiba, ba'da mengisi kegiatan pekanan, seorang adik kelas memberikan saya sarung, katanya titipan dari ibunya yang kebetulan beberapa hari lalu belanja di Tanah Abang. Tau apa yang saya pikirkan? Sedih.
Saya ingat salah satu sahabat yang takut balasan dari amalannya Allah berikan di dunia, hingga di akhirat sudah tidak ada lagi balasan dari amalan selama hidupnya. Pikiran saya memang tidak se sholeh itu, yang membuat saya sedih adalah begitu baiknya Allah, padahal saya ini cuma hamba yang dosa dosanya menggunung, andai Allah tidak tutupi aib aib saya, barangkali orang akan jijik dan enggan dekat dengan saya.
Mohon maaf, saya gak ada niat untuk pamer punya sarung baru. Ini adalah cara saya bercermin dan merenung akan nikmat yang saya dapatkan. Bukankah ada golongan manusia yang Allah berikan kenikmatan dunia hingga ia lalai dengan akhiratnya karena terlalu fokus dengan aktivitas duniawi?
Maka merenunglah, ada dimana kita saat ini.
Lalu tiba tiba saya ingat, selepas lulus SMA dulu saya pernah bekerja disebuah restoran sunda sebagai waiters. Percayalah gara gara bermain game Diner Dash saya pernah punya kenginan menjadi waiters, dan bekerja di restoran itu adalah perwujudan dari keinginan saya. Pasca bekerja di restoran sunda yang hanya sekitar satu bulan itu saya belajar betapa berat dan lelahnya menjadi waiters, belajar untuk selalu tampil ramah, sabar, menjaga nama baik pribadi dan restoran, pandai menerima complain, hingga memberikan masukan menu yang cocok untuk pelanggan. Kalau bahasa guru ngaji saya, sebagai waiters saya belajar self controling, mengendalikan diri sendiri, baik emosi, tutur kata, sampai tingkah dan perilaku.
Apa hasil dari bekerja sebagai waiters untuk diri saya sendiri?
Saya belajar untuk menghormati waiters saat saya kebetulan makan di rumah makan, atau dimanapun yang dilayani oleh waiters. Saya belajar memahami dan merasakan betapa lelahnya mereka bulak balik membawa pesanan, mencoba bersabar pada keluhan pelanggan yang pesanannya tak kunjung datang, kemudian harus segera merapikan meja yang berantakan. Apa yang mereka rasakan hanya diri mereka sendiri dan Allah saja yang tau.
Pengalaman sederhana seperti inilah yang membuat saya malu setiap kali ingin mengeluh.
Bukankah Allah sudah sangat baik pada saya?
Saya ingat salah satu sahabat yang takut balasan dari amalannya Allah berikan di dunia, hingga di akhirat sudah tidak ada lagi balasan dari amalan selama hidupnya. Pikiran saya memang tidak se sholeh itu, yang membuat saya sedih adalah begitu baiknya Allah, padahal saya ini cuma hamba yang dosa dosanya menggunung, andai Allah tidak tutupi aib aib saya, barangkali orang akan jijik dan enggan dekat dengan saya.
Mohon maaf, saya gak ada niat untuk pamer punya sarung baru. Ini adalah cara saya bercermin dan merenung akan nikmat yang saya dapatkan. Bukankah ada golongan manusia yang Allah berikan kenikmatan dunia hingga ia lalai dengan akhiratnya karena terlalu fokus dengan aktivitas duniawi?
Maka merenunglah, ada dimana kita saat ini.
Lalu tiba tiba saya ingat, selepas lulus SMA dulu saya pernah bekerja disebuah restoran sunda sebagai waiters. Percayalah gara gara bermain game Diner Dash saya pernah punya kenginan menjadi waiters, dan bekerja di restoran itu adalah perwujudan dari keinginan saya. Pasca bekerja di restoran sunda yang hanya sekitar satu bulan itu saya belajar betapa berat dan lelahnya menjadi waiters, belajar untuk selalu tampil ramah, sabar, menjaga nama baik pribadi dan restoran, pandai menerima complain, hingga memberikan masukan menu yang cocok untuk pelanggan. Kalau bahasa guru ngaji saya, sebagai waiters saya belajar self controling, mengendalikan diri sendiri, baik emosi, tutur kata, sampai tingkah dan perilaku.
Apa hasil dari bekerja sebagai waiters untuk diri saya sendiri?
Saya belajar untuk menghormati waiters saat saya kebetulan makan di rumah makan, atau dimanapun yang dilayani oleh waiters. Saya belajar memahami dan merasakan betapa lelahnya mereka bulak balik membawa pesanan, mencoba bersabar pada keluhan pelanggan yang pesanannya tak kunjung datang, kemudian harus segera merapikan meja yang berantakan. Apa yang mereka rasakan hanya diri mereka sendiri dan Allah saja yang tau.
Pengalaman sederhana seperti inilah yang membuat saya malu setiap kali ingin mengeluh.
Bukankah Allah sudah sangat baik pada saya?

No comments:
Post a Comment