Diskusi panjang bertahun tahun lalu saat Ummi dan Bapak ngomongin calonnya si Teteh. Naluri seorang Ibu sudah sewajarnya mempertimbangkan banyak hal termasuk kesiapan dan kemampuan finansial calon pendamping anaknya. Bersyukurnya hasil akhir dari dialog malam itu adalah mengiyakan niat baik si calon dan yang selanjutnya terjadi adalah rahasia dari takdir Allah yang sudah digariskan baik dan buruknya.
Kaka ipar itulah yang semenjak Bapak check-up dari tahun lalu setia menyusuri jalan dari rumah ke Rumah Sakit dengan mobil Ertiganya. Maka candaan saya pada Ummi adalah, andaikan dulu kami mempersulit prosesnya siapa yang akan sebaik dan se-telaten ini pada Bapak?
Motivasi dari seorang teman, yang mengantar binaannya. Melamar seorang akhwat pujaannya, memberanikan diri meski kondisinya masih banyak kekurangan. Lalu apa yang terjadi? kejujuran ikhwan itu membuat sang calon mertua ridho menanggung semua biaya pernikahan. Allah maha kaya.
Diskusi ringan saya dalam perjalanan bertemu client dengan direktur di kantor juga banyak membuat saya termenung. Beliau bilang andai anak gadisnya sudah dewasa dia sudah ber-azzam tidak akan mempersulit jika ada ikhwan yang baik secara agamanya lalu datang melamar. Saya takjub. Kira kira apakah jika saya ada di posisi beliau akan berpikiran hal yang sama?
Hasil dari renungan panjang saya adalah, siapa kira kira saya ini, yang Allah pun akan ridho memberikan kemudahan kemudahan dalam perjuangan saya menemukan jodoh. Jadi saya makin merasa jauh dari kata layak untuk mendapatkan kemudahan yang Allah siapkan. Tapi tunggu, ada banyak kemudahan yang saya rasakan untuk hal hal lain, semoga merenung kali ini tak membuat kufur nikmat.
Entah ini tulisan macam apa, mungkin berpikir terlalu jauh ya.
Tapi saya selalu suka merelakan jemari menuliskan apa yang sedang saya rasakan.
Beberapa bulan kebelakang saya sedang semangat membaca buku buku pernikahan. tapi sudah hampir satu bulan ini tiba tiba hilang segalanya. Mungkin mulai jenuh atau mulai terlalu bosan dengan rutinitas di kantor. Barangkali sudah waktunya liburan atau mencari suasana baru.
Ya, memang begitulah laki laki. Selalu butuh waktu sendiri, berkontemplasi merenungi capaian dalam hidupnya. Menyendiri, mengukur sudah sejauh apa dirinya. Bertanya tanya pada dirinya sendiri, seperti apa dia hari ini, akan menjadi apa besok. Lalu sudah mampukah menjadi selayaknya laki laki.
Menjelang Ramadhan ini, lagi lagi saya belajar untuk terbiasa gagal mencapai beberapa target. Yasudahlah. Kita butuh lebih banyak inspirasi.
Maka yang sudah meniatkan diri untuk menikah, semoga Allah mudahkan langkah dan prosesnya. Saya bahagia saat seorang teman memberikan bocoran langkah kedepan untuk segera menikah, dan lagi lagi saya diingatkan, biaya nikah gak murah. Andai pun ada seperti kisah diatas yang Allah mudahkan dalam prosesnya, saya akan bertanya pada diri saya sendiri, coba ngaca, emang lu siapa?
Lalu, untuk mendapatkan keistimewaan dari Allah, sudah selayaknya saya juga berusaha menjadi pribadi yang istimewa. Nah, pertanyaannya sudahkah? rasa rasanya menjadi priadi yang baik saja masih belum, apalagi menjadi pribadi yang istimewa.
Kaka ipar itulah yang semenjak Bapak check-up dari tahun lalu setia menyusuri jalan dari rumah ke Rumah Sakit dengan mobil Ertiganya. Maka candaan saya pada Ummi adalah, andaikan dulu kami mempersulit prosesnya siapa yang akan sebaik dan se-telaten ini pada Bapak?
Motivasi dari seorang teman, yang mengantar binaannya. Melamar seorang akhwat pujaannya, memberanikan diri meski kondisinya masih banyak kekurangan. Lalu apa yang terjadi? kejujuran ikhwan itu membuat sang calon mertua ridho menanggung semua biaya pernikahan. Allah maha kaya.
Diskusi ringan saya dalam perjalanan bertemu client dengan direktur di kantor juga banyak membuat saya termenung. Beliau bilang andai anak gadisnya sudah dewasa dia sudah ber-azzam tidak akan mempersulit jika ada ikhwan yang baik secara agamanya lalu datang melamar. Saya takjub. Kira kira apakah jika saya ada di posisi beliau akan berpikiran hal yang sama?
Hasil dari renungan panjang saya adalah, siapa kira kira saya ini, yang Allah pun akan ridho memberikan kemudahan kemudahan dalam perjuangan saya menemukan jodoh. Jadi saya makin merasa jauh dari kata layak untuk mendapatkan kemudahan yang Allah siapkan. Tapi tunggu, ada banyak kemudahan yang saya rasakan untuk hal hal lain, semoga merenung kali ini tak membuat kufur nikmat.
Entah ini tulisan macam apa, mungkin berpikir terlalu jauh ya.
Tapi saya selalu suka merelakan jemari menuliskan apa yang sedang saya rasakan.
Beberapa bulan kebelakang saya sedang semangat membaca buku buku pernikahan. tapi sudah hampir satu bulan ini tiba tiba hilang segalanya. Mungkin mulai jenuh atau mulai terlalu bosan dengan rutinitas di kantor. Barangkali sudah waktunya liburan atau mencari suasana baru.
Ya, memang begitulah laki laki. Selalu butuh waktu sendiri, berkontemplasi merenungi capaian dalam hidupnya. Menyendiri, mengukur sudah sejauh apa dirinya. Bertanya tanya pada dirinya sendiri, seperti apa dia hari ini, akan menjadi apa besok. Lalu sudah mampukah menjadi selayaknya laki laki.
Menjelang Ramadhan ini, lagi lagi saya belajar untuk terbiasa gagal mencapai beberapa target. Yasudahlah. Kita butuh lebih banyak inspirasi.
Maka yang sudah meniatkan diri untuk menikah, semoga Allah mudahkan langkah dan prosesnya. Saya bahagia saat seorang teman memberikan bocoran langkah kedepan untuk segera menikah, dan lagi lagi saya diingatkan, biaya nikah gak murah. Andai pun ada seperti kisah diatas yang Allah mudahkan dalam prosesnya, saya akan bertanya pada diri saya sendiri, coba ngaca, emang lu siapa?
Lalu, untuk mendapatkan keistimewaan dari Allah, sudah selayaknya saya juga berusaha menjadi pribadi yang istimewa. Nah, pertanyaannya sudahkah? rasa rasanya menjadi priadi yang baik saja masih belum, apalagi menjadi pribadi yang istimewa.

No comments:
Post a Comment