Gumam

Entah cerita apa lagi yang pada akhirnya membuat langit langit yang tertutup rapat mau menurunkan butir demi butir cahaya lalu perlahan muram, aku tak suka langit yang sendu.

Sore ini adalah mendung yang keseribu. Rupanya ratusan hari tak kunjung membuat muram langit berubah cerah. Orang orang diluar sana seperti mulai biasa dan tanpa ragu berjalan sendiri sendiri, diatas jalan dan pijakan yang mereka pilih sendiri. Licinnya jalanan tak membuat mereka memperlambat langkah, sama sama berlalu lalang saling mendahului agar segera sampai ke tujuan.

Dikejauhan rintik hujan semakin deras, basah dan memaksa orang orang berlarian semakin cepat, Menyisakan para penikmat hujan yang tersenyum tanda suka, mencoba dan mengira berapa banyak rintik yang turun meski tak pernah bisa. Tak punya kuasa. 

Kita berdiri bersebelahan, menatap jalan yang sama, tak kuasa saling tegur. Barangkali sama sama ingin membuka cerita, tentang air yang mulai memenuhi jalanan, atau tentang ojek payung yang berlarian gembira sambil menawarkan jasanya. Kita sama sama tersenyum pada mereka, saat tiga orang anak berhenti tepat didepan, tersenyum penuh isyarat sambil berharap ada uang yang bisa mereka bawa pulang sore ini.

Kamu, tak kuasa menolaknya. Rela berjalan bersama salah satu dari mereka, mengizinkan payung yang kamu genggam membuat rintik berlompatan diatasnya. Memamerkan senyum sambil berlalu. Esok apa ada waktu untuk sama sama menatap hujan lagi? Mungkin kita bisa sedikit mengalah pada gumam yang jenuh dipermainkan sunyi.




No comments:

Post a Comment