Sesungguhnya menulis adalah seperti berbicara pada diri sendiri, kadang kadang saya sengaja membaca ulang apa yang saya tulis. Menyelami sedalam mungkin seperti apa perasaan saat saya dahulu menuliskannya. Jarang rasanya saya membuat draf tulisan, hampir semua tulisan di blog ini adalah spontanitas yang muncul begitu saja. Maka jangan heran kalau isinya sama sekali tidak berbobot dan mungkin tidak nyaman untuk dibaca.
Saya hanya mencoba menerjemahkan rasa yang dirasakan, enggan membohongi nalar dan pikiran. Maka menulis lagi lagi adalah tentang memadukan rasa yang mewarnai nalar dan pikiran. Mengalirkan emosi pada barisan kata dan kumpulan paragraf.
Di penghujung bulan Mei, bersama beberapa target yang masih tertinggal, saya mencoba memaafkan diri saya sendiri yang terlanjur terperosok dan jatuh. Ramadhan yang datangnya tinggal beberapa hari lagi juga hal hal lainnya yang bergelantungan di dalam pikiran, silih berganti menampakkan bayangannya.
Obrolan kami bertiga, saya, Ummi dan Bapak tentang herannya mereka, kenapa bisa bisanya saya, si bungsu yang kolokan ini bisa betah dan bertahan tinggal diluar rumah. Padahal dulu saya yang sering tiba tiba melompat untuk tidur bersebelahan dengan Ummi, menikmati hangat dan mesranya dekapan cinta kala Bapak masih fokus menonton pertandingan sepakbola.
"Ummi gak nyangka"
"apaan"
"Ya ini, Dodi pulang jarang, kayak gak inget aja sama orangtua, padahal dulunya kolokan"
"Ya, bukan gitu, kan kalo pulang tiap hari capek juga pulang kerjanya malem terus, lagian kan ada Aa sama Teteh, jadi Dodi ngerasanya Ummi sama Bapak aman"
Suatu waktu saya beli sepatu, dan kebiasaan saya setiap kali membeli sesuatu saya akan cerita sama Ummi.
"Mi, Dodi kemarin beli sepatu, harganya sekian..."
"Ya udah gapapa"
"Ummi gak marah?"
"Marah kenapa?"
"Kan mahal mi"
"Sekali kali gapapa, dulu mah Dodi mau beli yang bagus susah, sekarang udah kerja gapapa beli yang bagus, duitnya juga Dodi yang nyari sendiri"
"Iya sih..."
kalau sudah begini, pertanyaan untuk diri sendiri adalah, apakah saya sudah siap dengan tanggungjawab yang lebih besar.
Bagi mereka barangkali saya masih seperti anak kecil yang dulu sering menangis saat ditinggal Ummi belanja ke pasar, atau berteriak teriak saat abang penjual majalah Bobo berlalu menjauh dan Ummi lupa memanggilnya. Bagi mereka, saya tetaplah anak yang paling dimanja oleh semuanya.
Mungkin rasa itu jua yang menuntun saya beranjak, saya enggan menjadi bungsu yang menyusahkan.
Saya hanya mencoba menerjemahkan rasa yang dirasakan, enggan membohongi nalar dan pikiran. Maka menulis lagi lagi adalah tentang memadukan rasa yang mewarnai nalar dan pikiran. Mengalirkan emosi pada barisan kata dan kumpulan paragraf.
Di penghujung bulan Mei, bersama beberapa target yang masih tertinggal, saya mencoba memaafkan diri saya sendiri yang terlanjur terperosok dan jatuh. Ramadhan yang datangnya tinggal beberapa hari lagi juga hal hal lainnya yang bergelantungan di dalam pikiran, silih berganti menampakkan bayangannya.
Obrolan kami bertiga, saya, Ummi dan Bapak tentang herannya mereka, kenapa bisa bisanya saya, si bungsu yang kolokan ini bisa betah dan bertahan tinggal diluar rumah. Padahal dulu saya yang sering tiba tiba melompat untuk tidur bersebelahan dengan Ummi, menikmati hangat dan mesranya dekapan cinta kala Bapak masih fokus menonton pertandingan sepakbola.
"Ummi gak nyangka"
"apaan"
"Ya ini, Dodi pulang jarang, kayak gak inget aja sama orangtua, padahal dulunya kolokan"
"Ya, bukan gitu, kan kalo pulang tiap hari capek juga pulang kerjanya malem terus, lagian kan ada Aa sama Teteh, jadi Dodi ngerasanya Ummi sama Bapak aman"
Suatu waktu saya beli sepatu, dan kebiasaan saya setiap kali membeli sesuatu saya akan cerita sama Ummi.
"Mi, Dodi kemarin beli sepatu, harganya sekian..."
"Ya udah gapapa"
"Ummi gak marah?"
"Marah kenapa?"
"Kan mahal mi"
"Sekali kali gapapa, dulu mah Dodi mau beli yang bagus susah, sekarang udah kerja gapapa beli yang bagus, duitnya juga Dodi yang nyari sendiri"
"Iya sih..."
kalau sudah begini, pertanyaan untuk diri sendiri adalah, apakah saya sudah siap dengan tanggungjawab yang lebih besar.
Bagi mereka barangkali saya masih seperti anak kecil yang dulu sering menangis saat ditinggal Ummi belanja ke pasar, atau berteriak teriak saat abang penjual majalah Bobo berlalu menjauh dan Ummi lupa memanggilnya. Bagi mereka, saya tetaplah anak yang paling dimanja oleh semuanya.
Mungkin rasa itu jua yang menuntun saya beranjak, saya enggan menjadi bungsu yang menyusahkan.

Oh, Dodi suka baca majalah Bobo juga Dod? Tanggung jawab yang lebih besar teh apa? ^^ SAya suka dengan tulisannya Dodi kok Dod. Kala nanti setelah menikah, tetap eksis menulis ya Dod. >.<
ReplyDeleteBobo kan majalah generasi saya :D
Deletehemmm kalo udah nikah tetep nulis gak ya...
a Rama juga blognya jarang di update :p