Tiba tiba saya merasa seperti pecundang, yang dipermalukan dihadapan kerumunan orang, tak berdaya tak berharga.
Ketika dulu Ummi dan Bapak memilihkan sebuah madrasah untuk saya, mereka tak pernah tau bahwa banyak SD yang lebih bagus dan lebih baik dari yang mereka pilihkan. Ketika akhirnya mereka mulai mengenal Bogor lebih jauh, rupanya ada sesal yang mampir, dan saya merasakan itu.
Maka ketika banyak teman melanjutkan sekolah ke Tsanawiyah sesuai dengan arahan kepala sekolah kala itu, saya tak pernah setuju dan memilih berontak. Memaksa Ummi mendaftaran saya ke SMP Reguler, sebuah SMP Negeri Kabupaten.
Meski begitu, ada sesal lagi yang datang saat seorang tetangga bilang akan susah melanjutkan sekolah ke SMA Negeri di Kota dari SMP Kabupaten. Maka saya berontak lagi, bertekad lagi. Do'a Ummi dan Bapak pun terkabulkan saat saya bisa bersekolah di SMA Negeri di Kota Bogor.
Dulu saya memang minder luar biasa ketika beradu strata dan titel orang tua saya dengan teman sebaya. Kami ini cuma orang kampung yang terdampar di kota, mengais kebaikan yang berserakan, mengganjal perut agar tak terlalu sering berteriak saat lapar datang. Perkotaan nyatanya membuat kami lebih lebar membuka mata, berbenturan dengan realita perkotaan yang berbeda dengan gambaran layar TV berwarna. Hidup di kota itu keras!
Ummi dan Bapak selalu bilang malu dengan yang lain, para tetangga yang berpendidikan.
Maka suatu waktu, saat saya kebetulan pulang dan menyapa kembali mereka yang kesepian. Pesan mereka tajam nian; cari calon istri yang keluarganya biasa biasa aja, biar Bapak dan Ummi gak minder. Saya pun mengamini, berharap harap cemas takut mereka tersakiti lagi seperti pahitnya cibiran tetangga itu, sembari menguatkan hati mereka bahwa Allah selalu memberikan yang terbaik bagi kita.
Saya memasrahkan hidup ini pada Allah, dzat yang membuat kami mampu bertahan dari guncangan malam yang kadang pekatnya menyeramkan, dari teriknya siang yang panasnya kadang kadang melelahkan.
Tapi, cibiran cibiran itulah barangkali yang membuat kami banyak bersyukur, lebih kuat dan semakin yakin bahwa Allah menyayangi hambanya yang sabar dan berjuang.
Bukankah semuanya cuma titipan?
yang bisa DIA ambil kapan saja.
Sungguh tak ada sesal memiliki orangtua yang bukan sarjana. Karena saya yakin, dihadapan Allah, kita sejatinya sama saja, seorang hamba.
ada salah ketik dod: "dan terikanya siang" >.< InsyaAllah istri Dodi nanti yang sekufu dengan Dodi ko Dod, dan pastinya membahagiakan kedua orangtua Dodi juga :)
ReplyDeleteudah di benerin ya hehehe,
Deleteaamiin ya Rabb :D