Kamu Yang Malu Malu

Kamu, yang menggoda lalu merasuk malu malu.
Adakah rasa kasihan pada sepasang sepatu yang menunggumu berdandan sejak tadi?
Cermin yang kamu tatap, juga atap rumah yang setia bercengkrama dengan panas dan hujan. Tak sanggup mereka menerobos masuk, berbisik bisik lalu pergi saat hujan dan terik bergantian berputar esok hari.

Kamu suka begitu, pergi tanpa menitipkan satu pun pesan pada karpet merah di ruang tamu. Dia yang selalu riang perhatikan langkah anggun mu, tak rela rasanya melihat mu pergi setiap hari seperti ini. 

Di lain waktu ada kursi kursi baru yang kamu duduki, mereka yang selalu merindukan tawa riang dan celotehan menjelang senja, juga huruf huruf yang kamu sebutkan walau tak jelas tapi kami suka. 

Kamu, yang dulu selalu ada di kursi belakang sepeda. Kini masih sama, tak pernah mampu menahan bibir untuk tersenyum. Menghibur yang bersedih, menarik narik rasa kecemasan agar berganti bahagia.

Kamu, yang dulu selalu berlari keluar saat hujan turun atau sesekali melukis mereka diatas kanvas putih itu, kini sudah berlalu waktunya. 

Masih kah kamu biarkan rambut itu terurai tak terlindung menari nari diatas bahumu?
Masih kah kamu berlari sambil berteriak setiap ku pulang, memeluk mesra mengumbar cerita saat aku tak dirumah?



  

No comments:

Post a Comment