Menyapa September

Lalu kita sama sama menerawang, melihat langit yang muram tanpa bintang, wajah takut, haru, dan kisah kisah masa depan bergelayutan mengiringi setiap pejam dan terjaganya mata. Kamu, aku, dan kita rupanya tak pernah sama sama tahu dimana masa depan menghentikan sampannya. Akan baik kah dia pada kita yang sama sama kebingungan, menebak nebak darimana esok angin mulai beranjak. Kabar apa yang ia bawa? garis takdir mana yang akan ia lupakan? Padamu kutitipkan angkuh dan kesombongan, biar berlalu nafas mencekam ini. 



oh, September.
Entahlah, saya merasa ini akan jadi bulan yang amat berat. siklus pekerjaan dan suasana kantor, juga amanah di forum alumni dan lainnya. Amat menantang namun suram dan samar samar. saya butuh energi baru, semangat dan dorongan lebih kuat dari biasanya. Well, ketika beberapa bulan lalu exited dengan Banished dan kembali tekun bermain Sim City 4 akhirnya kesabaran saya tumbang juga. Kedua games itu bikin saya garuk garuk kepala, susah banget bro! Banished adalah game impian saya, simulasi bertani dan membangun koloni yang tidak sedetail Harvest Moon, tidak harus berperang seperti Age of Empire atau Stronghold, sesungguhnya game ini asyik luar biasa namun menuntut kesabaran, pemikiran, visi dan misi yang aduhai juga.

Banished mengajarkan saya betapa perlunya pemikiran matang dalam membangun sebuah peradaban, bahkan dalam level yang kecil sekalipun. Mengatur sumber daya manusia dan melihat sumber daya alam yang bisa kita manfaatkan agar koloni awal yang kita miliki gak kelaparan, mati dan akhirnya musnah. Lebih jauh kita juga harus memperhatikan jumlah penduduk, komposisi usia produktif dan manula hingga persiapan menghadapi pergantian musim. Sekali kita gagal paham dalam mengatur komposisi penduduk maka gak akan muncul penduduk baru yang kelak akan menjadi penerus pembangun peradaban, berat banget amanahnya #uhuk

Yah, intinya game ini punya makna dalem buat saya. Memaksa otak menganalogikan akan seperti apa hidup saya kedepan, memikirkan masa depan dan memutar ingatan ke masa lalu. Bagian mana yang harus segera saya perbaiki, dan lagi lagi membuat saya merenung, hari ini sudah sejauh mana manfaat saya untuk orang terdekat.

Pejamkan mata berimajinasi
Sesuai mimpi
Mimpi ditengah otakku yang fragta

Dan aku menuju ke awan
Kelangit yang paling tinggi
Bermain dengan mimpi
Kelangit yang paling tinggi
Bermain dengan imajinasi

Aku melayang bermain dengan imajinasi
Aku terbuai oleh permainan ku sendiri
Aku melayang bermain dengan imajinasi
Aku terbuai oleh permainan ku sendiri

Aku berkenalan dengan diriku
Ingin lebih dalam mengenal. Aku
Aku hanya ingin berjumpa dengan seorang aku
Yang pada nyatanya itu bukanlah aku

Kelangit yang paling tinggi
Bermain dengan mimpi
Kelangit yang paling tinggi
Bermain dengan imajinasi

Aku melayang bermain dengan imajinasi
Aku terbuai oleh permainan ku sendiri
Aku melayang bermain dengan imajinasi
Aku terbuai oleh permainan ku sendiri
Aku melayang bermain dengan imajinasi
Aku terbuai oleh permainan ku sendiri
Aku melayang bermain dengan imajinasi
Aku terbuai oleh permainan ku sendiri

Aku melayang ... Aku terbuai ...

Lagu Bermain Dengan Imajinasi dari Charita Utami ini ko buat saya feelnya dalam sekali ya, bikin saya bertanya tanya "gue udah jadi gue belum sih?" maksudnya udah jadi 'saya' seutuhnya belum sih. pertanyaan biasa yang bikin mulut bergumam, emmmm entahlah. 

Baiklah September, jangan sungkan melempar senyum ya meski saya kadang agak jutek dan menyebalkan. Kadang kadang dalam kesendirian, saya juga butuh teman.


No comments:

Post a Comment