Tanda Baca

Jam 3 sore, saat hujan rintik rintik tak sungkan terjun dan menggenangi ceruk ceruk jalanan. Menyusup pelan pelan pada daun dan parit yang kering kerontang. Sesaat berlalu, ada banyak genangan dan kenangan yang sama sama tak mudah dilupakan, ada yang dibenci sampai jengah memaki, tapi ada yang dicinta hingga lelah cemburu pada waktu yang sepertinya begitu mudah membuatmu terlena.  

Aku menyelipkan terlalu banyak tanda baca dari setiap kata kata yang sering kita suarakan bersama, dari balik gedung dan langit langit bisu. Lagu lagu menggema, kita sama sama diam dalam imajinasi masing masing, tak mampu rasanya menjadikan nyata sebuah rasa yang sesungguhnya kita sama sama tahu ini bukan punya kita.



Bulan bulan ini, diperjalanan Bogor Jakarta yang temani kita hanya kumpulan lagu Barasuara dan beberapa film drama, menyejarah, mengajarkan bahwa sejarah bukan hanya ingatan yang nanti bisa kita ingat dan munculkan. Lebih dari itu ia adalah sebuah pesan tentang takut dan khawatir akan masa lalu yang kadang kadang tak sanggup menasehati masa depan.

Rasanya, aku terlalu angkuh bahkan hanya untuk percaya bahwa hujan itu basah dan terik itu sungguh membuat lelah. 

No comments:

Post a Comment