Kehilangan Bijaksana

Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan.
Sila ke empat Pancasila.

Kita memulai celotehan tentang kecemasan bulan April ini dengan agak absurd. Saya memaksakan diri untuk menulis malam ini agar otak dan imajinasi tidak tumpul. Kemarin malam sepulang ngantor tiba tiba terbersit hasrat untuk menghidupkan kembai radio online yang dulu sempat saya online-kan, well kata yang tercetak miring ini terasa aneh sekali. Yah, intinya saya mulai ngoprek beberapa software lagi, mencari mana yang cocok.

April adalah bulan yang teramat galau buat saya, di bulan ini saya akan kehilangan satu teman kantor, teman satu divisi yang masuk bareng tahun lalu. beberapa pekan lalu juga udah ada 2 temen dari divisi lain yang pindah kerja. sejujurnya kantor terasa sepi dan mood saya ikut naik turun. Tapi postingan kali ini gak akan bahas kehidupan kantor kok. 
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Bijaksana, ia pergi lalu kembali dengan tertatih, meringis pada daun daun dan semak yang ia lalui sepanjang jalan. semua heran, kenapa Bijaksana bisa terluka? bukankah ia yang paling bijak? melalui hidup dengan caranya, cara yang bagi sebagian orang adalah hidup yang paling ideal, hidup yang kami impi impikan.

Bijaksana diam, sudah berhari hari ia membisu. Kami kehilangan tutur kata yang menyejukkan, senyuman tulus tanpa amarah dan rasa curiga. Bijaksana, ia terkubur bersama lamunan jauh. Kehilangan Bijaksana yang berlari lari tanpa takut terluka, bukan tak pernah, ia begitu sering bertemu tajam yang menyayat. Tapi Bijaksana, tak pernah kehilangan alasan untuk hidup asal asalan, untuk terlalu membenci yang menyakiti atau terlalu jatuh cinta pada yang murah hati.

Kehilangan Bijaksana.

No comments:

Post a Comment