sudah waktunya

Saya pulang, dan pertanyaan ummi masih sama seperti beberapa bulan setelah saya lulus: "gimana udah nyari kerja?"
saya sadar sampai hari ini terlalu membiarkan zona nyaman semakin membuat nyaman. padahal tidak ada labirin dengan tembok tinggi yang membatasi sebuah langkah perubahan dengan dunia nyata. dunia yang sekarang seolah begitu takut untuk ditinggalkan. saya mencoba menengok pada tiap sudut cerita hidup yang sudah dilalui, ada ummi yang begitu ramah, bapak yang selalu tak banyak bicara, juga Aa dan Teteh yang tak banyak berubah. mereka sudah membuat jalah hidupnya sendiri. 

waktunya untuk membalas kerja keras mereka. apa yang membuat berat? adik adik, ya mereka yang nyatanya sudah lebih hebat. terasa begitu sayang untuk ditinggalkan. tapi jangan jangan ini adalah kesombangan semata, bahwa tanpa kami mereka tidak akan bisa dan tak akan pernah bisa. ini kesombongan. 

sudah waktunya beranjak. sudah waktunya.sudah waktunya.


No comments:

Post a Comment