"ummi kayak gak punya anak deh, di rumah gak ada siapa siapa, cuma ummi sama bapak..."
pelan pelan saya coba nerjemahin arti kalimat diatas, entah meminta saya lebih sering pulang, atau bahkan pingin saya terus di rumah.
suatu waktu ummi harus tinggal beberapa bulan di sukabumi, hari pertama dia langsung telpon saya dan...nangis, nanya saya udah makan belum?, siapa yang masak? dan kecintaan seorang ibu memang terlalu sulit kalau cuma di gambarkan lewat kata kata.
saya lahir dari 5 bersaudara, di sebuah keluarga yang luar biasa. serius, memang luar biasa.
kaka pertama dulu hampir jadi musisi, temen temennya manggil dia 'Andy', karena mirip sama Andy-Rif. orang ini yang 'menyiksa' saya supaya bisa baca, bisa berenang, bisa naik sepeda. dan berhasil.
kaka kedua, si teteh yang masya Allah luar biasa. malu banget kalo setiap ketemu dia nanya "udah sampe mana hafalannya dod?". dan saya bales "ada nasi gak teh, laper..."
dia yang dulu 'menampung' dari kelas 1-6 SD dan selama itu dia yang selalu cium pipi saya menjelang tidur.
kaka ketiga, ini dia yang dulu sering ngajak saya jalan jalan pake sepeda, yang paling sering punya ide aneh. yang sebagian dari perjungan hidupnya terlalu luar biasa untuk diceritakan.
kakak ke empat, si teteh yang perutnya pernah saya tendang, yang rambutnya dulu sering saya jambak. remote TV adalah salah satu saksi gimana serunya kita kalau mulai perang dunia. sampe ummi sama bapak cuma diem dan nonton. meski begitu dia salah satu manusia yang rasa cintanya luar biasa buat kami.
***
rumah itu sudah banyak berubah sobat, temboknya sudah membaik, atapnya sudah terlihat lebih rapi, tapi sunyi. lantainya berbisik pada angin yang memang selalu datang setiap hari, tidak pernah bosan, membuai jeritan pintu yang pelan pelan terbuka.
di depan, ilalang sudah meninggi. saat malam, jangkrik berlompatan. meneriakan sajak rindu pada langit. menyelimut lelah yang tertidur. dan surya akan membangunkannya dengan angkuh.
hampir tengah tahun
22 tahun
Allah masih memberikan saya kehidupan hingga detik ini, dunia yang begitu luas, wajah yang kesehariannya membuat saya banyak tersenyum dan potongan kisah yang membuat saya malu kala mereka terkumpul. do'a rabithah yang mengikat, lingkaran yang ketika berpisah berarti melebarkan jemarinya.
ummi, kini belum waktunya pulang...
saya masih ingin menjejaki alam raya pada buku diary ini
maka tunggulah hingga lembar terakhir, dan panggilah dengan mesra
dibawah telapak kaki yang Allah titipkan surga padanya.
ku jawab kerinduanmu nanti dengan dua kecupan.
uhibbuki fillah ya ummi

No comments:
Post a Comment