Saat saya menilai Sepakbola dengan pengetahuan dan
ketidaktahuan, kesenangan tanpa benci dan kelemahan tentangnya...
Sepakbola
Sebuah permainan yang cerita tentang latar sejarahnya
beragam, yang jelas sepakbola modern katanya lahir di inggris, meski beberapa
kali saya dengar asal muasalnya berawal dari mesir atau mungkin china.
Yasudahlah.
Pertanyaannya, mengapa begitu banyak orang suka sepakbola?
Termasuk semua lelaki di keluarga saya. Jawaban dari setiap orang yang suka
sepakbola pasti berbeda beda.
Waktu itu tahun 1996, atau mungkin tahun berapa ya?
Saya lupa
Ba’da maghrib Bapak menuntun saya meniti jalan setapak
yang sedikit menanjak, sebelah kanan jalan ada sawah yang baru beberapa hari
selesai di panen menyisakan tanah yang mengering dan tumpukan jerami, kalau
hujan turun dan jerami menjadi lembab biasanya ada jamur merang yang muncul di
dalamnya. Sawah yang mengering itu beberapa kali disulap menjadi lapangan untuk dijadikan tempat pertandingan sepakbola antar
kampung (Tarkam), turnamen Tarkam itu hadir lengkap dengan hadiah yang lumayan
besar dan biasanya ada juga seorang komentator yang membuat laga menjadi lebih
berwarna. Sebelah kanan jalan adalah bentangan tambang galian pasir yang
dihiasi tiga atau lima lentera, lentara yang menyinari gelapnyatambang yang
menggiring petang untuk membuka tabir malam. Ketika beberapa orang saling
bersahutan bekerja keras mengumpulkan pasir, di kejauhan truk truk beriringan
memasuki kawasan tambang untuk bersiap mengangkut pasir pasir yang sudah
menumpuk. Tambang pasir itu menyulap daratan menjadi ladang rejeki untuk banyak
orang. Di atas tanah itu Allah menurukan rizkinya pada insan yang mau berusaha
siang dan malam, membanting tulang demi kehidupan yang lebih baik, demi literan
beras, kiloantelur dan uang yang akan mereka tabung hingga waktunya mereka
pulang ke desa yang menyambutnya dengan senyuman.
Petang itu untuk pertama kalinya Bapak mengajak saya
ke rumah temannya berkumpul bersama sekumpulan pria penggemar sepakbola. Ada
tayangan langsung sepakbola Piala Tiger (sekarang menjadi Piala AFF), sejak hari itu hingga sekarang sepakbola
punya tempat tersendiri di hati saya meski tempat itu sudah tak seluas dulu.
Malam itu saya melihat aksi sekaligus menjadi
penggemar Kurniawan Dwi Yulianto. Pemain yang pernah ‘belajar’ sepakbola di
Italia bersama beberapa pemain lainnya dalam tim Primavera Indonesia dan juga
sempat bermain di Klub asal Swiss, FC Luzern. Striker yang saat itu skillnya
paling ‘keren’ di antara pemain depan lainnya, ditambah lagi di Timnas kala itu
ada Bima Sakti seorang Playmaker luar biasa yang pernah menimba ilmu di klub
sepakbola Helsinborgs IF, Swedia. Kalau menonton kapten Tsubasa, Bima Sakti itu
sehebat Misugi Jun, kalau membaca komik Shoot dia itu jenderal lapangan seperti
Atsushi Kamiya, kalau pernah menonton Giant Killer dia itu pengendali tempo
permainan seperti Luigi Yoshida tapi lebih pekerja keras, kalau tahu Area No
Kishi maka Bima Sakti itu raja seperti Araki Ryuichi, dan kalau dibandingkan
dengan pemain kelas dunia yang populer saat ini maka dia itu secerdas Andrea
Pirlo atau Xavi Hernandez.
Timnas kala itu adalah sebuah harapan besar bagi
masyarakat Sepakbola Indonesia, bahkan bagi sepakbola Asia Tenggara karena
mampu bicara banyak di level Asia.Konon, dulu itu kita bukan tandingan Singapura,
Malaysia, Thailand atau Vietnam yang sekarang jadi lawan berat. Level kita kala
itu adalah Asia dan sejajar dengan Jepang, China, Arab Saudi, Kuwait dan Korea
Selatan. Tapi setelah petang itu juga mimpi dan angan banyak orang terasa mundur
perlahan, krisis ekonomi, krisis moral, krisis kepemimpinan, akhirnya menjalar
ke krisis Sepakbola Indonesia. Kepemimpinan dan manajemen PSSI yang carut
marut, supporter yang anarkis, stadion yang tidak layak, hingga politisasi
sepakbola semuanya mencabik cabik semangat orang orang yang berjuang keras
membangun Liga Indonesia yang professional, Stadion berstandar Internasional,
Timnas Junior yang punya harapan cerah hingga anak anak yang punya cita cita
menjadi pemain bola. Meski begitu Liga
Super Indonesia saat ini masih menjadi Liga Sepakbola Terbaik di Asia Tenggara.
Obat untuk duka yang belum hilang.
Pernah melihat banyak orang menangis saat menyaksikan
pertandingan sepakbola?, bukan karena rasa memuja yang berlebihan, bukan juga
karena melankolis yang overdosis atau lebay akut yang kelewatan. Di liga
Inggris, supporter gak cuman menganggap klub idola mereka sebagai ‘idola’
biasa, mungkin juga mereka mengganggapnya sebagai keluarga. Betapa bangganya
orang orang London utara pada Arsenal atau Chelsea, lihat juga rasa memiliki
orang Manchester pada MU atau City. Ketika klub yang mereka sukai degradasi
jangan heran kalau banyak orang menangis di stadion, poster poster dan spanduk yang memotivasi terbentang, tepuk tangan riuh
menggema meski tim kesayangan mereka kalah. Supporter di inggris pastinya lebih
dewasa pemikirannya dibandingkan di negeri kita ini. Pastinya. Lihat saja
berapa meter jarak bangku penonton dengan lapangan? Sangat dekat, Tapi hampir
tidak pernah ada keributan, jika ada hanya insiden kecil bukan adu lepar batu
seperti di negeri kita(kecuali insiden tendangan Kungfu Eric Cantona salah
satunya). Lihat juga kadang ada supporter MU di antara supporter City tapi
tetap bisa menonton dengan nyaman. Bandingkan dengan supporter disini, berapa
banyak korban jiwa dalam pertandingan Persib vs Persija atau pertandingan dengan
rivalitas tinggi lainnya?.
Memang naif rasanya jika membandingkan penonton di
inggris sana dengan penonton di indonesia. disana penonton sepakbola adalah
pria berdasi yang notabene punya pendidikan tinggi, jika bukan pria berdasi ada
remaja, anak anak, dan orangtua yang menonton dengan tertib. Rasanya mereka mengerti
cara mengendalikan diri ketika timnya kalah, bukan pelajar yang hobi tawuran
seperti ketika saya menonton PSB Bogor vs Persikad Depok di Stadion Pajajaran,
Bogor. Seorang supporter PSB Bogor melemparkan batu bata ke arah kepala pemain
asing dari Persikad Depok, entah apa motifnya yang jelas hari itu si pelempar
sangat kecewa karena PSB Bogor kalah telak, meski lemparan batu bata tadi juga
sukses mengenai kepala pemain asing Persikad Depok.
Saya tidak menghina tingkat pendidikan penonton
sepakbola di negeri ini, jauh dari itu semua supporter di negeri kita ini punya
loyalitas yang sangat tinggi. Tidak peduli besok mereka makan apa, orang orang
dari pelosok Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera, Kalimantan, dan daerah lainnya rela
mengantri berjam jam untuk sebuah tiket pertandingan Tim Nasional, menginap di
sekitar GBK dengan sedikit uang tabungan yang mereka miliki, atau dengan uang
hasil menjual barang kesayangannya demi mendukung Timnas Indonesia. Mereka
datang dengan uang dan kondisi pas pasan tapi memberikan dukungan di luar
nalar, melebihi batas. Berharap Timnas menang, dan jika Timnas kalah, esok hari
mereka tetap datang dengan semangat yang lebih menggebu, teriakan yang lebih
lantang, syair dan nyanyian yang lebih melecutkan tekad, membentangkan spanduk besar untuk membangunkan
pemain yang terjatuh dan menguatkan pemain yang lelah. Supporter, mereka datang
dengan kesungguhan untuk menjadi pemain ke duabelas tanpa pamrih.
“Lu
jangan heran kalo tiba tiba nangis tanpa alesan, merinding gak jelas waktu
bareng puluhan ribu penonton nyanyiin Indonesia Raya sebelum Timnas tanding di
GBK, gak peduli seberapa keker badan lu, seberapa tegar diri lu, yang jelas
waktu itu Indonesia Raya bener bener ngeluarin jiwa kita buat cinta tanah air
lewat bola, hari itu kita semua gak peduli siapa orang di sebelah kanan atau
kiri, siapa orang di depan atau belakang. Semua satu suara dukung Timnas
Indonesia”
-temen yang nonton pertandingan
Timnas sewaktu piala AFF lalu di GBK-
Saya gak ngajak
siapapun yang baca tulisan ini buat suka
sepakbola, ibu saya juga gak suka sepakbola meski ia buatin sarapan
lezat tiap hari minggu pagi menjelang turnamen se-RW sewaktu saya SD, mau
beliin saya sepatu futsal untuk seleksi tim sewaktu SMA, malah dia sering
ngegerutu kalau saya dan bapak udah mulai nonton sepakbola.
Meski dia gak
suka sepakbola,
Tapi dia
ngedukung Timnas.
Hampir di setiap pikiran anak anak
penyuka sepakbola melayang kata kata ini;
“gue mau bawa Indonesia ke Piala
Dunia”
Timnas Indonesia di Piala dunia?
i hope so...
Karena Sepakbola...
Telah merebut hati penggemarnya
Merebut energi penghinanya


No comments:
Post a Comment