ada roda yang berputar pelan
menggoda rantai berayun memainkan pedal sepeda
berayun ayun melintasi jalan setapak penuh lumpur
beradu keberanian dengan mata yang sejak tadi ragu melaju
angin menggoyang tangkai
memainkan daun dalam irama yang sama
nada bersahutan berlari lincah simponi kebebasan
lagu gembira anak gembala
meniup seruling di punggung kerbau
ketika gelatik terbang berpasangan
awan tak lagi ceria,
murung dalam wajah tak bersahabat
rona kabut menjelma kuat
mencekik bengis cumulus dan cirrus
terang berlalu gelap menjelang
si tua menengadah,
berlari kecil menggandeng anak gembala,
serulingnya terinjak langkah penuh beban
Patah...
Mulut menganga
peluh sudah terlupa
mata tak percaya
mana gubuk kecil itu?
gubuk tanpa alas pantas
apalagi pintu emas
atau atap megah penutup lantai dan dinding
berhias patung dan vas,
hanya ada lukisan abstrak dalam kanvas kecemasan
ribuan kaca menatap kerdil tubuh kurus
menghempas kulit legam terbakar terik nasib,
anak gembala terpaku dalam impi buruk
yang sekali lagi menggerus malam indahnya.
berharap segera berakhir
tangan kekar menggapai
menatap kasat tanpa bicara
melempar dua tubuh lemah dalam ketakutan
si tua mengusap wajah
menatap tumpukkan tanah bernisan
anak gembala berbalut kafan hitam
mati ketakutan dalam keberanian yang terbelenggu
ingin bangun sekali lagi dan berkata
namun kini bukan mulut lagi yang bicara
tua berlalu dengan senyuman
meneguk kopi hitam dari kursinya yang terus bergoyang
memainkan cerutu putih, mengepul asap jingga
menutup dongeng tentang ketidakadilan
kisah tentang hati yang di rombak
hidup yang abadi
dan
iman yang dimainkan
-[bukan] panggung sandiwara-
menggoda rantai berayun memainkan pedal sepeda
berayun ayun melintasi jalan setapak penuh lumpur
beradu keberanian dengan mata yang sejak tadi ragu melaju
angin menggoyang tangkai
memainkan daun dalam irama yang sama
nada bersahutan berlari lincah simponi kebebasan
lagu gembira anak gembala
meniup seruling di punggung kerbau
ketika gelatik terbang berpasangan
awan tak lagi ceria,
murung dalam wajah tak bersahabat
rona kabut menjelma kuat
mencekik bengis cumulus dan cirrus
terang berlalu gelap menjelang
si tua menengadah,
berlari kecil menggandeng anak gembala,
serulingnya terinjak langkah penuh beban
Patah...
Mulut menganga
peluh sudah terlupa
mata tak percaya
mana gubuk kecil itu?
gubuk tanpa alas pantas
apalagi pintu emas
atau atap megah penutup lantai dan dinding
berhias patung dan vas,
hanya ada lukisan abstrak dalam kanvas kecemasan
ribuan kaca menatap kerdil tubuh kurus
menghempas kulit legam terbakar terik nasib,
anak gembala terpaku dalam impi buruk
yang sekali lagi menggerus malam indahnya.
berharap segera berakhir
tangan kekar menggapai
menatap kasat tanpa bicara
melempar dua tubuh lemah dalam ketakutan
si tua mengusap wajah
menatap tumpukkan tanah bernisan
anak gembala berbalut kafan hitam
mati ketakutan dalam keberanian yang terbelenggu
ingin bangun sekali lagi dan berkata
namun kini bukan mulut lagi yang bicara
tua berlalu dengan senyuman
meneguk kopi hitam dari kursinya yang terus bergoyang
memainkan cerutu putih, mengepul asap jingga
menutup dongeng tentang ketidakadilan
kisah tentang hati yang di rombak
hidup yang abadi
dan
iman yang dimainkan
-[bukan] panggung sandiwara-
No comments:
Post a Comment