Jendela coklat tua dengan kaca buram sudah terbuka sejak tadi
Sejak surya masih malu malu beranjak dari tidurnya
Dan embun mulai menggelantung di ujung daun
Bersiap jatuh menyapa rumput yang berbaris rapi di antara bebatuan
Hijau dan hitam kini menjadi satu
Dalam bias warna di atas sebuah jalan terjal
Bernama kehidupan
Gadis
berdiri terpaku di depan cermin
dalam diamnya dia berpikir
dalam pikirnya dia berkata
“kini cermin tak lagi jujur”
Bukan wajah halus dan ceria yang dia lihat
Yang ada hanya refleksi dari rasa putus asa
Wajah tua menyebalkan
Garis hitam di bawah kelopak mata
Tidak!
Dia tidak suka wajah itu
Tangannya mengepal, tubuhnya terguncang
Dia ingat kata-kata lelaki tua berpakaian lusuh itu
“Bangunlah nak,
lalu berjalanlah kesana,
maka kau akan temukan setetes air di tanah yang gersang.
itulah bukti bahwa Allah tak pernah berjalan meninggalkanmu satu langkahpun
meski kamu berlari ribuan langkah menjauhi-NYA,
Allah
bahkan saat bayanganmu telah lelah menemani”
Ya muqallibal qulub
tsabbit qalbi ‘ala diinik
Gadis
Kini berjalan diatas kertas kisahnya
Mencoba memegang pensil takdir meski tak sanggup
memberikan penghapus pada Penulis kehidupan
memohon takdir buruknya dihapuskan
pikiran berdialog dengan hatinya
memunculkan sebuah drama
biarlah si kecil khansa
dan
pemilik satu tulang rusuknya pergi
dia ikhlaskan semua
toh semuanya tak mungkin lagi kembali
sejak percikan api itu membahana
7 detik bahagia dalam hidupnya
Berubah menjadi bencana
Ketika mereka yang disebut teroris merenggut nyawa teman hidupnya
Katanya agama itu kedamaian
Tapi kenapa memunculkan peperangan?
Katanya agama jalan keluar dari masalah
Tapi kenapa malah meneteskan darah ?
Kenapa ada tabir dalam takbir?
Haruskah mereka yang disebut mujahid
Yang mengharap mati sahid
Pergi dalam keberanian bom bunuh diri?
Apa agama yang salah?
Jika ia apanya yang salah?
Dimana salahnya?
Apa tidak cukup sebuah tuntunan?
Petunjuk jalan kehidupan
Dari al-Fatihah sampai an-Nas
kenapa mereka bagai binatang yang ganas?
Ketika kotak syetan kunyalakan
Dia tersenyum
Dan sesekali mengerutkan dahi
Sungguh kasihan
Tak sadar memakan bangkai saudaranya dengan ghibah
Mengejar mimpi yang bernama rating
Mungkin untuknya kehidupan dunia lebih penting
Aku bukan ahli filsafat
Yang cakap dengan ribuan jawaban
Aku bukan politikus
Yang mampu mengelak pura-pura tidak tahu
Aku hanya hamba Allah
Yang setiap detik bertanya
Agama yang dzalim pada mereka
Atau mereka yang mendzalimi agama
Gadis
Kini berdiri di atas jembatan kayu
Diantara jurang dan lembah dalam hati yang mulai layu
Sekali lagi berkata
Bukankah harapan itu masih ada?
Sekali lagi mengingat kata-kata pria dengan pakaian lusuh itu
“Bangunlah nak,
lalu berjalanlah kesana,
maka kau akan temukan setetes air di tanah yang gersang.
itulah bukti bahwa Allah tak pernah berjalan meninggalkanmu satu langkahpun
meski kamu berlari ribuan langkah menjauhi-NYA,
Allah
bahkan saat bayanganmu telah lelah menemani”
tekadnya bulat
jemarinya beranjak pasti
menggenggam tas yang sejak tadi terpaku
menatap bisu tuannya
Gadis
Membuka pintu harapan
Melompat dari masa lalu yang sudah ia tinggalkan
Melangkahkan kakinya dengan salam
Memohon do’a dari lelaki lusuh yang setia menjaganya
Di hadapannya
Kini ada 3 bidadari syuga
Menyambutnya dengan senyum
Senyum jawaban
Bahwa agama tak pernah salah
Ia mengangguk
Lalu tersenyum dengan mata berkaca kaca
Mereka beranjak pergi
Dalam lembaran yang bernama dakwah
Merajut kisah diantara sejuta benang kusut
Meluruskan sebuah jalan hidup
Bergengggaman tangan dalam cinta
Bernama ukhuwah
Lagi-lagi aku ditinggalkan
Namun aku
Ini aku buku harian Gadis
………………….
No comments:
Post a Comment