Buku Harian Gadis part #3

Jendela coklat tua dengan kaca buram sudah terbuka sejak tadi

Sejak surya masih malu malu beranjak dari tidurnya

Dan embun mulai menggelantung di ujung daun

Bersiap jatuh menyapa rumput yang berbaris rapi di antara bebatuan

Hijau dan hitam kini menjadi satu

Dalam bias warna di atas sebuah jalan terjal

Bernama kehidupan



Gadis

berdiri terpaku di depan cermin

dalam diamnya dia berpikir

dalam pikirnya dia berkata

“kini cermin tak lagi jujur”

Bukan wajah halus dan ceria yang dia lihat

Yang ada hanya refleksi dari rasa putus asa

Wajah tua menyebalkan

Garis hitam di bawah kelopak mata

Tidak!



Dia tidak suka wajah itu

Tangannya mengepal, tubuhnya terguncang

Dia ingat kata-kata lelaki tua berpakaian lusuh itu

“Bangunlah nak,

lalu berjalanlah kesana,

maka kau akan temukan setetes air di tanah yang gersang.

itulah bukti bahwa Allah tak pernah berjalan meninggalkanmu satu langkahpun

meski kamu berlari ribuan langkah menjauhi-NYA,

Allah kan selalu ada untukmu

bahkan saat bayanganmu telah lelah menemani”

Ya muqallibal qulub

tsabbit qalbi ‘ala diinik



Gadis

Kini berjalan diatas kertas kisahnya

Mencoba memegang pensil takdir meski tak sanggup

memberikan penghapus pada Penulis kehidupan

memohon takdir buruknya dihapuskan

pikiran berdialog dengan hatinya

memunculkan sebuah drama

biarlah si kecil khansa

dan

pemilik satu tulang rusuknya pergi

dia ikhlaskan semua

toh semuanya tak mungkin lagi kembali

sejak percikan api itu membahana

7 detik bahagia dalam hidupnya

Berubah menjadi bencana

Ketika mereka yang disebut teroris merenggut nyawa teman hidupnya



Katanya agama itu kedamaian

Tapi kenapa memunculkan peperangan?

Katanya agama jalan keluar dari masalah

Tapi kenapa malah meneteskan darah ?


Kenapa ada tabir dalam takbir?

Ada dusta dalam kejujuran

Haruskah mereka yang disebut mujahid

Yang mengharap mati sahid

Pergi dalam keberanian bom bunuh diri?


Apa agama yang salah?

Jika ia apanya yang salah?

Dimana salahnya?


Apa tidak cukup sebuah tuntunan?

Petunjuk jalan kehidupan

Dari al-Fatihah sampai an-Nas

kenapa mereka bagai binatang yang ganas?



Ketika kotak syetan kunyalakan

Ada wanita duduk di bangku hitam

Dia tersenyum

Dan sesekali mengerutkan dahi

Sungguh kasihan

Tak sadar memakan bangkai saudaranya dengan ghibah

Mengejar mimpi yang bernama rating

Mungkin untuknya kehidupan dunia lebih penting


Aku bukan ahli filsafat

Yang cakap dengan ribuan jawaban

Aku bukan politikus

Yang mampu mengelak pura-pura tidak tahu

Aku hanya hamba Allah

Yang setiap detik bertanya

Agama yang dzalim pada mereka

Atau mereka yang mendzalimi agama


Gadis

Kini berdiri di atas jembatan kayu

Diantara jurang dan lembah dalam hati yang mulai layu

Sekali lagi berkata

Bukankah harapan itu masih ada?

Sekali lagi mengingat kata-kata pria dengan pakaian lusuh itu

“Bangunlah nak,

lalu berjalanlah kesana,

maka kau akan temukan setetes air di tanah yang gersang.

itulah bukti bahwa Allah tak pernah berjalan meninggalkanmu satu langkahpun

meski kamu berlari ribuan langkah menjauhi-NYA,

Allah kan selalu ada untukmu

bahkan saat bayanganmu telah lelah menemani”



tekadnya bulat

jemarinya beranjak pasti

menggenggam tas yang sejak tadi terpaku

menatap bisu tuannya

Gadis

Membuka pintu harapan

Melompat dari masa lalu yang sudah ia tinggalkan

Melangkahkan kakinya dengan salam

Memohon do’a dari lelaki lusuh yang setia menjaganya



Di hadapannya

Kini ada 3 bidadari syuga

Menyambutnya dengan senyum

Senyum jawaban

Bahwa agama tak pernah salah

Ia mengangguk

Lalu tersenyum dengan mata berkaca kaca


Mereka beranjak pergi

Dalam lembaran yang bernama dakwah

Merajut kisah diantara sejuta benang kusut

Meluruskan sebuah jalan hidup

Bergengggaman tangan dalam cinta

Bernama ukhuwah



Lagi-lagi aku ditinggalkan

Namun aku kan tetap bercerita

Ini aku buku harian Gadis

………………….

No comments:

Post a Comment