Fadhil

"Fadhil udah hafal semua, 36 ayat". celetuk fadhil, saat ku tegur ketika sedang mengulang hafalan al-Qur'annya. surat at-Tatfif. Wailul lil muthaffifin, begitu bunyi ayat pembukannya.

aku tertegun, Ya Rabb. aku hanya hafal ayat pembukanya saja. dua minggu lalu ketika aku belajar tahsin di rumah ustadz Suhendar giliran surah itu yang kami baca, namun aku sama sekali belum hafal. aku baru dua kali ikut pelajaran tahsin. dan aku sungguh malu pada diriku yang bodoh ini.
"kenapa baru sekarang kamu belajar dod?" hati kecil selalu berbisik.

dulu aku merasa hafalan yang aku punya sudah cukup, an-Nas sampai ad-Dhuha. dengan sedikit lupa lupa ingat di beberapa surah. dulu aku bangga dengan hafalanku yang sangat sedikit itu.

"mang Dodi udah apal belum?" tanyanya.
"belum"
"ahhh payah, masa kalah sama anak kecil"
"bantuin dil, mamang mau ngapalin jg"

"gimana sich, teteh aja udah hafal 2 juz, tinggal ngejaganya nich yang susah". teteh ikut bicara.
ia, tetehku yang selama ini jadi panutanku, dia yang memberiku inspirasi untuk lebih mengenal Islam, dengan keterbatasan yang aku punya namun sesungguhnya suatu kelebihan yang Allah berikan. hampir setiap hari teteh ikutan ngaji, dari mulai tahsin sampai bahasa arab.
suaminya yang simpatisan salah satu organisasi khilafah dan partai islam, selalu mendukungnya. Ummi tak pernah keberatan di titipi fadhil kecil yang kini sudah kelas 4 di SDIT KAIFA. sekarang giliran anak kedua teteh, Fathia, yang sering ummi asuh.

Ummi tak pernah mengeluh dititipi Fadhil atau Fathia, karena keduanya anak yang shaleh dan shalehah Fadhil kecil agak cengeng memang, tapi cucu kesayangan bapak ini tak selalu membuat repot. sedangkan Fathia si kecil yang baru berumur 2 tahun selalu ceria dan jarang menangis, tingkahnya lucu selalu membuat ceria orang di sekitarnya. Betapa beruntungnya teteh di amanahi 2 anak yang shaleh dan shalihah, semoga dia selalu istiqomah.

Aku sungguh malu, begitu banyak waktu yang aku sia siakan, kini hampir 6 bulan semenjak ak lulus SMA, aku menjadi pengangguran. padahal waktu 6 bulan yang Allah berikan padaku sangat berharga.

Aku jadi teringat Adam. temaku yang masuk pesantren modern, saat bertemu ramadhan lalu dia sudah hafal 30 juz, dan sekali lagi aku sunggu malu.

"Mau kuliah dimana dam" tanyaku
"InsyAllah, kalau pondok ngijinin pengennya ke madinah"

MADINAH???
tempat yang selalu teteh ucapkan padaku, dia selalu berkata kuliah tuh di madinah dod.
"coba cari beasiswa ke madinah kan ada banyak, di internet juga ada kan"begitu katanya.

Aku mencoba mengukur diri, apa yang aku punya? 2 surah yang paling aku senangi al-Ghasiyah dan at-Thariq, tak sebanding dengan hafalan Adam yang 30 juz ditambah hadist-hadist arba'in itu. Adam juga menjadi guru matematika di pondoknya, subhanallah.

lalu apa aku harus terus menatap kesuksesan orang lain, terus merenung tanpa berbuat apa pun?

ya Rabb...
Ampuni hambaMU ini,
Bantu hamba agar istiqomah di jalanMU

Ba'da maghrib, ditemani Fadhil aku memulai tilawah, Wailul lil muthaffifin...
Sekali lagi Allah menegur hati nuraniku, Alhamdulillah...



Bogor, 27 November 2009

No comments:

Post a Comment