Tertawan Dosa

Mei adalah bulan yang berat, di bulan ini barangkali saya akhirnya sampai pada satu titik dimana keragu raguan menjalar dan mengajak lebih banyak merenungi diri sendiri. Tentang hidup yang akan dibawa kemana, pekerjaan dan amanah amanah yang Allah titipkan. Apa saya akan mampu?

Saya merenungi bahagianya Abu Bakar saat dipilih menemani Hijrahnya Rasulullah SAW dari Mekkah ke Madinah, binar mata dan semangatnya yang menggebu menjadi luapan kegembiraan yang tiada tara. Padahal dalam bahagianya, ada nyawa yang akan ia gadaikan, ada keluarga yang akan ia tinggalkan, ada kejutan dari Allah yang tak nampak oleh mata apakah suka atau duka yang akan membersamai.

Allah...

Siapa saya, hamba yang Allah berikan begitu banyak kemudahan hidup dan fasilitas. Namun seringnya lalai dan lupa akan hidup yang sementara. Kadang kadang mudah menyerah saat hidup rasanya semakin berat, kadang kadang terkubur dalam futur berkepanjangan hingga terlalu lama tersungkur dalam khilaf dan keburukan.

"Dia (Zakaria) berkata, “Ya Tuhanku, sungguh tulangku telah lemah dan kepalaku telah dipenuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada-Mu, ya Tuhanku."
QS. 19:4

Mungkin ada dosa dan khilaf yang masih membuat saya tertawan, membuat malas dan sering lalai dan lupa mengucap syukur. Kalau ingin sekuat Nabi Zakaria, haruslah saya berjuang lebih berat, melangkah lebih jauh, bertekad lebih kuat.

Rabbi...


Bagaimana saya kelak saya akan mempertanggungjawabkan usia yang seringnya dilalui dalam kesia-siaan ini?




2 comments:

  1. Bagi sebagian orang Dod, utamanya yang hidup di negeri empat musim, Mei adalah bulan festival! Festival Bulan Mei yang ditandai dengan maraknya bunga-bunga bermekaran. Saya yakin Dodi juga begitu ^^

    ReplyDelete