Laki Laki

Percayalah, tulisan tulisan di blog ini lebih banyak saya tujukan pada diri saya sendiri. Hingga saat jenuh datang dan kadang lupa untuk mensyukuri nikmat Allah yang kadang saya rasakan, saya bisa mengingat lagi kemudahan dan kebaikan kebaikan yang saya dapatkan dalam hidup. Saya percaya bahwa tulisan adalah salah satu cara saya menghilangkan keluh dan kesah pada diri saya sendiri, tulisan adalah luapan emosi yang diterjemahkan oleh jemari. Maka tulisan yang menggambarkan rasa inilah barangkali salah satu cara saya berkontemplasi. Lagi lagi begitulah lelaki, atau mungkin tepatnya begitulah saya.

Menjadi bungsu adalah takdir yang saya tak akan pernah bisa lari darinya, dulu ingin rasanya punya adik perempuan tapi Ummi sudah enggan punya anak lagi. Lalu Allah dengan kuasanya menghadirkan enam keponakan perempuan dan dua laki laki, maka saya tertegun dan berpikir, inilah tanggungjawab saya di masa depan. Empat orang kaka itulah yang bergantian merawat saya saat kecil, teteh adalah yang setia menemani hari hari saya saat Ummi beranjak melangkah ke kebun teh dan pulang di sore hari dengan beberapa gorengan yang sejak pagi saya inginkan. Saya masih ingat saat Ummi menghilang dibalik pepohonan dan meningalkan saya bermain bersama teteh di halaman rumah, lebih dari 20 tahun lalu. Agar saya rela ditinggalkan, Ummi selalu menjanjikan gorengan, pisang dan tempe.

"Bungsu bade di bawakeun naon?"
bungsu mau dibawain apa?

"Gorengen Mi, gorengan tempe sareng cau"
Gorengan Mi, Gorengan tempe dan pisang.

Bungsu adalah ketetapan dari Allah. Saat saya SMA bahkan sudah kuliah, Bapak masih sangat sering memanggil saya "si bungsu" saat saya setengah tertidur kala kami sama sama menonton bola, dan tanganya seringkali mengusap ngusap punggung saya hingga akhirnya saya terlelap. Sambil mendo'akan dan bergumam akan harapan dan impiannya melihat saya di masa depan.



Lalu, saya selalu bersyukur menjadi bungsu, menjadi laki laki, menjadi anak yang paling dekat dengan semua orang di keluarga, menjadi bungsu yang pernah dirawat oleh semua Aa dan Teteh. Aa adalah yang menemani saya, berteriak teriak diatas genting menyaksikan pesawat terbang silih berganti sementara di seberang jalan mobil berlalu lalang saat kami beranjak ke Jakarta dan menetap disana. Memulai sebuah jalan tentang hidup yang akhirnya membawa kami ke Bogor beberapa waktu kemudian.

Menjadi laki laki adalah takdir yang membuat saya harus banyak berjuang, memperjuangkan harapan mereka yang banyak mendo'akan kebaikan, mereka yang tau betapa egois dan emosionalnya saya. Saat melihat saya bermain dalam turnamen futsal, Bapak pernah bercerita betapa tenangnya saya saat bermain bola, jarang sekali terlihat ingin marah atau terpancing gaya bermain lawan, sungguh berbeda dengan sifat saya sebenarnya. Maka bermain futsal adalah salah satu cara saya meredam emosi dan pikiran yang bergejolak.

Beginilah saya, yang terlalu suka menuliskan hal hal yang barangkali tak semestinya saya tuliskan, tapi saya ingin. Ingin membuat diri saya berkaca dan merenung tentang siapa saya hari ini. Sekali lagi, percayalah apa apa yang saya tulis ini adalah pengingat untuk diri saya sendiri, tempat saya bercermin dan melihat raut takdir yang selama ini saya coba jalani.

Ada maaf yang semestinya saya ucapkan, pada yang sering tersakiti. Pada yang sering tersinggung atas khilafnya perilaku dan tutur kata. Memang beginilah saya, teriring maaf dan mohon do'a. Ummi, Bapak, Aa, Teteh.

No comments:

Post a Comment