Bagaimana mungkin senja rela berpaling menuju malam, tanpa menitipkan syair syair kelu tentang perpisahan. Buatkan aku syair itu, yang saat jalanan meneriakkannya kau pun rela mematung, menunggu sama sama. Menikmati sastra yang berbalut bait, meski kau tak pernah mengakui. Aku tahu, ada prosa yang berulang kau baca, ungkapkan rindu yang belum mampu kau temukan kembaran rasa.
Popular Posts
-
Untuk Dodi 20 Tahun Lalu, Dear Dodi, apa kabar? Masih takut kalau hujan dan petir datang bergantian? Cobalah untuk menikmatinya, meski ha...
-
minggu 28 agustus 2011 12.18 am kalo dipiki pikir gue gak ngerti kenapa jam segini gue masih bangun, rela relain ngeinstall ulang laptop sod...
-
hidup lagi-lagi berubah cepat, diantara kita ada yang masih diam dan termenung sejak musim hujan ini datang. bahkan di kota hujan ini, b...
-
Ramadhan ini, mungkin banyak jamaah di masjid dekat rumah yang merindukan sosok itu. Sosok yang pernah terjatuh kala shalat tarawih masi...
-
Beberapa hari lalu saya menonton film foxcatcher yang bercerita tentang Mark Schultz, atlet gulat Amerika Serikat peraih medali olimpiade ...
-
Masa lalu,masa yang setiap lembarnya adalah... Maghrib itu, saya melihat masjid dengan tatapan malas meski shaf di dalamnya sudah rapi...
-
Di luar hujan turun perlahan, membuat tanah begitu gembira menyambutnya dengan nyanyian mesra kerinduan. Angin yang tak juga diam, membawa ...

No comments:
Post a Comment