Ada Apa Dengan Cinta 2

Tulisan berbulan bulan lalu, beberapa hari setelah nonton AADC 2, kenapa saya memutuskan untuk nonton? hmmm biar ada yang bisa di kritik mungkin. Alasannya, karena ada beberapa temen yang secara subjektif menilai buruknya film ini tanpa menontonnya terlebih dahulu? Jadi dari mana munculnya kritik itu?

AADC 2


Bersama 4 orang teman masa SMA, sambil bertanya kabar dan saling sapa setelah sekian bulan tidak bertemu, saya menonton film ini. penasaran yang luar biasa setelah 14 tahun sejak AADC pertama pasti bukan cuma saya aja yang ngerasain. 


Gimana sih Rangga sekarang? Atau perubahan apa yang terjadi pada Mamet yang akan segera menjadi seorang ayah?.


Riri Riza membuka scene awal film ini dengan memperkenalkan kembali sosok Cinta bersama seorang lelaki yang menjadi calon suaminya dan empat teman dekatnya. Film ini lalu jauh melangkah ke Brooklyn tempat paling padat di New York City dimana Rangga tinggal dan bekerja. Riri Riza tidak merubah Rangga sama sekali, tetap cool, simple dan misterius seperti Rangga yang dihidupkan oleh Rudi Soedjarwo pada AADC pertama dulu. Saya mengira ngira barangkali hadirnya kembali Prima Rusdi sebagai penulis seperti pada AADC pertama membuat film ini tidak banyak kehilangan identitas. Masih kuat dan membangkitkan memori film pendahululunya (mohon maaf kalau keliru, saya bukan kritikus atau pemerhati film hehe).


Kenapa Cinta dan Rangga bisa ketemu di Jogja?

Entahlah, film selalu punya banyak cara untuk menggabungkan prasangka dan kira kira menjadi jalan cerita yang menarik, secara pribadi saya gak terlalu suka cara Rangga kembali bertemu dengan Cinta. kenapa gak ketemu di Bogor atau Bekasi? kenapa harus Jogja?   

Lagi lagi saya mengira ngira, ABG atau anak baru gede akan menjadikan lokasi syuting film ini sebagai tempat romantis mereka untuk berfoto ria. artinya film ini akan menjadi panutan remaja dalam menjalani kisah cinta dan roman picisan yang mengelilingi mereka saat ini; pacaran, sayang sayangan, galau akut hingga adaptasi tokoh film idolanya menjadi sosok yang ada pada diri mereka di dunia nyata. 


Sosok Rangga dan Cinta boleh lah kita bilang 'legenda' kisah percintaan generasinya. AADC yang muncul pada 7 Februari 2002 memang menjadi tren dan penggugah banyak cowo untuk bersentuhan dengan sastra, terutama dengan Chairil Anwar. kita juga gak boleh lupa AADC pertama mengajak perempuan usia 17an mengenal dance seperti yang disajikin oleh Cinta dan teman temannya pada sebuah adegan di AADC pertama.


AADC 2 adalah film keren luar biasa, meski saya kecewa dengan alur pertemuan Rangga dan Cinta, juga 5 menit terakhir yang mengundang komentar 'ko gitu sih?, aneh banget'. Dari sudut pandang penikmat, pecinta dan penyimak film amatiran seperti saya, AADC bener bener pecah!


Namun, apakah Riri Riza mengajak remaja dan insan yang terkekang oleh percintaan untuk menafsirkan 3 kali ciuman dalam film ini sebagai ekspresi kebebasan?


Atau apakah kisah akhir Cinta dan Rangga di film ini adalah pesan Riri Riza tentang penafsiran yang bebas tanpa batas tentang 'Cinta Sejati'?


Kalau iya, tentu film ini luar biasa merusak, efek domino yang melekat pada remaja tentang pacaran dan hubungan mereka dengan lawan jenis sesuai tafsir film ini mungkin berujung pada hal negatif. Sisi penyegarnya adalah pesan moral tentang persahabatan tanpa imbalan yang disajikan Dian Sastrowardoyo, Titi Kamal, Sissy Priscillia, Adinia Wirasti dan Dennis Adhiswara yang katanya 'sahabat sejati' itu. 


Menengok para pembuat film yang menyampaikan pesan dibalik karya mereka, Chaerul Umam misalnya muncul dengan Titian Serambut Dibelah Tujuh lalu berlanjut pada Ketika Cinta Bertasbih 1 dan 2. Titian Serambut Dibelah Tujuh punya pesan kebaikan yang kuat namun disajikan apa adanya sesuai realita, sementara KCB menurut saya adalah film dakwah paling sempurna, mulai dari casting, pembuatannya hingga hasil akhir yang sudah kita lihat bersama.



Cerita seorang kenalan yang beberapa bulan lalu melihat penonton keluar bioskop saat menonton salah satu film islami, juga kecewanya teman saya pada film islami yang kaku dan boro boro dibilang biasa, kualitasnya dibawah standar namun terkesan dipaksakan naik layar bioskop adalah kritikan yang harus diterima dengan lapang dada. tentu kita gak bisa menyepelekan usaha kawan kawan yang rela membuat film islami dengan budget terbatas bahkan menggunakan uang pribadi dalam prosesnya, tapi kita sama sama belajar bahwa film positif bukan hanya tentang dialog dan tampilan yang baik tetapi juga perlu memperhatikan penafsiran dari penontonnya. rasanya naif juga jika film tidak mengejar rating dan jumlah penonton, bagaimana pesan kebaikan akan sampai jika penilaian penikmat film tidak sesuai dengan ekspektasi mereka?

Dalam konteks ini akhirnya muncul pertanyaan, film Islami itu apa definisinya?

Hadir dengan kisah sederhana yang didukung dengan akting berkualitas dan dialog yang kaya, AADC 2 sejak rilis 28 Februari 2016 berhasil menarik 3.665.505 penonton di Indonesia saja. KCB 1 selama penayangannya sukses dengan 3.100.906 penonton dan KCB 2 meraih 2.003.121 penonton.  


Tentang Film

Bersama teman teman SMA, kami iseng membuat proyek film di penghujung kelas 12. Film itu menjadi film terfavorit di LA Indie Movie chapter Bogor. Dari sini saya berkenalan dan mencoba menonton beberapa film diluar kebiasaan saya semisal The Shawshank Redemption, A Beautiful Mind, Spotlight, Whiplash hingga film korea yang bikin saya nangis bombay! Miracle in Cell No.7. Dari film saya menemukan hal baru dan sudut pandang baru, belajar memahami banyak karakter dan hal hal yang tidak terprediksi dalam hidup (baca: dalam film).

Lalu, tentang film islami.

Kita, saya kira kita setuju bahwa ada rasa rindu pada film islami yang sejuk dan menyejukan, tanpa membanjiri mata dan pikiran dengan pesan pesan yang kaku dan dipaksakan, atau membuat beku nalar dan menutup telinga dari kritik dan dukungan yang kadang datang dengan bahasa yang terlalu lantang.

Percayalah, saya sudah mengurangi jam menonton film hehehe.

No comments:

Post a Comment