Jodoh Untuk Kaki, Tangan dan Pundakmu

Di luar hujan turun perlahan, membuat tanah begitu gembira menyambutnya dengan nyanyian mesra kerinduan. Angin yang tak juga diam, membawa hujan berdansa di langit, menari nari dengan bebas sambil sesekali melempar senyum pada payung payung yang berlarian di Bumi. Di depan stasiun, anak anak kecil menghampiri orang orang yang menunggu hujan reda, mereka tersenyum saat beberapa menerima ajakannya untuk menggunakan jasa ojek payung lalu mengikutinya berjalan di belakang. Hujan sore itu, lebih dari sekedar cara untuk melupakan kering dan terik, ia datang dengan alunan melodi pada yang mau bersyukur atas hujan yang selalu turun keroyokan. 

Saat hujan usai, ada Jingga yang beriringan dengan merah, hijau dan lainnya, membentuk lengkungan polikromatik di langit. Pelangi, ia datang dan orang orang menyambutnya dengan ramah, membiarkan beberapa detik dari hidup mereka untuk mengagumi bias cahaya yang diluluhkan butir butir air. Jingga itu, sekali lagi hadir diantara senyuman dan nafas kehidupan. Bersama dengan langit yang perlahan mulai memerah, di seberang jalan ada mata yang mencuri pandang mengagumi dan mencintai matahari terbenam. Jauh di dalam dirinya ia mengangguk percaya, kini ia temukan jodohnya.





"Melodi ini membuat saya sulit sekali mencari liriknya". Taufik Ismail menjawab hati hati permintaan dari Christian Rahardi atau yang banyak orang kenal dengan Chrisye, seorang penyanyi yang memberi banyak warna untuk dunia musik Indonesia. Waktu itu tahun 1997 saat Chrisye merasa bimbang kala menyelesaikan melodi untuk lagu barunya dan meminta bantuan sang penyair, Taufik Ismail untuk membuatkan liriknya.


Setelah sebulan lamanya lirik itu tak kunjung selesai, hingga akhirnya Taufik Ismail mengundang Chrisye untuk datang ke rumahnya, lirik lagunya selesai dalam satu jam. Chrisye lemas dan bergetar, tak sanggup meneruskan kala bait pertama selesai ia nyanyikan. Dalam penghayatannya berkali kali Chrisye menangis saat menyanyikan lagu itu, begitu menyayat, mencekam, dan menggertarkan. 


Akan datang hari

Mulut dikunci
Kata tak ada lagi

Akan tiba masa

Tak ada suara
Dari mulut kita

Berkata tangan kita

Tentang apa yang dilakukannya
Berkata kaki kita
Kemana saja dia melangkahnya

Tidak tahu kita

Bila harinya
Tanggungjawab tiba

Rabbana

Tangan kami
Kaki kami
Mulut kami
Mata hati kami
Luruskanlah
Kukuhkanlah
Dijalan cahaya
Sempurna

Mohon karunia

Kepada kami
Hamba-Mu yang hina

Lagu Ketika Kaki dan Tangan Bicara, lirik lagu yang Taufik Ismail tuliskan kala terilhami Surah Yasin ayat 65. Lagu yang membuat Chrisye bercucuran air mata dalam proses rekamannya hingga ia selalu gagal menyanyikannya sampai selesai, saat akhirnya ia dapat menyanyikannya hingga lirik terakhir, lagu itu tidak pernah mengalami take ulang. Sehingga lagu yang mungkin pernah kita dengar itu adalah murni syahdunya Chrisye saat berhasil menyanyikan lagu itu untuk pertama dan terakhir kali dalam proses rekaman.


Chrisye : Sebuah Memoar Musikal, buku yang menceritakan dengan lengkap perjalanan Chrisye dalam hidupnya, dari musik hingga hal pribadi termasuk saat ia memutuskan menjadi seorang muallaf. Buku itu saya dapatkan dari seorang Ibu, pemilik bangunan yang kami sewa untuk dijadikan sekretariat. Ibu itu bersemangat saat saya bercerita ingin membuat perpustakaan kecil di sekretariat kami, esoknya ia meminta saya datang berkunjung ke rumahnya dan memberikan satu kardus penuh buku, seperti biasa ia selalu banyak bercerita tentang pengalaman hidupnya, juga tak pernah sungkan memberi nasehat. Bagi Ibu itu, kami yang menyewa bangunan miliknya adalah anak anaknya. Ia yang selalu menyuguhkan makanan sambil memaksa saya untuk makan kala bertamu, jika saya menolak ia langsung menyiapkan perbekalan agar saya tidak pulang dengan tangan hampa. Ibu itu, rahasia Allah dalam selipan do'a Aa dan Teteh, jawaban dari surat cinta atas kesungguhan dan pengorbanan Tangan, Kaki dan Pundakmu.


Sekretariat baru ini adalah jawaban atas do'a banyak tangan, jawaban dari keresahan yang berlalu lalang tanpa mau berhenti. Resah itu hilang saat saya, a Rinal dan Umar pertama kali bertamu. Ibu menyambut dengan keramahan dalam raut wajahnya. Dia mengucap syukur, katanya kami adalah jawaban atas do'a - doa'nya. ya Rabb, pundak kami bergetar, ada beban dan rasa syukur yang tiba tiba muncul saat itu. Allah menjodohkan kami dengannya, mengikat dalam persaudaraan.


Dalam do'anya Ibu itu pernah meminta, agar yang datang dan bersungguh sungguh untuk menyewa bangunan miliknya adalah orang orang yang bisa menjadi perantara peningkatan amalnya, orang orang yang bermanfaat untuk sekitar, yang peduli dan mau berjuang untuk kebaikan. ia bercerita pernah ada yang ingin menyewa dengan harga lebih mahal tapi dia tak merasa ikhlas dan ridho, hingga kami datang lalu ia pun menerima harga sewa yang  lebih murah juga bebas menggunakan fasilitas tertentu di dalamnya. Kami tertegun, diantara senyuman yang mewakili rasa syukur dan haru, kami tau ini amanah baru.



Diantara jenuh dan lelah yang kadang mengusik, saya bersyukur menjadi bagian dari kesungguhan orang orang ini yang rela datang pada suatu malam di bulan November 2013, mengangkat beban ke mobil yang lalu mengangkutnya ke sekretariat baru. Malam itu kita tau, meski beban yang diangkat memang berat tapi tawa yang mengiringinya selalu bisa mengusir rasa letih. Kita memulainya lagi, mengumpulkan pecahan - pecahan kristal kebaikan, mengagumi rahasia yang telah Allah gariskan di atas roda zaman.


Bangunan di Jalan polisi itu menyuguhkan banyak potongan penting dalam kisah banyak orang, termasuk kala menjadi teman dalam kesendirian saat saya mengejar tugas akhir agar bisa lulus kuliah tepat waktu. Dan di penghujung tahun itu, saya lulus setelah melewatkan minggu demi minggu yang dilalui dengan mata yang terkantuk kantuk karena terlalu sering terjaga hingga larut malam.


Ada komunitas yang lahir dari sini, juga banyak kegiatan bermanfaat yang menyentuh banyak orang. ceritanya tak lagi tentang jengahnya saya pada yang ogah ogahan mencuci piring setelah dipakai (udah 1 taun, masih gak sadar sadar, sungguh terlalu...). Komunitas yang lahir itu membawa energi baru, cerita baru, orang orang baru dan kebaikan kebaikan baru dari banyak pelajar yang menginspirasi.









Di bangunan ini, saya merasa malu pada Aa dan Teteh yang masih rela melangkah tegap kala beban di pundak malah bertambah. saya malu, pada Aa dan Teteh yang rela tidur larut lalu bangun beberapa jam kemudian, bersujud dikala yang lain terlelap, menguatkan tekad dikala yang lain mulai ragu, dan esok paginya selalu datang lebih dulu saat ada kegiatan menunggu. saya malu, pada yang tak banyak bicara dan ikhlas berjalan beriringan dengan amanah, disaat saya malas malasan mengembannya.

Suatu pagi kebingungan muncul ketika saya bangun dari tidur, mencoba meraih handphone dan semakin panik ketika beberapa waktu berselang masih tidak menemukannya. mata saya lalu beralih ke tempat lain, laptop Asus kesayangan juga tidak ada. saya berjalan ke ruangan depan, pintu sedikit terbuka, tubuh saya lemas ketika tersadar kamera DSLR a' Asep yang ba'da shubuh masih tersimpan rapi diatas kursi kamar juga hilang.   

   
"banyak banyak istighfar...". suara Guru Ngaji di ujung handphone menenangkan beberapa hari berselang, meski dalam hati kebingungan tapi pikiran mulai jernih dan tenang. Mungkin barang yang hilang itu adalah teguran karena lebih sering membuat terlena, lupa pada amanah, kehilangan itu membuat saya yakin bahwa suatu saat Allah akan menggantinya dengan sesuatu yang lebih indah.

Bangunan ini punya garis dan titik yang tak serupa, namun ketika mereka bersama ada gambar serta warna yang membersamainya. warna yang tegas tapi lembut, seperti seorang ibu yang mendekap mesra anak anaknya. Memberikan kehangatan lewat tangan dan tutur katanya menjelang tidur, membisikkan do'a dengan lirih sambil sesekali mengusap usap kepala lalu menutupnya dengan kecupan di kening saat anak anaknya mulai terpejam hingga terlelap.


Aa dan Teteh...

Suatu malam akhirnya jodoh bertamu. Mengetuk pintu, melangkah masuk lalu duduk diatas sofa. Malam itu saya memperhatikan mereka, tubuh tubuh yang hampir 3 tahun belakangan ini sering saya lihat. Tangan, Kaki dan Pundak yang Allah hadirkan di depan Ibu. Mereka bersepakat membeli bangunan ini, setelahnya ada syukur dan helaan nafas yang panjang. Ada energi yang entah datang dari mana, yang menguatkan Tangan, Kaki dan Pundak mereka, saya tau ada Allah yang membersamai kita, yang akan melunaskannya segera. ya segera...





Jodoh Untuk Kaki, Tangan dan Pundakmu
Bogor - Jakarta
November 2015

    




4 comments:

  1. Dod,pas yg dodi bilang hanphonenya hilang...pas d paragraf setelahnya ko bicara dengan guru ngaji (tsaaah...siapa tuh..) di ujung handphone? Ahaha...
    Tulisan yg okeh dod. Meski di bagian awal kalimatnya amat bersayap khas dodi bingits..hehe.. Suka!

    ReplyDelete
  2. Wah keren keluar juga tuh tangan dan kaki bicaranya....bravo.....keren...keren....nanti kita kumpulin tulisan sejenis jadikan buku....kisah cerpen RPPI

    ReplyDelete
  3. Komentar "sungguh terlalu"-nya merusak suasanaaaa.

    ReplyDelete