Surat Cinta, Untuk Tangan, Kaki dan Pundakmu

Surat Cinta,

saya memulai ini dari rasa cemas, gelisah dan gundah pada sesuatu.
pada yang belum mau mengerti betapa berat dan lelahnya Aa dan Teteh itu melangkah, pada yang mencemooh dan menertawakan, pada yang bersungut sungut tapi tak banyak membantu, pada yang diam dan enggan beranjak, pada yang hari harinya habis dengan lelah dan terlelap, padamu...




Menyapu lantai yang kau injak, meniup debu yang kau duduki. Diatas lantai yang berdebu ada kipas yang berputar, ia enggan turun dari langit langit, meski mungkin ingin tapi ia begitu setia pada takdirnya...



Untaian kata kadang mendefinisikan cinta dengan begitu sederhana, tapi hati dan perasaan akan menyanyikannya dengan senandung yang lebih mesra. Seperti senja yang tersenyum saat gelap mulai bicara, menceritakan hiruk pikuk hari kemarin dan berkisah tentang imajinasi hari esok, lalu dengan syahdunya menghadirkan yang tak tergambar menjadi nyata, menggelitik yang enggan tertawa, atau sesekali malah menggores tajam dan memunculkan luka. ahh jangan terlalu kaku dan serius, ini bukan tentang cinta biasa, yang biasa mudah terlupa...


sudah nonton film Inside Out? sebuah film animasi dari Pixar yang menggambarkan isi pikiran kita, film yang menerjemahkan dengan bebas setiap emosi yang lalu lalang dan membentuk kepribadian, bermacam emosi yang mencetak karakter tiap insan hingga kita menjadi berbeda, bahkan menjadi satu satunya, sungguh nyatanya kita memang begitu unik. luar biasa, begitulah saat Niat muncul lalu berpadu dengan Tekad maka lahirlah sebuah film yang proses pembuatannya selama 5 tahun itu.


Tentang Emosi, kalau boleh memperkenalkannya sedikit, saya ingin menggambarkannya seperti warna Jingga diantara abu abu dan hitam, tak menjadi pekat dikala yang lain memudar, tak mengeras ketika yang lain menjadi kaku. Ia begitu kuat, tapi tidak angkuh, Ia begitu santun tapi tidak lemah.

saya Dodi, alumni SMAN 6  Bogor tahun 2009 mengenal Jingga itu dari sebuah lingkaran kecil pekanan. lingkaran harmoni yang membersamai satu sama lain, menguatkan yang lemah, merangkul yang jengah, menasehati yang kesal dan sebal pada sedikit kisah hidupnya. saya belajar tentang perjuangan dan belajar berjuang didalamnya. Hingga hari ini masih belajar, kadang kadang tertinggal, kadang terjatuh, kadang malah merasa tak mampu. tapi, tak pernah ada yang meninggalkan apalagi membiarkan terperosok lebih dalam. Ada tangan yang merangkul lembut, ada kaki yang menapak kuat, ada pundak pundak yang memikul kepercayaan. satu sama lain saling mengerti, bila yang satu lelah yang lain akan memijit pundaknya bukan hanya menyemangati.    


Jingga itu saya kenal dari a' Kholis seorang kakak kelas selevel hokage. Beliau ahli mengolah cerita jadi pencitraan, membuat decak kagum yang beriringan dengan senyum dan tepuk tangan. menginspirasi, menghipnotis, membujuk, menarik, dan agak memaksa saya untuk menjadi marbot sekaligus kuncen di sebuah sekretariat, awal tahun 2012. Marbot? mungkin ada yang tertawakan tugas ini dan memandangnya sepele, ya silahkan aja :D 



Sekret Lama - 2012 - Ruang Rapat

Sekret Lama - 2012 - Ruang Rapat


Sekret Lama - 2012


Sekretariat itu ada di lantai 2 sebuah rumah, di pinggir jalan di depan Badak Putih di jalan Merdeka, tapi apanya yang merdeka? saya terjajah oleh cuaca, sungguh kalau hujan lantainya basah dan kotor, kalau cuaca cerah anginnya kencang membawa debu. kalau boleh jujur disini saya belajar banyak (sangat banyak) bersabar, berulang kali nyapu dan ngepel dikala hujan dan cerah berganti, cuci piring sisa pelajar dan forum alumni yang sangat bersemangat dan terpuji menyisakan satu gorengan diatas tumpukan piring, buat marbot katanya sih (gorengannnya atau piringnya?), tapi terima kasih, saya jadi tau alfamart dan indomaret mana yang harga spon, sabun cuci piring, karbol dan pewangi lantainya lebih murah, kalian baik sekali...


Di balik tragedi (biar dramatis) cuci piring itu kita sama sama belajar, ada lingkaran hikmah disini yang datang penuh istiqomah di malam malam tertentu, majelis ilmu silih berganti, juga ada rapat kecil dan besar, kadang kadang harus rela berdesakan, mengibas ngibaskan tangan mengusir panas diantara satu satunya kipas angin yang tak mampu berbuat banyak. Sekretariat ini adalah saksi dari wajah wajah yang Allah pilih dan terseleksi untuk mencerahkan masa depan bangsa, menginspirasi, membina, memberdayakan, bahkan mempersatukan (baca: menjodohkan, menghalalkan) orang orang didalamnya, cieee cieee, yang jomblo gak usah ketawa lahhh, gak usah sok ngerti.


ketika suatu pagi ba'da shubuh motor kesayangan salah satu pengurus hilang tanpa jejak, yang kehilangan cuma tersenyum. Panik sih pasti tapi tak muncul raut kesal sebal apalagi menyalahkan gara gara parkir di sekretariat itu motor jadi hilang, atau mengumpat gara gara sekretariat ada di lantai dua jadi tak bisa mengawasi kendaraan. sungguh, kita belajar lagi tentang ikhlas, dan yakin bahwa musibah juga datang beriringan dengan kabar gembira. Di lain waktu saat hujan lebat, yang tak punya kendaraan harus rela kehujanan, karena akses angkot ke arah tujuan harus ditempuh dengan sedikit berjalan. Banyak potongan cerita yang muncul disini, tempat berteduh dikala hujan dan panas, tempat terlelap dikala lelah menyapa. Rumah peradaban.


Suatu ketika saya juga pernah sakit beberapa hari, ingin pulang tapi rasanya malas karena badan super lemas. Hingga tiba tiba ada yang datang membawakan makanan, yang lain juga datang menyuapi dan mengingatkan untuk jangan melupakan Shalat. Padahal belum lama kenal, dan lagi lagi saya belajar bahwa ukhuwah memang begitu adanya, ia datang apa adanya bahkan tanpa banyak kata kata.


Jangan kau kira cinta datang dari keakraban yang lama dan pendekatan yang tekun. Cinta adalah kesesuaian jiwa dan jika itu tak pernah ada, cinta tak akan pernah tercipta dalam hitungan tahun bahkan milenia.
-Kahlil Gibran 


"kita harus pindah, kita cari sekretariat baru". kira kira begitulah percapakan sekelompok pemuda gagah di malam itu, beberapa berjenggot tipis, ada juga yang berjenggot lebat, lupa bercukur karena harga pisau cukur mulai mahal mungkin ya :D. Mereka saling pandang disebuah rapat yang mewajibkan segera pindah dan mencari sekretariat baru dengan kriteria maha istimewa;  aksesnya lebih mudah, lingkungannya lebih aman, bangunan lebih luas, lokasi strategis, di tengah kota dan yang paling penting harga sewanya MURAH, karena dana kita terbatas. 


Harus Cari Dimana?

Mulai hari itu, desela sela kuliah sambil ditemani sendunya lagu lagu Payung Teduh dan Banda Neira. saya dan Umay (hamba Allah yang dahulu kala dipertemukan di SMAN 6) mulai keliling di kota Bogor. hampir lelah dan mulai pasrah, gak ketemu yang lokasinya cocok dan harganya murah. Akhirnya kita temukan sebuah ruko, sangat strategis dan dekat dengan masjid, akses angkutan umum mudah, keamanan juga lebih baik dari sekretariat yang masih ditempati. kita sama sama tersenyum sambil berlalu ketika tau harga sewanya; 60juta/tahun, dana kita gak segitu. Sampai H-7, waktu dimana sewa sekretariat akan habis, berputar putar dengan Robin, motor kesayangan Umar. Bersama sisa sisa harapan dan titipan do'a.


Aa dan Teteh...


sungguh saya menteskan air mata saat ingat kesungguhan kalian berdo'a di sepertiga malam, memohon petunjuk saat sujud di rakaat terakhir tiap shalat fardhu dan sunnah, menginfakkan harta terbaik, bahkan rela di cemooh banyak orang, namun kalian selalu memberikan energi paling maksimal hingga Allah pun menakdirkan sebuah kejutan, kado istimewa...


sekretariat baru! 


yang harga sewanya terjangkau, lokasinya di tengah kota, akses angkot terbaik, dekat dengan stasiun yang memudahkan tamu tamu dari luar kota bergantian melakukan study banding hingga menginap. sekretariat dengan ruangan yang lebih banyak dan luas, dilengkapi dengan beberapa perlengkapan yang diizinkan digunakan oleh pemiliknya; piring, meja, kursi, kompor, kulkas, dan jawaban dari kegelisahan beberapa dari kalian disaat hawa panas muncul kala rapat menghadirkan banyak orang, 3 buah AC di beberapa ruangan. Allah maha kaya!



pelajar datang bergantian, lebih banyak dan lebih sering, bersemangat menebar manfaat untuk sesamanya, berharap inspirasi kebaikan menyebar lebih luas. Sekretariat ini juga melahirkan wajah baru, tali tali yang tersimpul kuat dalam SINTESA, sekumpulan wajah yang lahir dari rahim yang sama. 


kita berjodoh dengannya, dengan sekretariat ini yang pemiliknya adalah ibu dari teman salah satu pengurus Imago, seorang Ibu yang ramah dan baik hati. mengizinkan kita mengisi tempat ini dengan harga murah dan fasilitas yang alhamdulillah seharusnya membuat kita lebih banyak bersyukur dan produktif.



Aa, dan Teteh...



jadi untuk apa kita punya sekretariat?
bahkan rela berjuang dan mengemban amanah baru untuk melunasinya?


Muhammad Iqbal, dalam syairnya berkisah tentang Mi'rajnya Rasulullah SAW;


Padaku malaikat menawarkan,

”Tinggallah di langit ini, bersama syahdu sujud-sujud kami
Bersama kenikmatan-kenikmatan suci”
”Tidak!”, kataku, ”Di bumi masih ada angkara aniaya
Di sanalah aku mengabdi, berkarya, berkorban
Hingga batas waktu yang telah ditentukan.”


Buat saya, punya sekretariat yang aktivitasnya bermanfaat adalah cara untuk bertanggungjawab atas tugas menjadi khalifah di muka bumi, meneruskan estafet dakwah Rasulullah SAW. Karena sejatinya dakwah tak melulu tentang berapa banyak orang yang menjadi alim sehingga rajin shalat, ngaji dan puasanya. Dakwah adalah yang lantainya mereka duduki, lalu debunya kita bersihkan, atapnya sejuk, langitnya bersahabat, hujannya membuat rindu, dan pintu pintunya tak sungkan mengajak masuk. Ketika berpisah sejenak, tali simpulnya merenggang tapi tak lepas hingga ia semakin ingin untuk kembali ke Rumah ini. Rumah Peradaban yang dibangun dengan Tangan, Kaki dan Pundakmu.
Orang yang berbicara berbeda dengan orang yang bekerja. Orang bekerja berbeda dengan orang yang berjihad. Orang yang berjihad saja berbeda dengan orang yang berjihad secara produktif. Itulah aktifitas yang akan menghasilkan keuntungan besar dengan sedikit pengorbanan.-Hasan Al Banna








Surat Cinta, Untuk Tangan, Kaki dan Pundakmu
Jakarta - Bogor
Oktober 2015

10 comments:

  1. Awal baca rada lieur dengan kalimat bersayapnya dodi deh. Haha...di tengah-tengah, bahasanya mulai membumi..hehe...tulisan yang kece bangeeet Dod! Suka!

    ReplyDelete
  2. Cihuy! Si Robin di sebut.. Ahak ahak!

    Mantep nih, racauan si dodi jadi tulisan! Wkwkwk

    ReplyDelete
  3. Nice article....wrote from the heart :)

    ReplyDelete
  4. Meleleh.... air mata tak kuasa dibendung seberapapun kuatnya menahan.

    Tulisan kece!

    ReplyDelete
  5. Masya Allah! Tulisan yg menggetarkan, terutama bwt orang2 yg terlibat langsung dan ikut merasakan sendiri. Ga nyangka udh sejauh ini kita melangkah.. lanjutkan!!
    Thx dodi bwt inspirasinya. Must read nih.

    ReplyDelete
  6. Tess..Tess...tesss... Air mata deras... Terharu... Perjalanan mengantarkan sampai disini... Lanjutkan

    ReplyDelete
  7. Masya Alloh..merinding...

    ReplyDelete
  8. Ini dodi yg nulis? Dodi yg biasanya g*l*u?? :p

    Keren dod. Lanjutkan... :D

    ReplyDelete