wajah

saya pulang, dan wajah itu selalu tampil dengan senyumannya. wajah tua yang tak pernah bosan teteskan air mata disela sujudnya. untuk saya, kami dan semuanya. wajah tua yang semoga Allah mencintainya, membuatkan satu tempat terindah di perhentian terakhir.

ia muncul dengan gurat wajah yang telah banyak berubah, zaman telah mengubahnya, telah menguatkannya meski kadang keluhan selalu ada. tubuh yang tak lagi sekuat dulu, tangan yang tak lagi sekekar dulu, dan langkah yang tak lagi secepat dulu, hari ini ia ubah rasa lelah dengan rasa syukur.

masih dengan bahasa lembutnya yang mendekap hangat, ia kini terbiasa ketika takdir datang dengan fragmennya, dengan batasan batasan takdir yang tak pernah melebihi kemampuannya.

sesekali ia coba melompati zaman, mengurai benang kusut yang lama  menjadi teman.
mengakrabkan cerita cerita pada banyak orang, yang mendengarkan, yang acuh, yang membencinya. 

ia mungkin tidak pernah tau betapa gemerlapnya malam malam di bawah sorotan bintang dan lampu jalanan, ia mungkin tidak tau betapa cepatnya zaman membanting para pengejarnya, meninggalkan yang mulai lelah, melupakan yang mulai tertinggal, membuat putus asa yang tak mampu berlari bersamanya.

ia belajar membaca wajah dihadapannya dengan tenang. didepannya saya masih anak kecil yang dulu berlarian mengenal dunia. mencoba terbang dengan sayap yang Allah titipkan padanya. ia kini tau, zaman memang telah melompatinya. dan ia tau, zaman tak akan pernah melupakannya.






No comments:

Post a Comment