Nilai dan Ilmu Hidup


Banyak orang peduli dengan hal hal besar dan acuh dengan hal hal kecil, dan begitu juga sebaliknya. Orang bilang hidup adalah sebuah nilai, nilai yang harus di pertahankan, nilai yang harus di perbaiki. Mirip siklus anak sekolah yang terus menerus mencari nilai. Lalu sebenarnya seberapa pentingkah arti nilai itu?

Saya termasuk orang yang tidak terlalu perduli dengan ‘nilai’ itu, dalam artian nilai yang selama ini menjadi acuan bagi banyak orang untuk menjalani hidup. Nilai bagi sebagian orang adalah prestise atau kebanggaan tersendiri, prestise yang dengannya ia hidup, dengannya ia bernafas, dengannya ia di akui keberadaannya dalam lingkungannya.

Nilai hidup, apakah memang demikian?

Entah siapa yang mengajari saya tapi bukan itu nilai yang saya inginkan.

Nilai yang lebih penting bagi saya adalah hal atau sesuatu yang saya berikan untuk kehidupan, untuk generasi, untuk lingkungan. Jika saya tidak bisa berguna untuk kehidupan, generasi atau lingkungan, paling tidak saya berguna untuk diri saya sendiri. Itulah nilai bagi saya, sesuatu yang sampai hari ini belum saya temukan seutuhnya.

Saya mengutuk diri saya ketika menemukan fakta bahwa saya adalah orang yg apatis pada lingkungan. Apatis itu lahir ketika lingkungan tidak memberikan perhatian pada anak anak di generasi kami, apatis itu tumbuh ketika kami dibatasi, apatis itu semakin dewasa ketika lingkungan seolah tidak membutuhkan generasi baru dalam hidup. Normalnya, bagaimana mungkin kami peduli pada lingkungan jika lingkungan mengusik mimpi kecil kami. Bagaimana mungkin kami menghormati orangtua yang hampir tiap detik mengawasi dan mencari kesempatan untuk membelah keceriaan di setiap sore. Mengintip dengan parang di tangannya lalu membelah bola yang baru kami beli, bola sepak yang kala itu adalah impian hidup bagi generasi yang baru tumbuh.

Lagi lagi nilai yang ingin mereka ajarkan.

Saya heran bagaimana mungkin orang orang terpelajar masih berkelakuan demikian, menggunakan metode lama untuk anak anak yang hidup dalam labirin perkembangan zaman. Entah untuk edukasi atau hanya eksistensi, yang pasti itu semua adalah nilai yang sampi kini masih melekat kuat dalam ingatan kami. Saya kecewa pada mereka, orang orang tua yang kehilangan wibawa.

Saya kecewa hingga kata kata ini datang perlahan

“ilmu hidup itu ada yang datangnya dari orang orang yang lebih dulu hidup, lalu diwariskan dalam kehidupan untuk generasi generasi yang akan terus hidup, itulah fase yang mengajarkan hakikat kehidupan. Karena hidup bukan sekedar mencuri nafas dari alam, tapi sebuah seni tentang tua dan muda, tentang pentingnya di akui, pentingnya disadari keberadannya. Ketika kita mengkritik orang lain lalu memperbaikinya, sesungguhnya hidup kita baru saja dimulai”

Ternyata sejak 20 tahun lalu, hari ini hidup saya baru saja dimulai. Bukan untuk memperbaiki orang lain apalagi merendahkannya, tetapi untuk memperbaiki diri saya. Karena hakikat hidup adalah perbaikan yang istiqomah.

Metode tua itu adalah ilmu hidup, suka tidak suka, butuh tidak butuh, suatu saat saya mungkin menyukainya juga membutuhkannya. karena saya semakin menua.

apakah anda begitu?

apapun, semuanya terserah anda


23 September 2011 06.15 AM

No comments:

Post a Comment