Penonton (Seolah) Lebih Hebat

copas dari milis

Teng… ronde satu pun dimulai. Ia maju selangkah mendekati lawannya, matanya tak berkedip mengamati gerak-gerik tubuh di hadapannya. Ia tahu persis, sang lawan pun tengah mengintai saat-saat lengahnya, karena tak sedetik pun ia membiarkan dirinya tak konsentrasi. Ini baru menit awal ia memulai pertandingan tinju profesional pertamanya. Di detik pertama pula ia sudah merasakan beratnya pertandingan.

Naik ke atas ring dengan keyakinan penuh bahwa ia akan merobohkan lawannya di ronde-ronde awal. Namun tak diduga, lawannya jauh lebih tangguh dari yang dibayangkannya. Beberapa pukulan sudah dilepaskannya, jab, uppercut, hook kiri dan kanan. Berkali-kali pukulannya berhasil mendarat di sasaran, tetapi wajah lawan belum menampakkan tanda-tanda bekas pukulan. “Wajahnya seperti baja” gumamnya.

Sang lawan memang sesekali menyeringai, mulanya ia menduga tubuh kekar yang tengah dihadapinya itu mulai kesakitan. Namun ternyata ia salah, sebab seringainya bukanlah pertanda kesakitan, melainkan seringai kemarahan dan tantangan agar ia terus melancarkan pukulan-pukulan terbaiknya. “Tak sedikitpun ia merasa kesakitan, padahal saya sudah sangat lelah” ujar petinju muda itu kepada pelatihnya sambil nafasnya tersengal.

Enam ronde sudah berlangsung, mungkin sudah ratusan kali ia meninju lawannya. Selama enam ronde itu pula, jumlah pukulan yang nyaris sama mendarat pula di wajahnya. Beberapa pukulan sang lawan bahkan sempat membuatnya terhuyung. Ia tetap berusaha menjaga keseimbangan, tekadnya untuk memenangkan pertandingan yang membuatnya terus bertahan.

Sampai ronde ke delapan, tenaganya mulai terkuras habis. Nafasnya tersisa setengah-setengah saja sambil menahan gempuran sang lawan. Di setiap detik matanya tak berkedip mengamati setiap inci peluang yang terbuka, begitu ada kesempatan tangannya pun melayangkan pukulan terkuat di sisa-sisa tenaganya. Sekali masuk ke wajah lawannya, dua tiga kali tepat mendarat di sasaran, usahanya mulai menampakkan hasil. Tapi disaat keberhasilannya di puncak, lawannya terselamatkan oleh bel tanda berakhirnya ronde ke delapan.

Ia nyaris berhasil di ronde ke delapan, tapi ia tak boleh putus asa. Ronde ke sembilan pun segera dimulai dengan merancang strategi baru. Satu hal yang pasti, kemenangan sudah di depan mata, namun ia sendiri pun tidak boleh lengah sebab kondisi dirinya pun sangat mungkin dijatuhkan lawan.

Benar saja! Belum lima detik bel berbunyi, sebuah pukulan keras mendarat telak di wajahnya. Petinju muda ini pun tersungkur mencium kanvas ring. Ia mencoba bangkit dalam hitungan wasit pertandingan, sementara lawannya menunggu dengan beringas siap menghantamkan kembali tinjunya. Pada hitungan ke tujuh ia pun bangkit, walau kakinya sedikit gemetar. Ditariknya nafas panjang sambil membenahi mentalnya, mengatur irama jantungnya, dan meneguhkan pijakannya. Begitu mulai stabil ia pun melanjutkan pertandingan.

Hati-hati, inilah yang ada di benaknya sekarang. Sebab, sekali lagi ia kecolongan habislah riwayatnya. Konsentrasi penuh dibangun kembali sambil melihat kesempatan untuk memukul lawannya. Ia berputar-putar mengelilingi lawannya, sesekali maju selangkah, kemudian mundur lagi, sekadar mengisaratkan kepada sang lawan bahwa ia masih sangat tangguh.

Selama beberapa menit, ia sengaja menyimpan tenaganya. Tak satupun pukulan ia lepaskan, tak ingin juga ia memukul angin membuang sia-sia tenaganya. Kakinya terus menari mengitari lawannya, begitu sedikit celah terbuka, maka segenap tenaga yang sejak tadi dikumpulkannya melayang bersama kepalan tangannya…

Rencana yang matang dengan melakukan perhitungan yang tepat, memanfaatkan waktu yang tepat pula, pukulan terbaik pun dilepaskan. Sang lawan pun roboh seketika dan tak menunjukkan gelagat berdiri kembali. Usai hitungan ke sepuluh, wasit pun mengangkat tangan pemenang dalam pertandingan itu. Tak peduli wajah yang sobek berdarah, tubuh bermandikan peluh, ia pun melompat sejadinya di atas ring.

***

Sang juara, adalah yang berjibaku dalam pertandingan, yang berdarah-darah di atas ring, yang berkali-kali jatuh kemudian bangkit kembali, yang tak pernah berhenti berusaha menjatuhkan lawannya, tak peduli ratusan kali ia berusaha dan terus berusaha. Bagi sang juara, sepersekian detik waktu adalah kemenangan.

Sang pecundang, adalah yang berhenti berusaha meski baru sekali mengalami kegagalan, yang tak mau bangkit sesudah jatuh terpuruk, merasa dirinya tak memiliki kemampuan lagi, tak berupaya mencari berbagai cara dan strategi untuk menang.

Selain kedua pemain di atas, ada juga penonton pertandingan. Yang hanya bisa berteriak menyemangati orang bertanding, tetapi mereka sendiri tak berani naik ke atas ring. Mereka yang selalu terlihat lebih pandai dalam berkomentar, mencoba mengajari orang lain, namun ia tak pernah sekalipun bertanding. Sebagian mereka bahkan mencoba mengambil keuntungan dari arena pertandingan. Sungguh, mereka tak lebih baik dari si pecundang sekalipun.

Anda, pemenang, pecundang atau penonton?

No comments:

Post a Comment